Connect with us

Kapolri: Spirit Toleransi dan Egalitarian Pelopori Kebangsaan Indonesia

KABAR

Kapolri: Spirit Toleransi dan Egalitarian Pelopori Kebangsaan Indonesia

SYIARNUSANTARA.ID – Gerakan pemuda dan mahasiswa di masa penjajahan kolonial yang mempelopori terbentuknya kebangsaan (nationhood) Indonesia, dan menjadi cikal bakal negara bangsa (nation state) Indonesian terus menginspirasi generasi bangsa dari waktu ke waktu.

Inspirasi itu kembali digelorakan Kapolri Jenderal Pol. Tito Karnavian. Dengan rasa kagum ia mengatakan bahwa terbentuknya nationhood Indonesia didasari prinsip toleransi dan egaliter gerakan mahasiswa dan pemuda. Itu terlihat dari beragamnya perwakilan pemuda dari seluruh Nusantara yang hadir dan mendeklarasikan Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928.

“Meski berbeda agama, suku, budaya, dan bahasa, para pemuda itu menyatakan ikrar satu tanah air, satu bangsa, satu bahasa, yakni Indonesia,” kata Tito Karnavian dalam simposium nasional yang diselenggarakan organisasi sayap PDI Perjuangan, Taruna Merah Putih, di Balai Kartini, Jakarta (14/8/2017).

Dalam simposium bertema ‘Bangkit Bergerak, Pemuda Indonesia Majukan Bangsa’ ini Tito menegaskan, kebangsaan Indonesia bisa terbentuk karena para tokoh pemuda di masa-masa awal perjuangan sepakat untuk bersatu dalam keberagaman (unity in diversity).

Menurut Tito, mereka tidak mau menonjolkan perbedaan yang ada, justru mengedepankan kepentingan bersama (common interest) yakni mewujudkan Indonesia yang merdeka, berdaulat, damai, adil, dan makmur. Dengan spirit itulah, ujarnya, Soekarno-Hatta atas nama bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.

“Kita harus terus merawat prinsip toleransi dan egaliter yang diwariskan oleh para pendiri bangsa. Nikmat paling indah dalam memperingati Kemerdekaan RI ke-72 adalah kita masih bisa merawat bhinneka tungal ika, atau kesatuan dalam keberagaman sebagai bangsa Indonesia,” kata Tito.

Karena itu, ujarnya, Indonesia yang kaya sumber daya alam, saat ini menjadi incaran kelompok non-state actor untuk menanamkan pengaruhnya. Menurutnya, negara-negara besar seperti AS dan China yang saat ini bersaing di kawasan Pasifik juga berebut untuk menanamkan pengaruhnya di Indonesia.

Mengantisipasi hal tersebut, ujar Tito, bangsa Indonesia perlu untuk terus memperkuat persatuan dan ketahanan bangsa. “Jika tidak, Indonesia akan mudah dimasuki oleh paham-paham asing yang radikal dan tidak sesuai dengan falsafah Pancasila. Pada akhirnya, pengaruh asing itu bisa memecah belah bangsa Indonesia,” ujarnya.

 

Print Friendly, PDF & Email
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in KABAR

To Top