Connect with us

Menyoal Interpretasi Muslim Keras (2)

Artikel

Menyoal Interpretasi Muslim Keras (2)

Dalam penindakan kemungkaran, masing-masing pihak, menurut Al-Qurthubi, memiliki tugas sesuai kapasitas. Tak sembarang orang bertindak sebagai polisi, dan tak sembarang orang berposisi sebagai penceramah.

Hanya aparat keamanan yang boleh menindak kemungkaran dengan tangan sesuai dengan aturan hukum dan hak asasi manusia (HAM). Hanya orang berilmu dan berpengaruh yang boleh menindak kemungkaran dengan perkataan. Sedangkan orang awam cukup menyesalkan kemungkaran yang ada sambil berdoa bagi perubahannya.

Selain itu, mengubah kemungkaran juga harus mempertimbangkan kemaslahatan dan kemudaratan. Di buku Abu Hassan Al-Asy`ari yang berjudul Risâlah ilâ Ahli ats-Tsaghar bi Bab al-Abwâb (vol. 1, hlm. 168) disebutkan:

Ahlussunnah sesuai dengan teks (hadits) di atas. Perjalanan hidup mereka merupakan bukti terbesar amar ma’ruf nahi munkar (seruan kebaikan dan penolakan keburukan). Hanya saja, mereka menyaratkan bahwa dalam menyeru kebaikan dan menolak keburukan, kemaslahatan diunggulkan daripada kemudaratan. Jika akibat dari ajakan dan cegahan itu justru kemudaratan yang lebih besar daripada kemaslahatan, maka hal itu bukan sesuatu yang diperintahkan oleh Allah.

Pelaksanaan amar ma`ruf nahi munkar, dengan begitu, terkait dengan prinsip-prinsip jurisprudensi Islam (qâidah ushûl fiqh). Salah satunya prinsip “adl-dlararu lâ yuzâlu bi adl-dlarar”: keburukan tidak boleh dihapus dengan keburukan. Sebab, bila keburukan dibasmi dengan keburukan, maka hanya terjadi pergantian dari satu keburukan menuju keburukan lain. Padahal, ada prinsip “adl-dlararu yuzâlu”: keburukan harus dihapus.

Tapi, sekali lagi, penghapusan keburukan tak boleh dilakukan dengan cara buruk. Maksud baik harus diselenggarakan dengan cara baik, supaya hasilnya baik. Sekiranya maksud baik diejawantahkan dengan cara buruk, maka hasilnya akan buruk.

Lebih dari itu, penerapan nahî mungkar juga perlu mengingat konsep division of labor (pembagian tugas) ala Al-Qurthubi di atas. Sebelum mencegah keburukan, kita perlu introspeksi. Apakah kita aparat keamanan, pembicara publik/penulis, atau hanya orang awam?

Jika kita aparat keamanan, maka kita berwenang mengubah kemungkaran dengan tangan, tapi harus sesuai koridor hukum dan HAM. Jika kita orang berpengaruh, maka kita layak mengubah kemungkaran dengan kata-kata. Tapi jika kita bukan keduanya, maka kita harus tahu diri sebagai orang biasa yang tak pantas bertindak seolah-olah penceramah, apalagi seakan-akan polisi.[]

(Untuk membaca bagian pertama artikel ini, klik!”)

 

Print Friendly, PDF & Email
Zainul Maarif

Dosen dan Peneliti di bidang Filsafat dan Agama. Alumni Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir ini telah mempublikasikan beberapa buku: "Imam Syafi'i: Ar-Risalah" (2018), "An-Naisaburi: Kitab Kebijaksanaan orang-orang Gila" (2017), "Logika Komunikasi" (2015, 2016), "Ibnu Arabi: Rahasia Asmaul Husna" (2015), "Retorika: Metode Komunikasi Publik" (2014, 2015), "Pos-Oksidentalisme: Identitas dan Alteritas Pos-Kolonial" (2013), "Filsafat Yunani" (2012), "Al-Jauziyah: Surga Yang Dijanjikan" (2011), "Pos-Oksidentalisme: Dekonstruksi atas Oksidentalisme Hassan Hanafi" (2007), "Sosiologi Pemikiran Islam" (2003), "Dekonstruksi Islam: Elaborasi Pemikiran Hassan Hanafi dan Nasr Hamid Abu Zaid" (2003).

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in Artikel

To Top