Connect with us

Toleransi dan Intoleransi

Artikel

Toleransi dan Intoleransi

Pihak intoleran kerap menyerang pegiat toleransi yang mengkritik pihak intoleran. Menurut pihak intoleran, jika pegiat toleransi sungguh-sungguh toleran, maka dia harus mentolerir pihak yang tidak toleran sekali pun. Sekiranya pegiat toleransi tidak toleran pada pihak intoleran, maka pegiat toleransi itu dinilai tidak konsisten dengan toleransinya.

Argumen serupa juga diajukan oleh pihak anti keragaman dan anti demokrasi. Mereka menyatakan bahwa demokrasi mengandaikan keragaman. Maka, orang yang berpedoman pada demokrasi harus menerima orang yang menolak demokrasi, karena penolakan itu merupakan manifestasi dari keragaman yang diandaikan oleh demokrasi.

Apakah pegiat toleransi dan demokrasi yang mendorong hidup bersama dalam keragaman harus mentolerir pihak yang anti demokrasi, pluralitas dan toleransi, demi konsistensi pahamnya?

Dilema

Pertanyaan di atas menimbulkan dilema. Jika dijawab ‘tidak’, maka pegiat toleransi, demokrasi dan pluralitas akan terjerambat dalam inkonsistensi. Jika dijawab ‘ya’, maka intoleransi harus dibiarkan merajalela. Dengan begitu, kondisi demokratis di masyarakat plural yang seharusnya penuh toleransi ini dibajak oleh orang-orang yang sejatinya anti demokrasi, pluralitas dan toleransi.

Supaya keluar dari dilema di atas, dan menyelamatkan demokrasi, toleransi, pluralitas dari bajakan pihak yang tidak menyukainya, maka para pegiat demokrasi dan toleransi di ranah pluralitas harus dapat menjawab pertanyaan di atas dan membalik argumen pihak intoleran tersebut.

Salah satu cara untuk mendebat pihak intoleran dan menguatkankan perjuangan toleransi adalah menyadari dan mengampanyekan sisi positif dan sisi negatif masing-masing dari toleransi dan intoleransi.

Positif dan Negatif dalam Toleransi dan Intoleransi

Toleransi yang positif adalah toleransi kepada  keragaman yang toleran, sedangkan toleransi yang negatif adalah toleransi kepada intoleransi. Intoleransi yang positif adalah intoleransi kepada sikap intoleran, sedangkan intoleransi yang negatif adalah intoleransi kepada keragaman.

Membiarkan tiap pemeluk agama menjalankan ajaran agamanya adalah contoh sikap toleran yang positif, sedangkan contoh sikap toleran yang negatif antara lain membiarkan penyegel rumah ibadah pemeluk agama lain bertindak semaunya.

Salah satu misal intoleransi positif adalah menindak penebar kebencian dan kabar bohong, sementara menghalangi orang meyakini keyakinannya yang tidak berimplikasi buruk pada masyarakat adalah salah satu misal intolerensi negatif.

Jadi, bisa disimpulkan bahwa masing-masing dari toleransi dan intoleransi ada yang layak diterapkan dan ada pula yang harus disingkirkan. Toleransi dan intoleransi yang seharusnya disemaikan adalah toleransi dan intoleransi yang positif. Adapun toleransi dan intoleransi yang tak boleh dilakukan adalah toleransi dan intoleransi negatif.

Toleransi negatif dan intolerasi negatif bukanlah sikap toleran, karena merupakan pembiaran terhadap perkembangan intoleransi yang meresahkan, dan pengekangan terhadap keragaman yang damai.

Sebaliknya, sikap yang sungguh-sungguh toleran justru toleransi positif dan intoleransi positif, yang notabene membiarkan keragaman yang damai, dan mencegah bahkan menghukum pihak yang ingin menang sendiri dalam keragaman.

Semoga bumi ini berisi sisi positif toleransi dan intoleransi, serta bersih dari sisi negatif keduanya.

Print Friendly, PDF & Email
Zainul Maarif

Dosen dan Peneliti di bidang Filsafat dan Agama. Alumni Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir ini telah mempublikasikan beberapa buku: "Imam Syafi'i: Ar-Risalah" (2018), "An-Naisaburi: Kitab Kebijaksanaan orang-orang Gila" (2017), "Logika Komunikasi" (2015, 2016), "Ibnu Arabi: Rahasia Asmaul Husna" (2015), "Retorika: Metode Komunikasi Publik" (2014, 2015), "Pos-Oksidentalisme: Identitas dan Alteritas Pos-Kolonial" (2013), "Filsafat Yunani" (2012), "Al-Jauziyah: Surga Yang Dijanjikan" (2011), "Pos-Oksidentalisme: Dekonstruksi atas Oksidentalisme Hassan Hanafi" (2007), "Sosiologi Pemikiran Islam" (2003), "Dekonstruksi Islam: Elaborasi Pemikiran Hassan Hanafi dan Nasr Hamid Abu Zaid" (2003).

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in Artikel

To Top