Connect with us

Dakwah dan Ilmu

Artikel

Dakwah dan Ilmu

“Ballighû `annî walau âyah!Sampaikanlah kepadaku walaupun hanya satu ayat! Demikianlah kredo yang dipegang oleh orang-orang yang “mendadak dai”.

Berdasarkan hadits itu, ada artis/selebritis/entertainer yang tiba-tiba berceramah di depan publik, bahkan di televisi, dan disebut sebagai ustadz/ustadzah. Kita juga menemukan beberapa orang yang sejatinya awam tapi gemar menggurui soal keagamaan di media sosial lantaran semata-mata ingin “menyampaikan satu ayat”. Salahkah prilaku mereka?

Tidak! Tindakan mereka untuk “saling nasehat-menasehati dalam kebenaran dan kesabaran” itu benar, sesuai anjuran Al-Quran di Surat Al-Ashr ayat tiga: “wa tawâshaw bi al-haqqi wa tawashaw bi ash-shabr”.

Namun, kita harus  menginsyafi peringatan Al-Quran, Surat Al-Isra’, ayat 36: “Wa lâ taqfu mâ laisa laka bihi `ilm. Inna as-sam`a wa al-bashara wa al-fuâda kullu ulâika kâna `anhu masûla”.  Allah mewanti-wanti “Janganlah mengikuti perkara yang tak kau ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan suara hati akan dimintai pertanggungjawaban”.

Mengikuti sesuatu yang tidak diketahui saja dilarang, apalagi mengajak ke arahnya. Tentu orang yang tidak tahu tidak mungkin dapat memberi tahu orang lain yang tidak tahu. Mewartakan sesuatu tanpa ilmu, dengan begitu, merupakan tindakan terlarang, dan akan dituntut pertanggungjawaban. Lantas bagaimana dengan orang-orang yang gemar berdakwah tapi minim ilmu?

Belajar agama secara mendalam! Itulah solusi bagi orang awam yang ingin berbicara tentang agama. Meski internet merupakan gudang ilmu, seharusnya guru kita bukan sekadar Google dan teman-temannya. Sebab, belajar agama yang benar memerlukan guru yang benar, materi pelajaran yang benar dan lingkungan yang benar. Jika satu dari unsur-unsur itu keliru, pemahaman agama yang muncul pun kemungkinan besar keliru; terlebih kalau sang pelajar benar-benar awam.

Al-Quran menyatakan “falau lâ nafara min kulli firqatin minhum thâifatun li yatafaqqahû fi ad-dîn wa liyundzirû qaumahum idzâ raja`û ilahihim la`allahum yahdzarûn. (QS. At-Taubah: 122) Allah bertanya sambil mendorong “Mengapa tidak ada orang yang pergi dari setiap golongan dari mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaum mereka, apabila mereka telah kembali kepada mereka, supaya mereka berhati-hati?”

Orang yang bersemangat menyampaikan persoalan keagamaan kepada masyarakat, dengan kata lain, harus melakukan syarat utamanya, yaitu memperdalam ilmu agama terlebih dahulu (tafaqquh fî ad-dîn). Dia, seperti disingung di atas, perlu berguru kepada guru agama yang tepat, belajar di tempat pembelajaran agama yang tepat, membaca materi pelajaran agama yang tepat, dan bergaul di lingkungan keagamaan yang tepat. Tak cukup baginya hanya bermodal hasil selancar di dunia maya untuk mewartakan aspek-aspek keislaman ke ranah publik.

Tak cukup pula baginya hanya berprinsip “sampaikanlah kepadaku walaupun satu ayat”. Sebab, ayat Al-Quran, secara khusus, dan hal ihwal keislaman, secara umum, memiliki beragam dimensi pemahaman (dzât al-wujûh). Mendalami ilmu agama merupakan syarat untuk memahami berbagai lapisan itu, lalu mempublikasikannya.

Jadi, belajar agamalah secara mendalam sebelum berdakwah! Sebab, ucapanmu dan tulisanmu harus dilandasi ilmu, dan dimintai pertanggungjawaban.[]

Print Friendly, PDF & Email
Zainul Maarif

Dosen dan Peneliti di bidang Filsafat dan Agama. Alumni Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir ini telah mempublikasikan beberapa buku: "Imam Syafi'i: Ar-Risalah" (2018), "An-Naisaburi: Kitab Kebijaksanaan orang-orang Gila" (2017), "Logika Komunikasi" (2015, 2016), "Ibnu Arabi: Rahasia Asmaul Husna" (2015), "Retorika: Metode Komunikasi Publik" (2014, 2015), "Pos-Oksidentalisme: Identitas dan Alteritas Pos-Kolonial" (2013), "Filsafat Yunani" (2012), "Al-Jauziyah: Surga Yang Dijanjikan" (2011), "Pos-Oksidentalisme: Dekonstruksi atas Oksidentalisme Hassan Hanafi" (2007), "Sosiologi Pemikiran Islam" (2003), "Dekonstruksi Islam: Elaborasi Pemikiran Hassan Hanafi dan Nasr Hamid Abu Zaid" (2003).

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in Artikel

To Top