Connect with us

Signifikansi Filsafat Bagi Muslim

Ensiklopedi

Signifikansi Filsafat Bagi Muslim

Sebagian umat Islam di Indonesia masih cenderung memendam stigma negatif terhadap filsafat. Sehingga mereka khawatir, takut, hingga melarang anaknya yang memiliki potensi dan minat kuliah ke jurusan filsafat. Hal itu terjadi tentu antaran ketidakpahaman yang bercampur dengan hoax bahwa filsafat cenderung menjadi cabang ilmu yang bisa menggerus keberislaman dan, atau menyesatkan.

Dalam sejarah, bisa jadi stigma ini dipengaruhi oleh salah paham atas kritik keras Imam Al-Ghazali pada filsafat melalui karyanya yang berjudul Tahafut al-Falasifah. Sehingga, khususnya di dunia Islam bermazhab Sunni, di mana nama Al-Ghazali memang begitu agung, praktis filsafat kurang diminati.

Tulisan ini akan menjelaskan bahwa filsafat, sebagaimana ilmu-ilmu lain dalam Islam, juga dibasiskan pada Al-Quran dan Sunnah. Ia selaras dengan dua sumber utama dalam Islam tersebut. Keberadaannya justru penting untuk membebaskan umat Islam dari mitos-mitos yang mengatasnamakan Islam, lantaran ia merupakan cabang ilmu yang mengutamakan pendekatan rasional (akal). Juga, sebagaimana ditulis Seyyed Hossein Nasr dalam Traditional Islam in the Modern World (1987), ia penting untuk dunia pendidikan Islam modern agar tak terbawa arus modernisme secara tak proporsional. Karenanya, alih-alih dilarang, seharusnya pola pikir filosofis diterapkan sejak dini -sesuai porsinya tentunya- untuk mencerahkan masyarakat Muslim modern dari mitologi maupun modernisme yang menyengsarakan karena menggiring dunia pada chaos: kerusakan alam, perang nuklir, dll.

Hampir semua filosof Islam –dari Al-Kindi sampai ‘Allamah Thabathaba’i- tak hanya menggeluti dan menelurkan karya-karya filsafat. Mereka juga membangun pemikiran dan membuahkan hasil berupa karya-karya dalam cabang ilmu Islam lainnya: tafsir, fikih, dll. Ibn Rusyd dikenal sebagai seorang ahli fikih dengan empat jilid karya fikih berjudul Bidayah al-Mujtahid. Mir Damad yang juga merupakan tokoh otoritatif dalam hukum Islam. Dalam catatan Nasr, Ibn Sina dan Ibn Rusyd secara jelas menunjukkan kepatuhan aktif terhadap Islam dan bereaksi keras terhadap upaya penentangan terhadap iman mereka, tanpa mesti menjadi fideis (para pembela iman yang tak mempertimbangkan argumentasi rasional). Ini bertentangan dengan dugaan sebagian orang bahwa Ibn Sina kurang memegang syariat Islam. Bahkan ada yang menuduhnya kerap meneguk anggur.

Begitu pula karya-karya semacam tafsir yang muncul dari tangan para filosof Muslim semacam Ibn Sina, Mulla Shadra, dan Thabathaba’i. Mereka juga mufassir. Mereka bahkan hadir dengan corak baru yang bisa disebut sebagai “tafsir falsafi”. Termasuk pula dalam tasawuf, di mana dengan sentuhan filsafat, lahirlah corak tasawuf yang populer dengan terminologi “tasawuf falsafi” dengan tokoh utamanya Ibn ‘Arabi dan filosof-filosof pasca-Ibn ‘Arabi. Bahkan, Al-Madinah Al-Fadhilah karya Al-Farabi itu alih-alih dinilai sebagi risalah politik, justru oleh para ahli dinilai sebagai suatu “filsafat kenabian” (prophetic philosophy). “Filsafat Kenabian” juga menjadi salah satu tema dalam Al-Syifa’ karya Ibn Sina.

Menurut Nasr, dalam konteks filsafat Islam, ia berkaitan dengan wahyu dan hadis bukan hanya pada dimensi eksternal kebenaran internal (haqiqah), namun juga kebenaran eksternal (syariah). Meskipun, dalam konteks syariat, sebagaian fuqaha mengambil sikap kontra terhadap filsafat Islam sebagaimana sikap sebagian mutakallim dalam ranah ilmu kalam.

Oleh karena itu, sebagaimana dikemukakan Nasr, realitas wahyu Islam dan partisipasi dalam realitas telah merombak perangkat berfilsafat di dunia Islam hingga keduanya mempengaruhi hampir seluruh corak filsafat para filosof Islam. Pengaruh-pengaruh itu, utamanya pertama, akal (intelek teoritis atau al-‘aql al-nazhari)-nya para filosof Islam bukan lagi seperti akal (intelek teoritis) menurut filosof Yunani seperti Aristoteles atau akal (rasio) menurut filsafat Barat. Perkara ini sangat jelas jika kita membaca tentang akal menurut filosof-filosof besar Muslim seperti Mulla Shadra, di mana ia didasarkan pada Al-Qur’an dan hadis Nabi. Maka, salah kaprah jika orang mengatakan karena terlalu menggunakan akal, filsafat bisa menyesatkan.

Kedua, para filosof Islam sejak Nashir-i Khusraw (11 M) sampai Shadra (16 M) telah mengidentikkan falsafah atau hikmah dengan haqiqah yang terkandung dalam Al-Qur’an, yang meniscayakan adanya hermeneutika spiritual (ta’wil) atas Teks Suci melalui penghayatan mendalam terhadap makna batin wahyu. Lebih jauh, M. Ja’far Kasyifi (filosof Persia abad ke-19 M) mengidentifikasi berbagai metode penafsiran Al-Qur’an dengan berbagai mazhab filsafat: tafsir (interpretasi literal Al-Qur’an) dengan mazhab Paripatetik, ta’wil (interpretasi simbolik Al-Qur’an) dengan mazhab Stoa (riwaqi), dan tafhim (pemahaman mendalam terhadap Al-Qur’an) dengan mazhab Isyraqi. Ibn Sina dalam Isyarat-nya dan Mulla Shadra dalam Tafsir Ayat Al-Nur, misalnya memberikan perhatian terhadap ayat-ayat mutasyabihat, salah satunya QS. Al-Nur: 35 yang disebutnya sebagai “Ayat Cahaya”. Semua itu membuat Al-Qur’an tak hanya dipahami secara harfiah atau ditafsir di tatanan makna saja, melainkan diselami makna-makna batinnya tanpa bertentangan atau keluar dari makna-makna tafsirnya.

Ketiga, keesaan Allah (tauhid) menjadi tema utama filsafat Islam yang berkelindan dengan Al-Qur’an dan hadis. Setiap filosof Islam adalah muwahhid (pengikut tauhid) dan melihat filsafat yang otentik dalam kerangka ini. Mereka ‘pun menyebut Plato dan Phytagoras yang menegaskan keesaan Prisip Tertinggi sebagai muwahhid, meskipun mereka kurang memperlihatkan minat pada bentuk-bentuk filsafat Yunani dan Romawi belakangan yang lebih skeptis atau agnostik.

Intisari filsafat Islam berada di seputar wacana bagaimana para filosof Islam menafsirkan doktrin tauhid. Sejak Al-Kindi hingga Mulla Al-Zanusi dan Sabzawari, doktrin tauhid dalam Al-Qur’an dominan dan menetukan dalam agenda kefilsafatan para filosof Islam. Meskipun sering ditemui ketegangan antara kajian filosof Islam terhadap filsafat Yunan dengan tauhid dalam Al-Qur’an. Namun ketegangan itu mampu diolah menjadi sintesis berderajat intelektual tinggi oleh para filosof terkemudian seperti Suhrawardi dan Mulla Shadra. Doktrin tauhid dalam Al-Qur’an, seperti dalam QS. Ya Sin: 82 menjadi basis mereka tentang wujud yang kemudian dipandang sebagai prinsip semesta.

Selanjutnya, inspirasi Al-Qur’an dan hadis telah membawa filosof Islam dan filsafat Islam pada pengembaraan yang belum pernah ada sebelumnya atau pengembangan dengan sentuhan baru atas tema-tema yang telah ada sebelumnya, seperti Hari Kiamat (al-ma’ad), kenabian, serta alam semesta (kosmologi). Maka, jangan takut memasukkan anak Anda ke jurusan filsafat. Bahwa ada mahasiswa filsafat yang nyeleneh, itu sama saja dengan fakta bahwa ada mahasiswa eksak yang jadi teroris. Itu semua oknum yang bisa ada di mana saja.

Print Friendly, PDF & Email
Continue Reading
You may also like...
Husein Ja'far Al Hadar

Sarjana, Peneliti, dan Penulis Keislaman.

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in Ensiklopedi

To Top