Connect with us

Mengkritisi Slogan “Kembali Pada Qur’an & Sunnah”

Artikel

Mengkritisi Slogan “Kembali Pada Qur’an & Sunnah”

“Ayatnya ada, hadisnya ada, kenapa tak kembali pada Al-Qur’an dan Sunnah saja?” Pernyataan itu kian sering kita baca atau dengar dari beberapa ustadz. Kepada awam, mereka berseru, “buka saja Al-Qur’an, baca itu hadis. Sudah jelas di sana!”

Tepatkah bimbingan tersebut?

Umat Islam justru akan benar-benar punya masalah sangat besar jika hanya berdiri di atas slogan “kembali pada Al-Qur’an dan Sunnah”. Tentu, yang pertama dan utama dalam Islam memang Al-Quran dan Sunnah. Itu adalah amanat Nabi dalam salah satu hadisnya yang sangat populer, yakni Hadis Tsaqalain, di mana Nabi mewariskan dua pusaka pada umatnya berupa Al-Qur’an dan Sunnah. Tapi, menjadi masalah besar ketika hanya keduanya. Sebab, secara filosofis, keduanya itu berada di koridor “apa”. Apa yang harus kita pegang sebagai umat Islam? Jawabannya tentu adalah Al-Quran dan Sunnah. Segala ijtihad, fatwa, pendapat, pandangan atau apapun namanya yang datang dari siapa saja (sahabat Nabi, tabi’in, imam mazhab, ulama, dll), namun bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah, maka ia gugur. Imam Ahmad bin Hanbal dalam salah satu nasihatnya berkata, “Janganlah ikuti aku dan jangan pula ikuti (Imam) Malik, Awza’i, Abu Hanifah, dan lain-lainnya. Tentukan hukum dari sumber yang mereka gunakan, yaitu Al-Qur’an dan Sunnah.” Namun, pertanyaannya belum selesai, masih harus dilanjutkan dengan “bagaimana”. Yakni, bagaimana kita kembali pada Al-Qur’an dan Sunnah? Itulah sebenarnya inti permalahannya.

Dalam koridor “bagaimana” itulah perbedaan hingga pertengkaran di antara sesama ulama atau kelompok Islam terjadi. Berpegang pada ayat atau hadis yang sama, namun menghasilkan pendapat atau fatwa yang berbeda. Bahkan, tak jarang dalam sejarah umat Islam, hingga kini bahkan, dua ulama atau kelompok Islam saling mengafirkan lantaran beda tafsir atas ayat atau hadis yang sama. ISIS sekalipun dalam mengkafirkan, membunuh, mengebom, dan memporak-porandakan masyarakat dengan berpegang pada Al-Qur’an dan Sunnah sebagaimana mereka pahami.

Salah satu contoh, kita sepakat menjawab pertanyaan tentang apa model pemerintahan terbaik? Yakni pemerintahan ala Nabi. Namun, bagaimana konsep pemerintahan ala Nabi? Masing-masing ulama punya tafsirnya: dari yang getol tak mau tahu pokoknya harus “khilafah”, tanpa peduli bahwa kontek zaman Nabi dan saat ini berbeda, serta ada pula yang menilai “Pancasila” adalah pemerintahan yang sejalan dengan nilai-nilai Islam yang diteladankan Nabi.

Masalahnya semakin runyam ketika yang dimaksud Al-Qur’an dan Sunnah adalah sebagaimana huruf-hurufnya, yakni dipahami secara harfiah (leksikal), tanpa mempertimbangkan konteks. Padahal, Al-Qur’an dan Sunnah itu sendiri turun dan muncul dengan asbab (sebab-sebab) yang terkait dengan konteks turun dan keluarnya. Sehingga, ketika ia mau diadopsi dan diterapkan saat ini, maka kita harus menggali substansinya dan mengadaptasikannya dengan konteks kekinian dan ke-di sini-an.

Maka, Al-Qur’an sendiri sebenarnya telah memberikan panduannya tentang bagaimana kita kembali padanya (dan kepada Sunnah juga tentunya). Mula-mula dengan tegas Al-Qur’an mengatakan bahwa ayat-ayatnya itu hanya untuk orang-orang yang berilmu: “Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui.” (QS. Fusshilat: 3) Selanjutnya, sebagai panduan, dalam QS. Al-Ankabut: 49, Allah firmankan: “Sebenarnya, (Al Quran) itu adalah ayat-ayat yang jelas di dalam dada orang-orang yang berilmu …” Kata kuncinya adalah “ilmu”. Kata Ibnu Rusyd, filosof Islam tersohor, “Wahyu hanya bisa  ditafsirkan dengan studi…”. Artinya, untuk kembali pada Al-Qur’an dan Sunnah itu butuh ilmu.

Oleh karena itu, para ulama menggali berbagai ilmu terkait Al-Qur’an dan Sunnah untuk kemudian kembali pada keduanya: dari ilmu bahasa Arab, sejarah, dll. Secara spesifik, untuk Al-Qur’an kemudian dibangun yang namanya “ilmu tafsir”, sedangkan untuk hadis dibangun ilmunya sendiri yang disebut “ilmu hadis”. Kedua ilmu Islam itu ‘pun tak diberdirikan sendiri, namun masih harus diramu dengan ilmu-ilmu agama lainnya seperti ushul fikih, kalam (teologi), dll. Bahkan tak terbatas pada ilmu agama, karena Al-Qur’an ‘pun berbicara tentang alam dan manusia (masyarakat). Sehingga juga disandingkan dengan ilmu-ilmu umum seperti antropologi, sosiologi, sains (ilmu alam), kedokteran, dll.

Ibnu Rusyd dalam karyanya berjudul Fasl al-Maqal Wa Taqrir Ma Baina Al-Syariah Wa Al-Hikmah Min Al-Ittisal (Makalah Penentu Tentang Hubungan Antara Syariah dengan Filsafat) menegaskan  bahwa tak ada pertentangan antara wahyu dan akal, antara agama dan ilmu. Oleh karena itu, menurutnya pemikiran kritis adalah syarat untuk menafsirkan Al-Qur’an. Ibnu Rusyd mengurai dengan kisah bahwa ada seorang pemalas yang bodoh yang baru belajar dua ayat Al-Quran, dan kemudian merasa dirinya pemegang Kebenaran Ilahi. Apakah dia seorang yang saleh? Jika kita percaya pada orang yang menilai dirinya sebagai wakil Tuhan di muka bumi itu, kita berarti mengabaikan ayat-Nya: “Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan” (QS. Lukman: 6). Sedangkan pemahaman yang hakiki terhadap ayat dan hadis membutuhkan refleksi, riset, dan kerja keras yang panjang.

Di sisi yang berseberangan, Ibnu Rusyd menyindir: “Jika ingin menguasai orang bodoh, bungkus kebatilan dengan agama.” Sebab, tanpa ilmu, agama (ayat maupun hadis) bisa dijadikan dogma untuk mengelabui, menyesatkan, dan menundukkan orang-orang bodoh. Tak percaya? Tengoklah ISIS, contoh yang paling nyata saat ini.

“Ilmu” juga akan menjadi pembeda bagi siapa saja dalam menyikapi perbedaan pendapat. Begitulah memang karakteristik ilmu sebagaimana dijelaskan Al-Qur’an, misalnya dalam QS. Az-Zumar: 9, yakni: “Katakanlah, “Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sebenarnya hanya orang yang berakal sehat yang dapat menerima pelajaran.” Orang-orang bodoh akan alergi pada perbedaan. Mereka akan menuduh, memvonis, mengkafirkan, bahkan membunuh seseorang atau sekelompok yang berbeda dengannya. Namun, orang yang berilmu, sebagaimana kata Imam Sayuthi, bahwa perbedaan mazhab di kalangan umat Islam adalah nikmat besar dan anugerah yang agung. Di dalamnya tersembunyi rahasia mulia yang diketahui oleh orang-orang yang mengerti dan tidak disadari oleh orang-orang yang bodoh.

Orang-orang yang berilmu, sedemikian canggihnya tafsirnya atas ayat dan hadis, mereka selalu terbuka pada perbedaan, mengapresiasinya, dan bersikap rendah hati. Sedemikian tinggi apresiasi ini, sehingga beberapa ulama semisal Ibn Hajar al-Haitami hingga berucap, “Mazhab kami benar, tetapi mengandung kekeliruan. Dan mazhab selain kami keliru, tetapi mengandung kebenaran.” Dalam contoh lain, Imam Abu Hanifah berkata, “Ucapan kami ini hanyalah pendapat. Inilah yang terbaik yang dapat kami capai. Jika ada orang yang datang dengan pendapat yang lebih baik dari pada kami, ia adalah yang paling dekat dengan kebenaran ketimbang kami.”

Print Friendly, PDF & Email
Continue Reading
You may also like...
Husein Ja'far Al Hadar

Sarjana, Peneliti, dan Penulis Keislaman.

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in Artikel

To Top