Connect with us

Konflik Israel Palestina Bukan Agama: Zionis Bukan Yahudi

Artikel

Konflik Israel Palestina Bukan Agama: Zionis Bukan Yahudi

Ada dan tak sedikit yang masih salah paham menganalisa penjajahan yang dilakukan Israel atas tanah Palestina. Kesalahpahaman itu adalah dengan menilai dan menyebut penjajahan itu dilakukan oleh dan, atau atas dasar agama: Yahudi.

Kesalahpahaman ini sangat berbahaya lantaran bisa berujung pada kesimpulan bahwa apa yang terjadi antara Israel dan Palestina adalah konflik agama: Yahudi-Islam. Jika ini berkembang, maka alih-alih masalah Palestina bisa selesai, justru akan menambah masalah baru yang bisa memicu konflik yang bukan hanya skala kawasan Israel-Palestina, tapi global antara orang-orang Yahudi dan umat Islam. Kedigdayaan Israel atas Palestina memang adalah keprihatinan kita semua di belahan dunia manapun, termasuk Indonesia. Kita wajib membantu kemerdekaan Palestina. Namun, bukan lantaran Israel itu Yahudi dan kita Islam, tapi dorongan kemanusiaan dan cita-cita hidup damai yang juga merupakan salah satu ajaran dasar Islam.

Adapun faktanya adalah bahwa kaum Zionis pada dasar dan awalnya adalah sekular. Lewat Zionisme ‘lah modernitas sekular menyelinap ke kehidupan Yahudi dan mengoyak-koyak agama tersebut dengan rasisme dan politisasi yang paling mengerikan di abad ini. Ketertarikan banyak kaum Yahudi pada mereka lantaran mereka sukses secara mengagumkan dalam mengubah Tanah Israel, salah satu simbol paling suci dalam agama Yahudi menjadi realitas praktis, duniawi, dan rasional. Tak seperti kalangan Yahudi religius yang merenungkannya secara batin atau halakhah dan sejak awam menilai tindakan Zionisme itu menginjak-injak realitas sakral secara sangat menghinakan Tuhan yang disengaja untuk menentang tradisi religius selama berabad-abad. Maka, Zionisme adalah politisasi agama (Yahudi).

Secara terang-terangan, kaum Zionis menunjukkan penolakan mereka terhadap agama. Gerakan mereka sejak awal memang memberontak pada Yahudi. Lantaran agama Yahudi dinilai melemahkan bangsa Yahudi dengan mengajak mereka menunggu Sang Messiah. Oleh karena itu, Zionisme adalah rasisme yang mengerikan.

Kaum Zionis bersifat pragmatis. Namun mereka sangat sadar akan muatan eksplosif dari simbol Tanah Suci dalam mitologi Yahudi yang kemudian dipaksa “ilmiah”-kan (salah satunya oleh sejarawan kondang Sir Martin Gilbert dalam Atlas of the Israel-Palestine Conflict) dengan narasi bualan Zionisme bahwa Palestina adalah tanah tak berpenghuni dan kaum Yahudi adalah pewaris sah Palestina. Padahal, faktanya, seperti ditulis Ilan Pappe dalam Ten Myths about Israel (2017), penduduk Palestina tengah berkembang membentuk kesatuan bangsa yang diawali kepopuleran pemimpin lokal seperti Daher al-Umar (1690-1775). Karenanya, Israel sejatinya adalah negeri mitos di zaman modern.

Sejarah mencatat bahwa Palestina adalah negeri dengan masyarakat dinamis dan terbuka terhadap proses modernisasi dan perubahan. Di dalamnya berinterakdi dengan harmonis tiga identitas: Yahudi, Kristen dan Islam. Persis seperti yerusalem yang menjadi “rumah ibadah bersama” agama-agama Ibrahimik (Abrahamic Faiths). Ketika kekhalifahan Turki Utsmani tiba di bumi Palestina, mereka mendapati mayoritas penduduk beragama Islam Sunni bersanding dengan populasi Yahudi (sekitar 5% dari keseluruhan populasi) dan Kristen (10-15%). Dan Israel adalah bencana bagi semua itu.

Dipilihnya Palestina juga bagian dari strategi Zionisme. Peretz Smolenskin (1842-1895) yang menentang dengan sengit kekuasaan para rabi, yakin bahwa Palestina adalah satu-satunya lokasi untuk negara Yahudi. Leo Pinsker (1821-1891), dengan melecehkan pertimbangan rasionalnya, belakangan juga meyakini Palestina, tak bisa yang lain. Adapun Theodor Herzl nyaris kehilangan jabatannya sebagai pemimpin gerakan Zionis pada Konferensi Zionis Kedia di Basel pada 1898 ketika menyarankan sebuah tempat di Uganda. Dia dipaksa berdiri di hadapan seluruh delegasi, mengangkat tangannya, dan mengutip ungkapan dari Mazmur: “Jerusalem, kalau aku melupakan engkau, biarkan tangan kananku ini menjadi layu!” Kaum Zionis siap mengeksploitasi kekuatan mitos untuk membuat rencana mereka yang sepenuhnya sekular atau bahkan ateis itu. (Karen Armstong, 2001)

Oleh karena itu, sejak pertama kali gagasan Zionisme digulirkan dan hingga kini, ia terus ditentang oleh para rabi Yahudi sendiri. Dalam bentuk organisasi, ada Neturei Karta (secara bahasa berarti “Penjaga Kota”) adalah organisasi tertua yang menentang gerakan dan ideologi Zionisme. Dimulai pada abad ke-18, secara resmi tepatnya pada 1935 sebagai reaksi atas munculnya Zionisme dan rencana pembentukan negara Israel. Pelopornya adalah kelompok Yahudi Ortodoks yang dipimpin oleh Rabbi Yisroel ben Eliezer. Neturei Karta kerap menyebut diri mereka sebagai “Perserikatan Yahudi Penentang Zionis”. Syaikh Yusuf Qardawi pernah menerima kedatangan tamu dari Neturei Karta dan berkomentar bahwa “umat Islam menentang penjajahan dan gerakan Zionisme yang menindas, bukan orang-orang Yahudi”. Salah satu tokoh dan juru bicara Neturei Karta, Rabbi Yisroel Dovid Weiss yang pernah berkunjung ke Indonesia atas undangan mahasiswa Universitas Indonesia pada seminar internasional tentang Palestina menyebut “Zionisme adalah ajaran yang mengkhianati Yudaisme! Zionisme adalah kepercayaan setan”. Di samping Neturei Karta, ada pula International Jewish anti-Zionist Network (IJAN) yang merupakan jaringan internasional orang Yahudi yang berkomitmen untuk memperjuangan kemerdekaan Palestina dari penjajahan Israel.

Maka, sudah pasti dan meyakinkan bahwa konflik Israel-Palestina bukanlah konflik agama. Menganggap konflik itu sebagai konflik agama adalah berarti terjebak dalam narasi politisasi agama yang dibangun Israel. Musuh kita adalah Zionisme dan semua kekuatan digdaya yang mau menjajah, mengaksploitasi, dan menyengsarakan. Palestina adalah kaum marjinal (musthadafin) yang wajib kita selamatkan dari cengkraman Isreal. Begitu!

Print Friendly, PDF & Email
Continue Reading
You may also like...
Husein Ja'far Al Hadar

Sarjana, Peneliti, dan Penulis Keislaman.

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in Artikel

To Top