Connect with us

Nasionalisme itu Islami!

Ensiklopedi

Nasionalisme itu Islami!

Apa yang harus digerogoti untuk imperialisme bisa mencengkram suatu negara? Kata Ali Syariati dalam karyanya Membangun Masa Depan Islam, adalah agama dan nasionalisme. Asumsi suatu rakyat bahwa keduanya bertentangan berarti membuka pintu selebar-lebarnya bagi imperialisme. Sekadar meyakini keduanya berdiri sendiri-sendiri saja berarti telah membuka pintu bagi imperialisme, karena -sebagaimana pengalaman sejarah kita- salah satu trik utama imperialisme adalah adu domba (devide et impera). Menganggap keduanya berdiri sendiri-sendiri adalah celah untuk mengadu domba mereka yang nasionalis dan religius. Sebaliknya, menilainya sebagai dua entitas yang integral dan saling menguatkan berarti menutup rapat-rapat pintu bagi imperialisme masuk ke negerinya. Karena itu, sejak awal, founding fathers bangsa ini haqqul yaqin bahwa keduanya adalah integral: nasionalis-religius (bukan nasioalis-islamis, karena negeri ini tak hanya diperjuangkan dan milik satu umat beragama, betapapun kita (umat Islam) mayoritas. Juga karena kita yakin bahwa pada tingkat paling dasar, semua agama sama: berorientasi perdamaian, kemanusiaan, egalitarianisme, dan nilai-nilai luhur lainnya). “Nasionalisme kita adalah nasionalisme yang membuat kita menjadi “perkakasnya Tuhan”, dan membuat kita menjadi “hidup di dalam roh,” kata Bung Karno dalam Suluh Indonesia Muda, 1928. “NKRI yang berdasar Pancasila dan UUD 1945 adalah bentuk final perjuangan umat Islam menjalankan syariat agama,” kata KH Ahmad Siddiq, Rais Am Syuriyah waktu itu dalam Muktamar NU ke-27 pada 1984 di Situbondo.

Namun, hingga kini, masih ada saja orang atau kelompok muslim yang menilai nasionalisme tak islami dan tak memiliki dalil dalam Islam. Misalnya, datang dari Felix Siauw yang pernah berkicau di akun Twitternya: “Membela nasionalisme, nggak ada dalilnya, nggak ada panduannya. Membela Islam, jelas pahalanya, jelas contoh tauladannya.” Benarkah?

Pertama-tama, mari kita sepakati dulu apa itu “nasionalisme”. Entah menurut Felix Siauw. Namun, menurut KBBI, nasionalisme adalah “paham (ajaran) untuk mencintai bangsa dan negara sendiri.” Jika kita sepakat pada makna nasionalisme itu, maka jelas ada dalilnya dan sangat kuat.

Jika kita mau belajar sejarah Nabi dengan sunnah-sunnahnya sedikit saja, sebenarnya begitu mudah didapatkan dalil bagi nasionalisme. Nabi dikenal sebagai sosok yang begitu mencintai negerinya. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas: “Saat Nabi diusir dari Makkah, beliau berkata: Sungguh aku diusir darimu (Makkah), dan sungguh aku tahu bahwa kau adalah negeri yang paling dicintai dan dimuliakan Allah. Andai pendudukmu tidak mengusirku darimu, maka aku takkan meninggalkanmu.” (Musnad al-Haris, Juz 1/460). Dalam riwayat lain Ibnu Abbas, Nabi bersabda: “Alangkah baiknya engkau (Makkah) sebagai sebuah negeri, dan engkau merupakan negeri yang paling aku cintai. Seandainya kaumku tidak mengusirku dari engkau, niscaya aku tidak tinggal di negeri selainmu.” (HR. Turmudzi dan Ibnu Hibban).

Begitu juga pada Madinah. Meskipun bukan kota kelahirannya, Nabi begitu mencintai Madinah sebagai kota perjuangan Nabi. Dan ia termasuk Tanah Air Nabi. Sebagaimana penjelasan Al-Jurjani dalam At-Ta’rifat bahwa “Tanah Air (al-wathan al-ashli) adalah tempat kelahiran seseorang dan negeri di mana ia tinggal di dalamnya.” Oleh karena itu, kita dapati hadis Nabi: “Ya Allah, jadikanlah kami mencintai Madinah sebagaimana cinta kami kepada Makkah atau melebihi cinta kami pada Makkah.” (HR. Bukhari 7/161)

Namun, bisa jadi Anda bingung karena di hadis lain yang statusnya hasan, riwayat Imam Abu Dawud dari Jubair bin Muth’im berbunyi: “Bukan dari golongan kami orang yang berperang semata-mata atas dasar kebangsaan, dan bukan golongan kami yang matinya karena fanatik kebangsaannya.” Di sinilah pentingnya memahami Islam secara utuh dan hati-hati, agar tak melihat adanya pertentangan-pertentangan dalam Islam. Hadis tersebut tentu tak bertentangan dengan hadis yang menegaskan pentingnya kecintaan pada Tanah Air. Sebab, setiap perang dan bahkan bertindak apapun dalam Islam, yang pertama dan utama memang harus diniatkan untuk Allah (lillahi ta’ala). Tanpanya, semuanya menjadi sia-sia. Oleh karena itu, yang dinilai bukan golongan Nabi dalam hadis itu adalah orang yang berperang “semata-mata” hanya karena kebangsaan. Sedangkan kita justru cinta Tanah Air lantaran kita meyakininya sebagai perintah Allah dan Nabi-Nya. Oleh karena itu, kita tak pernah memberdirikan sendiri-sendiri, apalagi mempertentangkan kebangsaan (nasionalisme) dan keislaman.

Memang mustahil jika kecintaan pada Tanah Air dinilai tak dibenarkan dalam Islam atau tak memiliki dalil. Sebab, dalam hadis riwayat Imam Turmudzi dan imam lainnya kita temui bahwa Nabi bahkan bersabda bahwa seseorang yang mati lantaran mempertahankan harta saja maka matinya berarti mati syahid. Apalagi mencintai dan mati untuk Tanah Air.

Maka, jelas dalilnya bahwa setiap muslim wajib mencintai negeri kelahiran maupun negeri di mana ia bermukim. Itu adalah salah satu keteladanan dari Nabi, sebagai wujud syukur. Karena rasa cinta dan syukur itu, sebagaimana juga diteladankan Nabi, kita wajib menjaga, merawat, dan memajukan Tanah Air kita. Merdeka!

Print Friendly, PDF & Email
Continue Reading
You may also like...
Husein Ja'far Al Hadar

Sarjana, Peneliti, dan Penulis Keislaman.

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in Ensiklopedi

To Top