Connect with us

Ikhwan Ash-Shafa: Ornop Filsuf Eklektik

Ensiklopedi

Ikhwan Ash-Shafa: Ornop Filsuf Eklektik

Ikhwan Ash-Shafa bukan nama seorang filsuf, melainkan nama sekelompok filsuf yang hidup di abad ke-4 H. (abad ke-10 M.) di Bashrah dan Baghdad (Irak). Mereka terdiri dari empat tingkatan:

Pertama, level remaja-pemuda berumur 15 tahun sampai dengan 29 tahun yang berpemahaman dan berhati baik. Para pelajar itu disebut dengan Ikhwan Al-Abrar wa ArRuhama’. Kedua, kelas pemuda dewasa berumur 30 tahun sampai dengan 39 tahun yang sudah belajar dengan baik dan dapat mempraktekkan pelajarannya di ranah publik. Mereka yang sudah mulai memimpin itu disebut dengan Ikhwan AlAkhyar wa Al Fudlalâ. Ketiga, jenjang orang-orang berumur 40 tahun sampai dengan 49 tahun. Orang-orang yang taat beragama dan berkuasa itu disebut dengan Ikwan Al-Fudlalâ AlKirâm. Keempat, taraf orang-orang berumur 50 tahun lebih. Mereka ahli hikmah yang mampu menangkap hakikat sedalam dan seluas mungkin.

Di antara seluruh kelompok itu, ada lima orang yang paling terkenal yaitu: Abu Sulaiman Muhammad ibn Ma’syar Al-Busti Al-Maqdisi, Abu Hasan Ali ibn Harun Az-Zanji, Abu Ahmad Muhammad ibn Ahmad Al-Mahrajani An-Naharjuni, Abu Hasan Al-Aufi, dan Farid ibn Rafaah.

Orang-orang yang berpengetahuan ensiklopedik itu hidup di saat Dinasti Abbasiyah sedang lemah, dan kesultanan-kesultanan kecil berkecambah. Di Maroko, muncul Kesultanan Adarisah. Di Qirwan, muncul Kesultanan Abidiyun. Di Mesir, muncul Kesultanan Fatimiyun. Di Bahrain, muncul Kesultanan Qaramithah. Di Tabristan, muncul Kesultanan Dawai. Di Syiria, muncul kesultanan Hamdani. Di Persia dan Irak, jantung kekuasaan Abbasiyah, orang-orang Alawiyah (Syiah Batiniyah) berkuasa dan memunculkan Kesultanan Buwaihin. Masing-masing kesultanan bersaing dan menjadikan agamawan, ilmuwan dan sastrawan sebagai juru kampanye. Karena itu, persaingan politik beriringan dengan perdebatan intelektual yang intensif.

Alih-alih berangkulan dengan kesultanan dan berdebat intelektual bernuansa politik, Ikhwan Ash-Shafa justru berusaha menyatukan beragam hal yang ada di saat itu. Mereka tidak fanatik pada satu agama, mazhab, filsafat atau ilmu. Sebaliknya, para filsuf yang sekaligus sufi itu menyinergikan semua hal tersebut di bawah terang hakikat, hingga memunculkan eklektisitas ensiklopedik, yang kemudian menjadi rujukan filsuf, sufi, dan agamawan setelahnya (Syiah Ismailiyah, Al-Farabi, Ibn Sina, dan Al-Ghazali).

Gagasan eklektik mereka dituangkan di Rasâil Ikhwân AshShafa wa Khallan AlWafa. Buku setebal empat jilid itu (versi terbitan Dar Ash-Shadir) merujuk pada empat sumber: (1) buku-buku filsuf dan ilmuan, (2) kitab-kitab yang diturunkan Tuhan, yaitu Suhuf, Taurat, Injil dan Alquran, (3) alam semesta (ayat kauniyah), dan (4) ilham dari ilahi.

Latar belakang penulisan buku itu adalah asumsi tentang syariat dan filsafat. Mereka menganggap syariat telah dikotori oleh kebodohan dan kesesatan, yang hanya bisa dibersihkan oleh filsafat. Mereka juga berpendapat syariat hanyalah obat untuk orang sakit agar sembuh, sementara filsafat merupakan obat untuk orang sehat agar tetap sehat, mengingat filsafat mencakup segala sesuatu secara abstrak hingga detail. Oleh karena itu, filsafat sangat diperlukan untuk menyempurnakan syariat bahkan membersihkannya dari segala benalu yang tak perlu.

Berdasarkan pandangan tersebut yang ditopang oleh empat sumber di atas, Ikhwan Ash-Shafa menulis 52 risalah yang mencakup empat bab: matematika-logika, fisika, psikologi-rasional, dan syariat. Risalah matematika-logika mentransformasikan pengetahuan inderawi ke pengetahuan rasional: dari kongkret ke abstrak. Risalah fisika berisi gagasan evolusioner: dari simpel ke kompleks. Risalah psikologi-rasional mengaksentuasikan superioritas rasio dalam jiwa untuk membumbung ke abstraksi tingkat tinggi. Risalah syariat meluruskan kedangkalan keyakinan awam dengan penakwilan hakiki.

Ulasan singkat di atas menunjukkan Ikhwan Ash-Shafa merupakan sekelompok orang cerdas yang berupaya mengharmonikan beragam hal yang selama ini dianggap bertentangan. Sebagai suatu kelompok, mereka memberikan inspirasi bagi masa berikutnya. Demikian juga dengan gagasan eklektik mereka.

Perkumpulan Ikhwan Ash-Shafa merupakan embrio masyarakat sipil atau masyarakat madani. Ia organisasi non pemerintah/non government organization (ornop/NGO) yang bercorak think tank. Anggotanya berkumpul untuk memikirkan persoalan bersama di samping persoalan teoritis. Mereka adalah para ideolog yang mengawal laju pemerintahan yang ada.

Meski punya kelemahan, Ikhwan Ash-Shafa merupakan fenomena sosial yang laik untuk dinapaktilasi. Terutama bagi negeri yang dihuni oleh beragam suku, adat, ras dan agama gagasan eklektiik Ikhwan Ash-Shafa perlu dipertimbangkan. Eklektisisme merupakan gagasan tentang keragaman yang disatukan, namun tetap mengafirmasi keragaman. Jika dilihat secara hakiki, keragaman lebur. Yang ada hanya yang satu. Namun, kesatuan itu merupakan akumulasi dari keragaman, sehingga keragaman pun harus tetap diindahkan dalam kesatuan. Eklektisisme merupakan pengejawantahan dari ”pluribus unum” atau ”bhinneka tunggal ika”. Meskipun beragam, kita satu. Meskipun satu, kita beragam.[]

Print Friendly, PDF & Email
Zainul Maarif

Dosen dan Peneliti di bidang Filsafat dan Agama. Alumni Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir ini telah mempublikasikan beberapa buku: "Imam Syafi'i: Ar-Risalah" (2018), "An-Naisaburi: Kitab Kebijaksanaan orang-orang Gila" (2017), "Logika Komunikasi" (2015, 2016), "Ibnu Arabi: Rahasia Asmaul Husna" (2015), "Retorika: Metode Komunikasi Publik" (2014, 2015), "Pos-Oksidentalisme: Identitas dan Alteritas Pos-Kolonial" (2013), "Filsafat Yunani" (2012), "Al-Jauziyah: Surga Yang Dijanjikan" (2011), "Pos-Oksidentalisme: Dekonstruksi atas Oksidentalisme Hassan Hanafi" (2007), "Sosiologi Pemikiran Islam" (2003), "Dekonstruksi Islam: Elaborasi Pemikiran Hassan Hanafi dan Nasr Hamid Abu Zaid" (2003).

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in Ensiklopedi

To Top