Connect with us

Islamnya Bung Karno: Jadi Muslim Jangan Sontoloyo!

Ensiklopedi

Islamnya Bung Karno: Jadi Muslim Jangan Sontoloyo!

Bung Karno tumbuh sejak muda dengan corak keberagamaan yang rasional, maju, progresif. Ia tak mau sekadar menerima dogma mentah-mentah tanpa tanya. Termasuk ketika Bung Karno mencari Tuhannya. Maka, itu menjadi asset bagi keislaman Bung Karno yang juga tumbuh secara rasional, maju, progresif. Salah satu gagasan keislaman Bung Karno terangkum dalam kritiknya pada keberislaman yang sontoloyo dalam diksi Bung Karno.

Menurut Bung Karno, pondasi utama keberislaman kita adalah “akal”. “Hampir seribu tahun akal dikungkung sejak kaum Mu’tazilah sampai Ibnu Rusyd dan lainnya. Asy’arisme pangkal taklidisme dalam Islam. Akal tidak diperkenankan lagi. Akal itu dikutuk seakan-akan dari setan datangnya,” kata Bung Karno. Tak rasionalnya kalangan muslim, di mana artinya mereka hanya menjadi muslim pengekor, bukan polopor adalah pangkal kemunduran Islam. Islam bukan maju, tapi mundur di bawah “taklidisme”.

Bung Karno tentu bukannya sedang meremehkan pandangan ulama-ulama terdahulu. Namun, menurut Bung Karno, sumber Islam jelas: Al-Quran dan Sunnah. Bukan pendapat ulama. Pendapat ulama lahir dari tafsir mereka atas dua sumber Islam yang dikontekstualisasikan dengan tantangan zaman dan ruang mereka masing-masing. Oleh karena itu, yang perlu kita lakukan adalah terus menjunjung tinggi dua sumber Islam itu sebagai rujukan yang paten, lalu juga ikut meng kontekstualisasikannya dengan zaman dan ruang kita di mana berpijak saat ini.

Oleh karena itu, menurut Bung Karno, pintu ijtihad harus terus dibuka. “Ijtihad itu sebenarnya pintu. Ijtihad adalah pemeriksaan, penyelidikan, analisa, dan lain-lain.Apa artinya? Kebebasan berpikir! Di Indonesia ini, sayalah yang pertama-tama mengatakan kita buka pintu ijtihad supaya bisa menciptakan kemakmuran yang besar,” kata Bung Karno.

Salah satu penghambat bagi kemajuan Islam itu menurut Bung Karno adalah alergi kita (umat Islam) pada perbedaan pandangan dan pendapat. Yang itu artinya tak apresiatif pada ijtihad, kebebasan berpikir dan berpendapat. Kita menjadi takfiri. “Kita royal sekali dengan perkataan “kafir”, kita gemar sekali mencap segala barang yang baru dengan cap “kafir”. Pengetahuan Barat kafir; radio dan kedokteran kafir; sendok dan garpu dan kursi  kafir; tulisan Latin  kafir; yang bergaul dengan bangsa yang bukan bangsa Islam pun kafir!,” tulis Bung Karno dalam Surat-surat Islam dari Endeh (1930-an) dan Masyarakat Onta dan Masyarakat Kapal Udara (1940). Sesuatu (takfiri) yang kian bukan menyusut namun justru makin merebak di masyarakat muslim Indonesia.

Oleh karena itu, menurut Bung Karno, umat Islam sepatutnya tak hanya berfokus pada fikih saja. Dalam Islam Sontoloyo (1940), Bung Karno menulis: “Fikih itu, walaupun sudah kita saring semurni-murninya, belum mencukupi semua kehendak agama. Belum dapat memenuhi syarat-syarat ketuhanan yang sejati, yang juga berhajat kepada tauhid, akhlak, kebaktian ruhani, kepada Allah.” Ia melanjutkan: “Dunia Islam sekarang ini setengah mati, tiada nyawa, tiada api, karena umat Islam sama sekali tenggelam dalam kitab fikihnya saja, tidak terbang seperti burung garuda di atas udara-udaranya Levend Geloof, yakni udara-udaranya agama yang hidup.”

Tentu bukan berarti Bung Karno anti-fikig. Sebab, fikih adalah ritual di mana kita berhubungan dengan Allah. “Saya hanya membenci orang atau perikehidupan agama yang terlalu mendasarkan diri kepada fikih, kepada hukum-hukumnya syariat itu saja,” tulisnya. Menurut Bung Karno, kita perlu sungguh-sungguh juga belajar nilai dan visi etik Al-Quran. Kita perlu memajukan Islam dalam berbagai bidang: sains, politik, ekonomi, sosial, dll. “Saya yakin bahwa Islam di seluruh dunia tidak akan bersinar kembali kalau masih mempunyai sikap hidup secara kuno saja yang menolak tiap-tiap kebaratan dan kemodernan. Al-Quran dan hadis adalah milik kita yang tertinggi, tetapi Al-Quran dan hadis itu baru bisa membawa kemajuan, suatu api yang menyala, kalau kita membaca Al-Quran dan Hadis berdasarkan pengetahuan umum.” (Sukarno, 1964).

Maka, inti gagasan keislaman Bung Karno adalah dimulai pada kritiknya atas keberislaman yang jumud dan dorongan untuk membangun Islam yang berperadaban maju dengan basis pada rasionalisme dan kebebasan. Sehingga Islam tak hanya menjadi agama, tapi world view dan way of life.

Print Friendly, PDF & Email
Continue Reading
You may also like...
Husein Ja'far Al Hadar

Sarjana, Peneliti, dan Penulis Keislaman.

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in Ensiklopedi

To Top