Connect with us

Menyoal Interpretasi Muslim Keras (1)

Artikel

Menyoal Interpretasi Muslim Keras (1)

Ada sebagian kecil umat Islam yang kerap main hakim sendiri. Dalam melakukan vandalisme seperti sweeping dan persekusi, mereka mengacu pada hadits Nabi: “Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangan. Apabila tidak bisa, dengan lisan. Apabila tidak bisa, dengan hati; dan itu iman terlemah.”

Mereka tak ingin disebut lemah iman, sehingga tergerak menangani sesuatu yang dianggap mungkar acapkali dengan kekerasan. Tindakan mereka itu, dengan begitu, merupakan interpretasi mereka atas hadits itu. Yang jadi persoalan, tepatkah interpretasi mereka itu? Mari kita lacak referensi terkait.

Di literatur mengenai hadits Nabi, hadits rujukan tindakan mereka itu terdapat antara lain di kitab Shahîh Muslim (vol. 1, h. 69) dengan redaksi seperti ini:

Abu Bakar (Ibn Abi Syibah) berkata: “Orang yang pertama memulai khutbah di hari raya sebelum shalat adalah Marwan. Lalu ada lelaki yang berdiri menghadapinya dan berkata ‘Shalat sebelum khutbah!’. Lantas Marwan berkata, ‘Yang dulu telah ditinggalkan’. Abu Said (Al-Khudri) berkata, ‘Ini telah ditentukan, dan aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, ‘Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangan. Jika tidak bisa, maka dengan lisan. Jika tidak bisa juga, maka dengan hati; dan itu iman terlemah’.”

Narasi di atas menunjukkan bahwa hadits itu dipopulerkan oleh Abu Said Al-Khudri yang melihat rakyat berani menegur penguasa yang melakukan bidah. Abu Said Al-Khudri mengutarakan hadits itu sambil mengidentifikasi teguran tersebut sebagai upaya mengubah kemungkaran.

Dari situ tampak bahwa (1) hadits itu dipublikasikan tidak untuk menunjuk pengubahan kemungkaran dengan tangan, melainkan dengan lisan; dan (2) pelaku pengubah kemungkaran dengan lisan pun orang yang berilmu, bukan sembarang orang.

Kesimpulan tersebut tak hanya implisit dalam riwayat hadits di atas, tapi juga selaras dengan pendapat Al-Khazin dan Al-Qurthubi.

Di kitab Lubâb at-Ta`wîl fî Ma`ânî at-Tanzîl (vol. 1, h. 281), Al-Khazin mengatakan: Kata ‘min’ di hadits itu (minkum) menunjukkan ‘sebagian orang’, karena dalam umat Islam terdapat orang yang tidak mampu menyuruh kebaikan dan mencegah keburukan (amar ma`ruf nahi mungkar) karena lemah dan tak mampu.”

Lebih lanjut, Al-Qurtubi di kitab  Al-Jami` li Ahkâm al-Qur’ân (vol. 4, h. 49) menjelaskan: “Amar ma`ruf nahi mungkar dengan tangan adalah tugas para aparat; Amar ma`ruf nahi mungkar dengan lisan adalah tugas ilmuwan; dan Amar ma`ruf nahi mungkar dengan hati adalah tugas orang-orang lemah, yaitu orang-orang awam”.

Pernyataan Al-Khazin dan Al-Qurthubi itu menunjukkan tidak semua orang berhak menindak  kemungkaran dengan tangan. Hanya petugas penjaga keamanan dan ketertiban yang berhak menindak kemungkaran dengan tangan berdasarkan ketentuan yang berlaku.

Agamawan tidak berhak untuk bertindak layaknya polisi dalam mengatasi suatu kemungkaran. Sebagaimana ilmuwan dan penulis, tokoh agama hanya berhak menegur pelaku keburukan dengan kata-kata. Artinya, penindakan kemungkaran dengan lisan hanya dibebankan pada tokoh yang kata-katanya berpengaruh.

Adapun orang biasa, yang bukan pembicara/penulis dan bukan aparat, cukup menyayangkan terjadinya kemungkaran dengan hatinya saja; bila perlu berdoa untuk perubahannya. Dengan kata lain, hadits tersebut terkait dengan division of labor (pembagian tugas)(bersambung ke bagian kedua)

Print Friendly, PDF & Email
Zainul Maarif

Dosen dan Peneliti di bidang Filsafat dan Agama. Alumni Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir ini telah mempublikasikan beberapa buku: "Imam Syafi'i: Ar-Risalah" (2018), "An-Naisaburi: Kitab Kebijaksanaan orang-orang Gila" (2017), "Logika Komunikasi" (2015, 2016), "Ibnu Arabi: Rahasia Asmaul Husna" (2015), "Retorika: Metode Komunikasi Publik" (2014, 2015), "Pos-Oksidentalisme: Identitas dan Alteritas Pos-Kolonial" (2013), "Filsafat Yunani" (2012), "Al-Jauziyah: Surga Yang Dijanjikan" (2011), "Pos-Oksidentalisme: Dekonstruksi atas Oksidentalisme Hassan Hanafi" (2007), "Sosiologi Pemikiran Islam" (2003), "Dekonstruksi Islam: Elaborasi Pemikiran Hassan Hanafi dan Nasr Hamid Abu Zaid" (2003).

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in Artikel

To Top