Connect with us

Islam dan Budaya

Ensiklopedi

Islam dan Budaya

Islam diyakini sebagai ajaran Ilahi yang dibawa para nabi. Muhammad ibn Abdillah dipercaya sebagai rasul terakhir pengusung wahyu Tuhan ke hadapan umat manusia. Yang jadi persoalan umat manusia saat Nabi Muhammad saw. hadir dan setelah beliau wafat berkelindan dengan budaya tertentu. Bagaimanakah relasi petunjuk yang dibawa Rasulullah itu dengan budaya yang ada?

Jika yang dimaksud dengan “budaya” dalam pertanyaan itu adalah budaya Arab, maka jawabannya adalah Islam berelasi secara intensif dengan budaya Arab. Pemikir Mesir yang bernama Khalil Abdul Karim mencatat bahwa Umar bin Khathab, khulafaurrasyidin kedua, menyebut Arab sebagai materi Islam.

Islam dan Budaya Arab

Lebih lanjut, Abdul Karim menyebutkan di buku Al-Judzûr at-Tarîkhiyyah li asy-Syarî‘ah al-Islâmiyyah (1997) bahwa, “Arab adalah sumber hukum, kaidah, sistem, dan kebiasaan Islam…. Islam telah mewarisi banyak aspek dari budaya Arab: mulai dari sisi peribadatan, hingga sisi sosial, ekonomi, politik dan hukum.” (Abdul Karim, 1997: 17-18)

Di aspek peribadatan, Islam melanjutkan sambil memodifikasi budaya Arab dalam mengagungkan Ka’bah dan Mekah, melaksanakan haji dan umrah, memuliakan bulan Ramadan, menghormati Nabi Ibrahim dan Ismail, serta berkumpul di hari Jumat. Di ranah sosial-budaya, Islam meneruskan kepercayaan Arab tentang santet dengan memunculkan Surat Al-Falaq, dan membatasi kebiasaan poligami orang Arab dengan keadilan.

Di bidang ekonomi, Islam mengembangkan ketergantungan orang Arab pada ternak dengan melansir surat tentang ternak secara penuh di Al-Quran, yaitu surat Al-An’am. Di sektor hukum, hukum balas (qishash) merupakan hukum yang telah dilaksanakan masyarakat Arab lalu dilegalisasikan Al-Quran, namun dengan frame keadilan yang penuh kasih. Di sudut politik, Islam mewarisi syura dan kekhilafahan dari Arab juga.

Fenomena tersebut memunculkan kesimpulan bahwa Islam ramah pada budaya Arab. Terhadap budaya Arab yang bagus, Islam, di satu sisi, melanjutkannya dengan memberi nilai lebih dan modifikasi sedemikian rupa. Terhadap budaya Arab yang buruk, Islam, di sisi lain, melakukan penjarakan, namun tetap santun dalam mengubahnya secara bertahap, sebagaimana yang terjadi pada kasus konsumsi hal-hal yang memabukkan.

Hospitalitas Islam pada budaya Arab sangatlah wajar. Sebab, Islam muncul di tanah Arab, dibawa oleh orang Arab dan kitab sucinya pun berbahasa Arab. Yang jadi persoalan, apakah dengan demikian Islam harus dikiblatkan seratus persen ke Arab? Apakah Islam bisa akrab dengan budaya non Arab?

Islam dan Budaya Non Arab

Islam memang muncul dari Arab. Namun keyakinan bahwa Islam adalah rahmat bagi semesta alam hingga akhir zaman untuk semua manusia menjadikan Islam menyebar melampaui batas-batas jazirah Arab. Dewasa ini, muslim terdapat di semua benua: dari Asia hingga Afrika, Eropa, Amerika dan Australia.

Setiap tempat dan waktu disemayami budaya tertentu. Ketika Islam hadir ke satu tempat di satu waktu, Islam mau tidak mau berdialog dengan budaya setempat. Akankah Islam disebarkan dengan memaksakan materi Arabnya masuk menggantikan budaya non Arab yang didatanginya ataukah Islam justru didorong untuk bersenyawa dengan budaya setempat secara cair?

Di Nusantara (Indonesia), para penyeru Islam generasi awal lebih memilih opsi kedua daripada opsi pertama. Mereka berusaha mensinergikan Islam dan budaya setempat, agar Islam dapat tersebar dengan baik di sana. Kenyataan itu bisa ditilik pada inovasi Walisongo dalam berdakwah.

Selain sebagai pendakwah, Walisongo adalah seniman. Seperti diunggkap oleh Sudirman Tebba di buku Mengenalkan Wajah Islam yang Ramah (2007), Sunan Muria menciptakan tembang Sinom dan Kinanti, Sunan Giri menciptakan lagu Asmaradana dan Pucung, Sunan Kalijaga merupakan dalang wayang kulit yang menciptakan tembang Dhandanggula, Sunan Bonang merupakan pemain gamelan yang menggubah lagu Durma, Sunan Kudus membuat lagu Maskumambang dan Mijil, dan Sunan Drajat membuat lagu Pangkur. (Tebba, 2007: 31)

Melalui seni, Walisongo berbaur dengan budaya masyarakat dan menyebarkan agama Islam secara halus. Konsekuensinya, masyarakat tidak resisten terhadap dakwah mereka dan Islam tersebar luas secara damai.

Di samping berdakwah dengan seni yang diberi muatan-muatan etis-religius keislaman, Walisongo berdakwah sambil menghormati budaya bahkan agama setempat. Sunan Kudus, misalnya, memerintahkan kepada umat Islam untuk tidak menyembelih sapi sebagai penghormatan pada keyakinan umat Hindu. Hasilnya, hingga kini, masyarakat asli Kudus tidak menyembelih sapi, dan toleransi umat beragama pun terbentuk.

Itu upaya Walisongo dalam mendialogkan Islam dan budaya Nusantara setelah Rasulullah mendialogkan Islam dan budaya Arab. Walisongo mengambil saripati Islam untuk mewarnai budaya setempat, supaya masyarakat setempat menjadi muslim tanpa kehilangan jati diri sebagai orang setempat.

Bukankah yang dilakukan Walisongo di Nusantara itu tetap mengikuti esensi metode dakwah Nabi Muhammad di Jazirah Arab? Bukankah lebih baik umat Islam masa kini mengikuti cara Walisongo yang terbukti berhasil mengislamkan Nusantara secara berbudaya?[]

Print Friendly, PDF & Email
Zainul Maarif

Dosen dan Peneliti di bidang Filsafat dan Agama. Alumni Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir ini telah mempublikasikan beberapa buku: "Imam Syafi'i: Ar-Risalah" (2018), "An-Naisaburi: Kitab Kebijaksanaan orang-orang Gila" (2017), "Logika Komunikasi" (2015, 2016), "Ibnu Arabi: Rahasia Asmaul Husna" (2015), "Retorika: Metode Komunikasi Publik" (2014, 2015), "Pos-Oksidentalisme: Identitas dan Alteritas Pos-Kolonial" (2013), "Filsafat Yunani" (2012), "Al-Jauziyah: Surga Yang Dijanjikan" (2011), "Pos-Oksidentalisme: Dekonstruksi atas Oksidentalisme Hassan Hanafi" (2007), "Sosiologi Pemikiran Islam" (2003), "Dekonstruksi Islam: Elaborasi Pemikiran Hassan Hanafi dan Nasr Hamid Abu Zaid" (2003).

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in Ensiklopedi

To Top