Connect with us

Khilafah Paket Murni dari Allah, Yakin?

SUARA

Khilafah Paket Murni dari Allah, Yakin?

Usai pemerintah secara resmi mencabut badan hukum Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), berbagai komentar minor terus mengalir. Banyak yang bilang, HTI ini dizalimi, wong cuma dakwah kok dibubarkan. Yang lain bilang, gimana sih orang Indonesia ini? Dikasih sistem khilafah yang dari Tuhan ditolak, eh, malah mati-matian bela sistem bobrok buatan manusia.

Hmm, pertanyaannya, apa benar sih, khilafah itu merupakan “paket jadi” dari Allah, dan bukan kreasi manusia? Mungkin ini pertanyaan kurang sopan, tapi harap tidak buru-buru menyimpulkan bahwa pertanyaan ini “titipan” dari kelompok Islamophobia. Sebab, dulu, ketika Rasulullah mengumandangkan Islam di tanah Arab, beliau tidak memproklamirkan bahwa telah menerima “manual” dari Allah tentang sistem pengaturan masyarakat, lengkap dengan struktur pejabat pemerintahan, sistem pemilihan, penetapan wilayah kekuasaan, dan ini-itu kepemerintahan lainnya. Kemudian, dengan “manual” itu, Rasulullah menjalankan pemerintahan dan mengelola masyarakat di tanah Arab. Tidak demikian.

Toh, istilah khilafah sudah punya gaung yang demikian kuat. Kita secara pasti pun tidak tahu, apakah dulu di zaman Nabi gaungnya sudah sekuat sekarang. Tapi, baiklah, kita lihat saja, bagaimana istilah khilafah ditampilkan dan dibicarakan dalam teks-teks al-Quran.

Nah, kalau kita buka-buka lembaran al-Quran, ayat yang menyebut istilah khilafah di sana tak banyak. Yang kita temukan adalah ayat-ayat yang memakai kata khalifah (bentuk tunggal), khulafâ’, dan khalâ’if (bentuk jamak). Kata khalifah disebut dalam al-Baqarah (2): 30 dan Shâd (38): 26. Adapun khulafâ’ digunakan dalam al-A’râf (7): 69 dan 74, serta dalam al-Naml (27): 62. Lalu khalâ’if terdapat pada al-An’âm (6): 165, Yunus (14): 14 dan 73, serta Fâthir (35): 39.

Dan, uniknya, tiap-tiap ayat memiliki konteks cerita sendiri-sendiri. Al-Baqarah ayat 30, misalnya. Di ayat ini, Allah mengatakan kepada malaikat, “Innî jâ’ilun fil ardhi khalîfah, Aku hendak menciptakan seorang khalifah di bumi.” Khalifah, sebagaimana kata Ibnu Jarir al-Thabari, memiliki arti “pengganti”. Khalifah adalah orang yang menggantikan kedudukan orang sebelumnya. Nah, Allah mau menciptakan khalifah ‘pengganti’, lalu kedudukan siapa yang diganti?

Konon, seperti kata Abdullah ibn Abbas, mufasir abad pertama Hijriyah, makhluk pertama yang menghuni bumi adalah jin. Sayang, mereka membuat berbagai kerusakan, bahkan membunuh satu sama lain. Allah lalu menurunkan iblis, dan malaikat, ke bumi. Tapi, iblis membunuh makhluk-makhluk dari jenis malaikat. Pada kondisi macam inilah, Allah menciptakan Adam, dan mengabarkan ke malaikat, “Aku hendak menciptakan seorang khalifah di bumi.” Jadi, Adam adalah pengganti (khalifah) kedudukan jin dan makhluk-makhluk perusak bumi.

Versi lain, khalifah di sini bukanlah Adam, melainkan anak cucu Adam. Mereka, seperti kata al-Hasan al-Basri dari versi ini, menjadi “pengganti” kedudukan Bapak Adam. Dan, setiap abad melahirkan khalifah-khalifah “pengganti” kedudukan generasi abad sebelumnya.

Sekarang, mari kita simak ayat lain. Al-A’râf ayat 69, misalnya, ini merupakan bagian dari rangkaian dialog antara Hud dan kaum Ad. Pada ayat-ayat sebelumnya, Allah menuturkan bahwa Hud telah melakukan ajakan baik-baik agar kaum Ad sadar akan kebesaran Allah, dan beriman kepada-Nya. Tapi, dasar kaum Ad, mereka pun membangkang.

Maka, Hud mengingatkan akan pedihnya azab jika mereka membangkang. Hud juga mengingatkan, “Wadzkurû idz ja’alakum khulafâ’a min ba’di qawmi nûhin wa zâdakum fil khalqi bashthah, ingatlah ketika Allah menjadikan kalian khalifah-khalifah, penganti-pengganti, setelah lenyapnya kaum Nuh, dan ketika Allah memberikan kekuatan tubuh yang lebih dari kaum Nuh.” Kaum Ad, seperti dikisahkan pada ayat-ayat berikutnya, tetap membangkang, bahkan menantang Hud untuk membuktikan ancamannya.

Pada al-A’raf ayat 74, kata khulafa’ hadir dalam konteks cerita yang mirip dengan al-A’raf ayat 69. Cuma, bedanya di ayat 74 yang dibicarakan adalah Kaum Tsamud, yang menolak ajakan Nabi Shaleh. Lalu, pada al-Naml ayat 39, kata khulafa’ lebih merujuk ke manusia secara keseluruhan, bahwa umat manusia adalah khalifah-khalifah. Umat manusia zaman Muhammad merupakan khalifah, pengganti, kedudukan umat sebelumnya. Konteks pengertian semacam ini juga hadir dalam surat Fâthir ayat 39.

Di ayat lain, kata khalifah merujuk secara spesifik pada umat tertentu sebagai pengganti umat sebelumnya. Pada surat Yunus ayat 14, misalnya, kata khala’if ‘khalifah-khalifah’ menunjuk pada umat Muhammad. Umat Muhammad merupakan pengganti kedudukan umat sebelumnya, yakni, seperti disebut para ahli tafsir, umat Nuh, umat Hud (Kaum Ad), dan umat Shaleh (Kaum Tsamud).

Sedangkan dalam surat Yunus ayat 73, kata khalâ’if mereferensi ke umat Nuh yang selamat, yang mengikuti ajakan Nuh naik kapal. Mereka adalah khalifah-khalifah yang “mereposisi” umat Nuh yang tenggelam. Nah, berbeda lagi dengan surat Shâd ayat 26. Di ayat ini, kata khalîfah hadir secara khusus untuk menunjuk Nabi Dawud.

Dari berbagai kisah yang digambarkan al-Quran tentang khalifah, kita benar-benar kesulitan untuk mencari adanya sistem kekhalifahan yang disebut-sebut “murni” dari Allah. Kita tidak menemukan adanya pemilihan khalifah alias baiat. Kita juga tak mendengar kisah tentang struktur pemerintahan, ataupun wilayah-wilayah geografis milik kekhalifahan. Malah kalau melihat nada-nada yang tersirat di ayat-ayat tersebut, bisa jadi seluruh manusia ini adalah khalifah alias pengganti generasi umat manusia sebelumnya. Setiap individu adalah khalifah.

O, ya, benar, barangkali itu yang ada di al-Quran, berbeda dengan yang ada di hadis. Tapi, nyatanya, meski saat membuka-buka hadis kita menemukan banyak sekali kisah soal khalifah, tetap saja sulit menilai ada satu “manual” komplit dari Allah tentang sistem kekhalifahan. Yang kita temukan adalah potongan-potongan yang bisa disebut “mentah”.

Misalnya hadis Muslim, “Jika telah dibaiat dua khalifah, bunuhlah yang terakhir di antara keduanya.” Atau hadis tentang baiat di Saqifah Bani Sa’idah. Meski yang terakhir ini sebenarnya bukan hadis, tapi teks panjang tentang kejadian tersebut yang, uniknya, dimuat di kitab-kitab hadis.

Jadi, pertanyaan sederhananya, “sistem khilafah” yang dikoar-koarkan itu ciptaan siapa? *

 

Baca juga Khalifah: Dari Reduksi ke Arti Hakiki 

Print Friendly, PDF & Email
Mujtaba Hamdi

Alumnus Pondok Pesantren Mamba'ul Ma'arif Denanyar Jombang. Menyelesaikan studi pascasarjana Ilmu Antropologi di Universitas Indonesia. Kini aktif bergiat di isu kemerdekaan informasi dan digital sembari mengajar di Program Sosiologi Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia, Jakarta.

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in SUARA

To Top