Connect with us

6 Alasan Mengapa Kita Wajib Dukung Palestina

SUARA

6 Alasan Mengapa Kita Wajib Dukung Palestina

Pembatasan terhadap aktifitas ibadah atau akses pada rumah ibadah merupakan salah satu kejahatan paling mendasar terhadap hak manusia, dalam hal ini umat beragama. Oleh karena itu dalam Islam misalnya, Allah dalam firman-Nya di QS. Al-Hajj: 40 dan ditegaskan oleh sabda Nabi yang diriwayatkan Imam Ahmad dan At-Thabrani, melarang perusakan tempat ibadah dan menganiaya pendeta atau pemimpin rumah ibadah.

Oleh karena itu, seluruh elemen bangsa ini (tak terkecuali Presiden Jokowi) mengecam pembatasan ibadah yang dilakukan Israel atas umat Islam di Kompleks Masjid Al-Aqsa, Yerusalem (Palestina). Terlebih, dan lebih jauh, Indonesia menjadi salah satu negara yang terus mendukung, mengupayakan, dan tak pernah absen dalam mendorong kemerdekaan Palestina atas penjajahan model baru yang dilakukan oleh Israel.

Secara spesifik, setidaknya ada enam alasan mengapa kita wajib mendukung kemerdekaan Palestina. Yakni pertama, dalam Pembukaan UUD 45, negeri ini menegaskan “bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri-kemanusiaan dan peri-keadilan.” Salah satu janji kemerdekaan kita dalam Pembukaan UUD 1945 adalah “ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.” Palestina adalah satu-satunya negara di dunia yang masih dijajah. Meminjam istilah Mohammad Fadhel Jamali, Ketua Delegasi Irak dalam Konferensi Asia Afrika (KAA) 1955, “Zionisme adalah bab terakhir dari buku kolonialisme…” Maka, kemerdekaan Palestina adalah satu-satunya janji bangsa ini yang belum dilunasi terkait ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan.

Kedua, Palestina adalah negara yang pertama mengakui kemerdekaan Indonesia. Ketika Bung Karno memproklamasikan kemerdekaan RI di Jakarta pada 17 Agustus 1945, dunia belum mengakuinya. H. Agus Salim berupaya menggalang dukungan ke negara-negara di Timur Tengah. Namun, saat itu belum juga mendapat dukungan yang signifikan. Di tengah perjuangan diplomatis melalui pencarian dukungan, Palestina tampil sebagai negara pertama kali yang mengakuinya. Maka, mengupayakan kemerdekaan Palestina adalah bagian dari empati balas budi bangsa ini.

Ketiga, dilaporkan WHO bahwa 10% balita di Gaza terhambat pertumbuhannya karena mengalami gizi buruk tak berkesudahan yang kronis, di mana itu sengaja dibentuk oleh Israel. Dov Weisglass, mantan Kepala Staf untuk Pemerintahan PM Ariel Sharon pernah mengakui bahwa pendekatan yang dilakukan Israel terhadap warga Gaza adalah “bikin orang Palestina itu berdiet, tapi jangan sampai mereka mati kelaparan”. Penjajahan pada anak-anak tak berdosa: lebih dari setengah penduduk Gaza adalah anak-anak di bawah usia 18 tahun. Menurut psikiater kenamaan Palestina Dr. Eyad El Sarraj, satu dari lima anak-anak tersebut menderita PTSD: gangguan emosional yang diantaranya ditandai dengan kecemasan parah akibat dari peristiwa yang menakutkan, serangan fisik, atau perasaan terancam di masa lampau.

Keempat, Israel dan Palestina bukan sedang berperang, tapi Israel sedang melakukan pembantaian pada Palestina. Salah satu data misanya menyebutkan bahwa dalam konflik 2008 saja berjumlah 762 orang di pihak Palestina (300 diantaranya adalah anak-anak) dan hanya 3 korban jiwa di pihak Israel.

Kelima, Palestina sebagai negara telah diakui oleh PBB pada 29 November 2012. Sejak 2015, benderanya berkibar bersama bendera negara-negara lain di Markas Besar PBB. Status ini membuka kesempatan bagi Palestina untuk bergabung di badan-badan PBB, termasuk International Criminal Court (ICC), yang bisa digunakan untuk memperkarakan Israel dalam kasus kejahatan perang.

Keenam, kemerdekaan Palestina didukung oleh bahkan para rabi Yahudi yang menilai tindakan Israel bertentangan dengan agama Yahudi. Sebab, penjajahan memang bertengangan dengan semua ajaran agama. Neturei Karta (secara bahasa berarti “Penjaga Kota”) adalah organisasi tertua yang menentang gerakan dan ideologi Zionisme. Dimulai pada abad ke-18, secara resmi tepatnya pada 1935 sebagai reaksi atas munculnya Zionisme dan rencana pembentukan negara Israel. Pelopornya adalah kelompok Yahudi Ortodoks yang dipimpin oleh Rabbi Yisroel ben Eliezer. Neturei Karta kerap menyebut diri mereka sebagai “Perserikatan Yahudi Penentang Zionis”. Syaikh Yusuf Qardawi pernah menerima kedatangan tamu dari Neturei Karta dan berkomentar bahwa “umat Islam menentang penjajahan dan gerakan Zionisme yang menindas, bukan orang-orang Yahudi”. Salah satu tokoh dan juru bicara Neturei Karta, Rabbi Yisroel Dovid Weiss yang pernah berkunjung ke Indonesia atas undangan mahasiswa Universitas Indonesia pada seminar internasional tentang Palestina menyebut “Zionisme adalah ajaran yang mengkhianati Yudaisme! Zionisme adalah kepercayaan setan”. Di samping Neturei Karta, ada pula International Jewish anti-Zionist Network (IJAN) yang merupakan jaringan internasional orang Yahudi yang berkomitmen untuk memperjuangan kemerdekaan Palestina dari penjajahan Israel.

Merdeka Palestina!

Print Friendly, PDF & Email
Continue Reading
You may also like...
Husein Ja'far Al Hadar

Sarjana, Peneliti, dan Penulis Keislaman.

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in SUARA

To Top