Connect with us

Masjid dan Problemnya di Indonesia: Kebisingan, Politisasi Hingga Ekstremisme

Artikel

Masjid dan Problemnya di Indonesia: Kebisingan, Politisasi Hingga Ekstremisme

Secara bahasa, “masjid” berarti “tempat sujud”. Secara syar’i (hukum), sujud yang dimaksud mengacu pada salat. Oleh karena itu, masjid dimaknai sebagai tempat salat.

Namun, secara bahasa, sujud berarti “patuh, taat, tunduk”. Maka, hakikat masjid adalah tempat melakukan segala  aktivitas  yang  mengandung  kepatuhan  kepada   Allah, sebagaimana dijelaskan dalam QS. Al-Jin: 18. Karena itu, di zaman Nabi Muhammad, masjid (Masjid Nabawi di Madinah), bukan hanya menjadi tempat salat, tapi pusat peradaban: ruang konsultasi dan komunikasi (masalah ekonomi-sosial budaya), pendidikan, aula dan tempat menerima tamu, perdamaian dan pengadilan sengketa , bahkan latihan militer. Sehingga, dalam Muktamar Risalatul Masjid di Makkah pada  1975, disepakati bahwa masjid baru dapat dikatakan berperan secara baik apabila memiliki ruangan dan peralatan yang memadai untuk: salat, ruang  khusus wanita, ruang pertemuan dan perpustakaan, ruang   poliklinik, ruang  mengurus mayat, sampai ruang bermain, berolahraga, dan berlatih bagi remaja. (M. Quraish Shihab, 2007)

Namun, fungsi masjid saat ini, khususnya di Indonesia yang menjadi objek perhatian tulisan ini, menyisakan beberapa problem yang memprihatinkan. Pertama, merujuk pada fungsi masjid yang telah dijelaskan di awal, masjid saat ini kerap tereduksi hanya menjadi tempat salat, dzikir, dan ibadah-ibadah ritualistik semata. Bukan hanya tak memiliki ruang-ruang peradaban sebagaimana dijabarkan di atas, namun juga taka da kegiatan non-ritual. Bahkan, di luar waktu salat, masjid ditutup dan dikunci.

Kedua, seperti kritik alm. Gus Dur dalam kolomnya di Majalah Tempo 1982 berjudul “Islam Kaset dan Kebisingannya”, kebisingan masjid yang begitu mengganggu adalah problem lain masjid yang hingga kini masih bersemai di negeri ini. Tesis utamanya adalah bahwa Islam tak boleh hadir sebagai sesuatu yang mengganggu, ia harus lemah lembut, penuh akhlak. Dalam QS. Al-A’raf: 204 difirmankan: “Dan apabila Al-Quran dibacakan, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.” Ayat tersebut dilanjutkan dengan sebuah perintah untuk menyebut nama Tuhan dengan lemah lembut, sebagai bentuk kedekatan Sang Pencipta dengan makhluk-Nya: “Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’raf: 205)

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Nabi pernah mendapati para sahabat bertakbir dengan suara keras dan lantang, lantas Nabi dengan tegas bersabda: “Wahai manusia, kasihanilah diri kalian! Kalian tidaklah menyembah Tuhan yang tuli dan gaib, tapi kalian menyeru Tuhan Yang Maha Mendengar dan Maha Dekat, dan Dia bersama kalian.” (HR. Bukhari). Sebuatlah dan berinteraksilah dengan Tuhan dengan suara yang lirih dalam hati yang paling dalam, itu merupakan dzikir yang paling didengar oleh Allah. Nabi bersabda: “Sebaik-baik dzikir ialah yang paling lembut suaranya.” (HR. Ahmad)

Bahkan dalam azan, yang sifatnya panggilan dari masjid dan sudah semestinya keras, aspek ketidakmenggangguan dan lembut patut diberlakukan. Oleh karena itu, Nabi memilih Bilal sebagai muazin lantaran suaranya yang lembut dan nyaman di telinga. Arab Saudi ‘pun menerapkan aturan bagi speaker dan secara tegas menyita speaker yang dinilai terlalu kencang dalam menyiarkan azan. Di samping itu, Syekh Mutawalli al-Sya’rawi, ulama besar Mesir dalam sebuah penjelasan tentang penggunaan pengeras suara masjid, ia mengecam penggunaan speaker saat fajar dan menyebutnya sebagai perbuatan batil. Ia menambahkan, banyak diantara pedagang yang menyalakan kaset bacaan Al-Quran, namun mereka sendiri sibuk berdagang, seakan mereka tidak mengerti sebuah ayat yang memerintahkan mereka untuk diam dan mendengarkan Al-Quran. Begitu pula Habib Ali al-Jufri, ulama tersohor yang menjelaskan bahwa diantara hal yang mesti dipegang umat Islam adalah kaidah menghindari sesuatu yang berbahaya lebih dikedepankan daripada mengambil sebuah manfaat. Ia menegaskan tidak semestinya menggunakan pengeras suara luar masjid yang menyebabkan orang-orang yang tinggal di dekat masjid terganggu. Ia justru menganjurkan untuk memakai pengeras suara ke dalam masjid dengan catatan jika seluruh penghuni masjid sepakat dan merasa nyaman dengan itu.

Untuk menghayati aktivitas keberagamaan, sifat dasar manusia selalu butuh pada keheningan atau irama yang lembut dan syahdu, merdu. Karenanya, seperti tulis Gus Dur dalam kolomnya, untuk sebuah lagu agama ‘pun (misalnya baladanya Trio Bimbo) dihadirkan dalam bentuk lembut.

Perlu ditegaskan bahwa kritik ini tak hanya berlaku pada masjid. Kritik ini berlaku juga bagi lonceng gereja, bedug, pengajian menutup jalan raya, atau apa pun saja yang sifatnya menganggu.

Ketiga, problem lain masjid adalah difungsikannya menjadi ruang politik: politisasi masjid. Bahwa sebagai pusat peradaban, masjid juga perlu difungsikan sebagai ruang dakwah nilai-nilai keluhuran dalam politik di Islam, sampai di sana tak ada problem. Namun, menjadi problem ketika masjid dijadikan arena pertarungan politik praktis, apalagi kampanye. Dalam sejarah, suksesi kepemimpinan pasca-Nabi, di mana itu merupakan politik praktis, nyatanya tak dilakukan oleh para sahabat Nabi di Masjid Nabawi, melainkan di sebuah bangunan di sebelah barat daya Masjid Nabawi yang dikenal dengan nama Saqifah bani Sa’idah.

Keempat, problem masjid paling mengerikan, sebagaimana dilaporan ABC News dan dikutip oleh SyiarNusantara.id, setidaknya belasan masjid di Indonesia ditengarai menyebarkan ideologi yang mengarah pada dukungan terhadap kelompok teroris Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). Sehingga, terdapat 41 masjid di 16 provinsi yang dipantau. Takfirisme, ekstremisme, apalagi terorisme tentu bertentangan dengan Islam. Ia bahkan menciderai nama Islam lantaran mengatasnamakan Islam. Maka, sungguh problem yang sangat musykil jika kesesatan-kesesatan itu justru didakwahkan di masjid.

Oleh karena itu, perlu kesadaran dan kerjasama pemerintah, ormas Islam, takmir masjid, ulama, dan umat Islam untuk mengatasi problem-problem masjid tersebut. Sehingga masjid tak tereduksi fungsinya atau malah difungsikan untuk sesuatu yang tak sesuai dan apalabi bertentangan dengan Islam.

Print Friendly, PDF & Email
Continue Reading
You may also like...
Husein Ja'far Al Hadar

Sarjana, Peneliti, dan Penulis Keislaman.

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in Artikel

To Top