Connect with us

Keteladanan Imam Syafi’i Di Tengah Perbedaan Pendapat

Ensiklopedi

Keteladanan Imam Syafi’i Di Tengah Perbedaan Pendapat

Selain kalam (teologi), fikih adalah aspek dalam Islam yang paling sesak akan perbedaan. Dalam internal Sunni saja, ada setidaknya empat mazhab fikih besar: Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali. Masing-masing ulama di tiap mazhab itu juga dipenuhi perbedaan pendapat. Belum lagi mazhab-mazhab lain di luar Sunni. Jumlahnya bisa puluhan atau bahkan ratusan.

Di samping itu, perbedaan tersebut telah terjadi sejak dasar, yakni dalam ushul fikih, dan juga sangat detail, menyangkut hal-hal terkecil sekalipun dalam fikih. Masing-masing imam mazhab misalnya, berbeda pendapat mengenai hukum WC menghadap atau membelakangi kiblat. Imam Abu Hanifah menghukuminya haram mutlak dan imam mazhab lainnya tidak.

Namun, di tengah perbedaan itu, mereka tercatat tetap saling menghargai. Bahkan, terhadap pendapatnya sendiri, mereka sangat rendah hati. Adapun terhadap pendapat lain, mereka bergitu mengapresiasi. Imam Abu Hanifah pernah berkata, “Ucapan kami ini hanyalah pendapat. Inilah yang terbaik yang dapat kami capai. Jika ada orang yang datang dengan pendapat yang lebih baik dari pada kami, ia adalah yang paling dekat dengan kebenaran ketimbang kami.”

Salah satu keteladanan sikap dan nasehat imam mazhab di tengah perbedaan, kita dapati dari Imam Syafi’i. Alkisah, Yunus bin Abdi pernah berselisih pendapat dengan gurunya, Imam Syafi’i ssaat keduanya sedang menjalankan proses belajar-mengajar di masjid. Kejadian itu membuat Yunus marah dan bangkit meninggalkan majelis.

Saat malam, tak seperti biasanya, Yunus mendengar pintu rumahnya diketuk oleh seseorang. Ia bertanya: “Siapa di pintu?” Orang itu menjawab: “Muhammad bin Idris.” Seketika Yunus berusaha untuk mengingat semua orang yang ia kenal dengan nama itu, hingga ia yakin tidak ada siapapun yang bernama Muhammad bin Idris yang ia kenal kecuali Imam Syafi’i. Dan, saat ia membuka pintu, ia sangat terkejut dengan kedatangan gurunya itu. Ternyata, Sang Guru itu dengan penuh kerendahan hati justru mendatangi Sang Murid untuk memadamkan kemarahan Sang Murid dan memberinya nasehat seputar bagaimana seharusnya menyikapi perbedaan pendapat.

Imam Syafi’i berkata:

 

Wahai Yunus, selama ini kita disatukan dalam ratusan masalah, apakah karena satu masalah saja kita harus berpisah?

 

Janganlah engkau berusaha untuk menjadi pemenang dalam setiap perbedaan pendapat. Sebab, terkadang meraih hati orang lain itu lebih utama daripada meraih kemenangan atasnya.

 

Jangan pula engkau hancurkan jembatan yang telah kau bangun dan kau lewati di atasnya berulang kali. Karena boleh jadi kelak engkau akan membutuhkannya kembali.

 

Berusahalah dalam hidup ini agar engkau selalu membenci perilaku orang yang salah, tetapi jangan pernah engkau membenci orang yang melakukan kesalahan itu. Engkau harus marah saat melihat kemaksiatan, tapi berlapang dadalah atas para pelaku kemaksiatan.

 

Engkau boleh mengkritik pendapat yang berbeda, namun tetap menghormati terhadap orang yang berbeda pendapat. Karena tugas kita dalam kehidupan ini adalah menghilangkan penyakit dan bukan membunuh orang yang sakit.

 

Maka apabila ada orang yang datang meminta maaf kepadamu, segeralah maafkan dia. Apabila ada orang yang tertimpa kesedihan, maka dengarkanlah keluhannya. Apabila datang orang yang membutuhkan, maka penuhilah kebutuhannya sesuai dengan apa yang Allah berikan kepadamu. Apabila datang orang yang menasehatimu, maka berterimakasihlah atas nasehat yang ia sampaikan kepadamu.

 

Bahkan seandainya satu hari nanti engkau hanya menuai duri, tetaplah engkau untuk senantiasa menanam bunga mawar. Karena sesungguhnya balasan yang dijanjikan oleh Allah Yang Maha Pengasih dan Dermawan jauh lebih baik dari balasan apapun yang mampu diberikan oleh manusia.

 

Lihatlah bagaimana kerendahan dan kebesaran hati Sang Imam menyikapi perbedaan pendapat. Dan akhirnya, yang menjadi pertanyaan sekaligus renungan bersama bagi kita, jika mereka saja tetap saling cinta dan memuji di tengah perbedaan, kenapa sebagian kita malah saling benci dan mencaci di tengah perbedaan? Padahal kita adalah pengikut dan mereka adalah yang kita ikuti.

Print Friendly, PDF & Email
Continue Reading
Husein Ja'far Al Hadar

Sarjana, Peneliti, dan Penulis Keislaman.

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in Ensiklopedi

To Top