Connect with us

Khalifah: Dari Reduksi Ke Arti Hakiki

Ensiklopedi

Khalifah: Dari Reduksi Ke Arti Hakiki

Konsep “khalifah” sedikitnya mengalami dua kali reduksi maknawi: yang pertama bermanifestasi sejak 8 Juni 632 hingga 28 Januari 661, dan yang kedua mengejawantah mulai tahun 661 M. sampai 1 November 1922.

Perwujudan pemangkasan arti “khilafah” yang pertama terjadi setelah Nabi Muhammad saw. meninggal dunia sampai wafatnya sepupu dan menantu Nabi, yang bernama Ali ibn Abi Thalib. Sepanjang 29 tahun itu, “khalifah” menandai pengganti Nabi Muhammad saw. dalam memimpin pemerintahan umat Islam.

Ada empat “khalifah” yang muncul di masa itu secara bergiliran, yaitu Abu Bakar, Umar ibn Khathab, Utsman ibn Affan kemudian Ali ibn Abi Thalib. Mereka, yang selanjutnya disebut sebagai khulafaurrâsyidîn (para khalifah yang mendapat petunjuk), adalah para sahabat Nabi senior yang dipilih untuk mengelola kehidupan para pengikut Nabi sepeninggalan Nabi.

Sebagai sahabat Nabi yang paling terpandang di masa masing-masing, para “khalifah” tersebut merupakan golongan aristokrat. Mereka termasuk kaum elite yang ditunjuk untuk mengatur persoalan publik. Penunjuk mereka adalah golongan mereka sendiri. Publik tidak punya andil dalam penentuan sang pemimpin. Di ranah pertama itu, tak berlebihan jika dikatakan bahwa “khalifah” tersebut merupakan produk aristokrasi.

Di ranah kedua, “khalifah” adalah produk monarki. Wujud nyata dari “khalifah” ala monarki adalah “khalifah-khalifah” yang muncul sejak Dinasti Umayyah berkuasa hingga Dinasti Turki Utsmani tumbang. Selama 1261 tahun, istilah “khalifah” dimaknai sebagai raja umat Islam yang kekuasaannya dapat diturunkan kepada anak cucu dan keluarganya.

Sementara sang “khalifah” di fase pertama adalah kaum aristokrat yang meritokrat, sang “khalifah” di fase kedua semata-mata anak tertua atau kerabat dekat dari raja sebelumnya. Sang “khalifah” di masa khulafaaurrasyidin adalah anggota golongan elite yang beriman kuat (Abu Bakar Ash-Shiddiq), piawai membedakan yang benar dan yang salah (Umar ibn Khathab Al-Faruq), dermawan dan dipercaya menjadi menantu Nabi (Utsman ibn Affan Dzu Nurain) serta berpengetahuan luas (Ali ibn Abi Thalib Bab al-Ilm). Adapun sang “khalifah” di zaman dinasti-dinasti Islam adalah raja atau keturunan raja yang kelak menghadirkan raja, yang kadang terkenal sebagai pengumbar syahwat.

Meski “khalifah” versi aristokrasi jauh lebih baik daripada “khalifah” versi monarki, keduanya tetap merupakan pemenggalan pengertian “khalifah”, dan bukan makna hakiki “khalifah”. Sebab, term “khalifah” sesungguhnya berasal dari kata “khalafa yakhlifu” yang berarti mengganti. Ketika kata itu menjadi term “khalifah”, maka maknanya adalah “orang yang menggantikan dan menempati posisi pihak lain (lih., Mu`jam ar-Râid). Jadi, secara leksikal, arti hakiki “khalifah” adalah wakil atau representator.

Adapun makna sebenarnya versi Islam dapat dilacak di dalam Al-Quran. Allah swt. berfirman: “innî jâ`ilun fî al-ardli khalîfah”: Aku menetapkan “khalifah” di bumi. (QS. Al-Baqarah: 30). Siapakah yang dimaksud dengan “khalifah” di ayat itu?

Bila kita baca ayat 30 itu hingga ayat 39 dari Surat Al-Baqarah, kita akan mengetahui bahwa “khalifah” tersebut adalah Adam. Di ayat-ayat tersebut, Allah memperhadapkan Adam dengan malaikat dan iblis/setan. Adam bukan spesies, melainkan nama diri yang spesiesnya adalah manusia. Di pihak lain, malaikat dan iblis bukan nama diri, melainkan spesies.

Supaya ekuivalen, entitas-entitas tersebut sepatutnya dibaca sebagai spesies-spesies, sehingga ketika Adam disebut, maka yang dimaksud adalah spesiesnya, yaitu manusia (mengingat ada keyakinan bahwa Adam adalah manusia pertama). Sejauh argumen itu diterima, maka dapat disimpulkan bahwa pihak yang ditunjuk oleh Allah untuk menjadi “khalifah-Nya” di bumi adalah  manusia.

Setiap entitas yang disebut sebagai manusia, atas dasar itu, mendapat tugas yang sama sebagai wakil Tuhan di muka bumi dalam hal pemeliharan dan pengembangan. Manusia mendapat peran itu karena sanggup memantulkan pengetahuan Ilahi tentang semesta (lih., QS. Al-Baqarah: 31-34)

Oleh karena itu, “khalifah” versi Al-Quran bukan sekadar pengganti Nabi (khalîfatunnabi), apalagi pengganti raja yang “seolah-olah” mewakili rakyat, melainkan seluruh manusia yang merepresentasikan Tuhan di muka bumi (khalîfatullâh fî al-ardli) dengan menyerap dan memancarkan ilmu Ilahi ke bumi.

Bukankah dengan demikian arti hakiki “khalifah” lebih dekat dengan demokrasi yang meritokrat? Akankah kita mengajak masyarakat ke arah konsep “khalifah” ala aristokrasi sempit dan ala monarki non-egaliter, yang justru mereduksi arti hakiki “khalifah” itu sendiri?[]

Print Friendly, PDF & Email
Zainul Maarif

Dosen dan Peneliti di bidang Filsafat dan Agama. Alumni Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir ini telah mempublikasikan beberapa buku: "Imam Syafi'i: Ar-Risalah" (2018), "An-Naisaburi: Kitab Kebijaksanaan orang-orang Gila" (2017), "Logika Komunikasi" (2015, 2016), "Ibnu Arabi: Rahasia Asmaul Husna" (2015), "Retorika: Metode Komunikasi Publik" (2014, 2015), "Pos-Oksidentalisme: Identitas dan Alteritas Pos-Kolonial" (2013), "Filsafat Yunani" (2012), "Al-Jauziyah: Surga Yang Dijanjikan" (2011), "Pos-Oksidentalisme: Dekonstruksi atas Oksidentalisme Hassan Hanafi" (2007), "Sosiologi Pemikiran Islam" (2003), "Dekonstruksi Islam: Elaborasi Pemikiran Hassan Hanafi dan Nasr Hamid Abu Zaid" (2003).

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in Ensiklopedi

To Top