Connect with us

Jokowi, Kekagetan Ashraf Ghani dan Langkanya Demokrasi Damai di Negeri Muslim

SUARA

Jokowi, Kekagetan Ashraf Ghani dan Langkanya Demokrasi Damai di Negeri Muslim

Alkisah, Presiden Afganistan Ashraf Ghani terkaget-kaget mendengar cerita Presiden RI Joko Widodo. Waktu itu, Jokowi menuturkan bahwa Indonesia ini negara dengan penduduk muslim terbesar. “Kita memiliki 17.000 pulau. Presiden Ghani kaget. Kita memiliki 714 suku. Beliau kaget. Kita memiliki lebih 1.100 bahasa daerah. Beliau lebih kaget lagi,” begitu tutur Jokowi.

Jokowi mengulang-ulang kisah tersebut di berbagai kesempatan. Ketika mengunjungi pesantren di Tasikmalaya. Saat memberi pidato di Kongres Pancasila di Yogyakarta. Sewaktu menyampaikan sambutan Halal Bihalal Kebangsaan di Semarang. Pada acara Haul Syaikh Nawawi Al-Bantani di Banten. Dan beberapa kesempatan lainnya.

Tentu kita tidak tahu bagaimana sesungguhnya ekspresi kaget Ashraf Ghani itu. Apakah terperanjat sambil melompat, atau hanya menaikkan alisnya sebelah. Namun yang kita tahu, Afghanistan merupakan negara dengan penduduk mayoritas muslim yang bersuku-suku dan tak henti-hentinya menghadapi tantangan radikalisme agama yang berujung pertumpahan darah.

Kita juga bisa menebak mengapa Ghani pantas terkejut. Dibandingkan dengan Indonesia, Afganistan memang memiliki luas wilayah dan jumlah penduduk yang jauh lebih kecil, kira-kira sepertiga dari wilayah Indonesia. Luas Afganistan sekitar 650 ribu kilometer persegi, sedangkan Indonesia 1,9 juta kilometer persegi. Populasi Afganistan juga kurang dari 35 juta, yang bahkan lebih sedikit dari total penduduk Jawa Timur (38 juta lebih).

Kisah Jokowi yang diulang-ulang bisa jadi berlebihan. Ghani mungkin juga tidak sekaget itu. Bisa jadi pula, keheranan Ghani hanya sebentuk ramah tamah biasa. Toh, substansi yang disampaikan Jokowi tidak sepenuhnya salah, bahkan mungkin sama sekali tidak melebih-lebihkan. Cerita tentang Indonesia yang berpenduduk muslim terbesar di dunia, dan pentingnya menjaga perdamaian dan persatuan dalam keanekaragaman memang pantas untuk senantiasa diulang-ulang. Mengapa? Apakah Indonesia memang begitu istimewa?

Baiklah, kita beber fakta. Mari kita lihat 10 negara dengan jumlah populasi muslim terbesar di dunia. Pew Forum  mencatat Indonesia berada pada urutan pertama dengan jumlah penduduk muslim terbesar (209 juta). Disusul kemudian India (176 juta), Pakistan (167 juta), Bangladesh (134 juta), Nigeria (77 juta), Mesir (76 juta), Iran (73 juta), Turki (71 juta), Aljazair (34 juta), dan Maroko (31 juta).

Sekarang, dari 10 negara itu, kita bisa lihat bahwaa hanya sebagian saja yang memiliki situasi politik yang stabil. Beberapa negara malah senantiasa ada pertumpahan darah pada setiap pergantian kekuasaan; apakah adu senjata antar faksi, kepala pemerintahan dibunuh, atau pemilihan umum yang berujung rusuh berlarut-larut hingga memakan banyak korban nyawa, dan seterusnya.

Supaya tidak sekadar meraba-raba, baiklah kita lihat potret sepuluh negara tersebut melalui Democracy Index. Indeks ini mengelompokkan 167 negara ke dalam empat kategori: full democracy (skor 8-10), flawed democracy (skor 6-8), hybrid regime (skor 4-6) dan authoritarian regime (skor 0-4). Dalam Democracy Index 2016, dari kesepuluh negara muslim terbesar itu tidak ada yang masuk kategori full democracy. Kategori full democracy adalah negara-negara yang lembaga dan proses demokrasinya lancar, didukung budaya demokrasinya yang kondusif.

Kemudian, dari sepuluh negara di atas, hanya ada dua negara yang masuk kategori flawed democracy, yaitu India (skor 7.81) dan Indonesia (skor 6.97). Ini artinya kedua negara memiliki lembaga dan proses demokrasi yang lancar, pemilu yang bebas dan adil yang diselenggarakan secara teratur, hak sipil dasar diakui dan dihormati, namun masih memiliki sejumlah masalah, seperti masih adanya pembatasan terhadap kekebasan pers dan monopoli media. Di luar itu, budaya demokrasinya belum berkembang baik, misalnya tata pemerintahannya banyak yang tidak jalan, partisipasi warga yang masih rendah, dan seterusnya.

Selanjutnya, lima negara berada pada situasi hybrid regime, yaitu Bangladesh (skor 5.73), Turki (skor 5.04), Maroko (skor 4.77), Nigeria (skor 4.50), dan Pakistan (skor 4.33). Artinya, negara-negara ini mungkin menyelenggarakan pemilu, tetapi tidak secara teratur dan jauh dari kriteria bebas dan adil. Lembaga-lembaganya korup parah, tidak ada pengadilan yang independen, meluasnya kekerasan terhadap lawan politik, tidak adanya kebebasan pers, dan seterusnya.

Tetapi lima negara di atas masih memiliki pemilu dan lembaga-lembaga penopang demokrasi yang masih berfungsi, berbeda dari negara yang masuk kriteria authoritarian regime, yaitu Aljazair (skor 3.56), Mesir (skor 3.31), dan Iran (skor 2.34). Di negara-negara ini tidak ada pergantian kekuasaan yang teratur, mungkin ada media tetapi hanya milik pemegang kekuasaan, tidak ada lembaga yang berfungsi sebagai checks and balances, dan ditandai dengan adanya pelanggaran tinggi terhadap kebebasan sipil.

Singkat kata, Indonesia adalah satu-satunya negara mayoritas muslim yang proses demokrasinya berjalan baik, walau belum masuk full democracy. Sangat sah jika ada yang bilang Indonesia itu “spesias langka”! India, walau memiliki jumlah muslim terbesar kedua di dunia, komposisi muslim hanya sekitar 15 persen. Bandingkan dengan Indonesia yang lebih dari 80 persen. Sementara itu, selain India, negara-negara lainnya dengan penduduk muslim terbesar lainnya berada dalam kondisi politik yang parah.

Baiklah, mungkin ada yang bilang, Democracy Index cenderung bias politik keeropa-eropaan. Tidak pas digunakan sebagai alat untuk membandingkan negara-negara muslim. Bisa jadi demikian. Toh, tetap saja, kita tidak akan terima jika dimasukkan dalam kategori authoritarian regime, bukan? Atau, mari kita lihat satu potret lagi.

Pada 2014, sebuah penelitian yang digelar Project of the Study of 21st Century (PS21) menginvestigasi negara-negara dengan tingkat kematian akibat perang dan konflik tertinggi di dunia. PS21 mencatat 20 negara yang paling mematikan. Di mana posisi ke-10 negara mayoritas muslim di atas? Nama Indonesia tidak muncul, seperti halnya Bangladesh, Mesir, Iran, Turki dan Maroko. India muncul dalam peringkat ke-15 dengan jumlah korban tewas 976 jiwa. Pakistan menempati peringkat ke-6 dengan jumlah kematian 14.638 jiwa. Nigeria ke-4 (11.529 jiwa) dan Aljazair ke-20 (242 jiwa). Data-data itu hanya untuk tahun 2014 saja.

Siapa juaranya? Seperti yang banyak orang tebak, peringkat pertama adalah: Syiria. Korban tewas akibat perang dan konflik mencapai 76.021 jiwa, hanya pada 2014. Kedua diduduki Irak dengan jumlah korban 21.073 jiwa. Dan ketiga ditempati Afganistan dengan jumlah korban 14.638. Afganistan?

Iya, tidak salah, Afganistan, negeri yang kini di menjadi tanggung jawab Presiden Ashraf Ghani. Kisah terkaget-kagetnya Ghani mendengar pernyataan Jokowi punya makna yang dalam, terlepas dari kisah itu berlebihan atau tidak. Besarnya penduduk, luasnya wilayah, beragamnya etnis, majemuknya agama dan kepercayaan, kayanya kebudayaan Indonesia terus menjadi sorotan dunia. Banyak negara lain ingin belajar kepada kita, ingin tahu bagaimana kita orang Indonesia menjadi dan merawat kemajemukan itu. Kita tentu tidak rela “spesies langka” ini dikoyak-koyak hanya untuk kepentingan sesaat. *

Print Friendly, PDF & Email
Mujtaba Hamdi

Alumnus Pondok Pesantren Mamba'ul Ma'arif Denanyar Jombang. Menyelesaikan studi pascasarjana Ilmu Antropologi di Universitas Indonesia. Kini aktif bergiat di isu kemerdekaan informasi dan digital sembari mengajar di Program Sosiologi Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia, Jakarta.

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in SUARA

To Top