Connect with us

Al-Hikam dalam Tiga Bahasa plus Syarah Syekh Al-Azhar

Buku

Al-Hikam dalam Tiga Bahasa plus Syarah Syekh Al-Azhar

Akhir-akhir ini beberapa penerbit buku di Indonesia berbondong-bondong mempublikasikan buku Al-Hikam versi Indonesia. Fenomena itu juga ditampakkan oleh Wali Pustaka. Namun penerbit buku sufistik dan kepesantrenan itu menerbitkan kitab tasawuf yang legendaris itu dengan cara unik.

Berbeda dari penerbit-penerbit lain, penerbit yang merupakan imprint dari Turos Pustaka itu menyajikan karya Ibnu Atha`illah As-Sakandari itu dalam tiga bahasa: Arab, Indonesia dan Inggris.

Alasan penghadiran tiga bahasa itu tidak diutarakan, tapi dapat ditebak dari orang-orang yang berada di belakang penerbitan buku itu. Mereka alumni Pondok Pesantren Modern Gontor Ponorogo, yang terkenal menggembleng para santrinya dengan tiga bahasa itu.

Selain alasan khusus itu, alasan umumnya juga dapat diprediksi. Pertama, buku tersebut pada dasarnya ditulis dengan bahasa Arab. Sejauh teks aslinya sedikit, maka pencantuman teks aslinya dinilai tidak akan terlalu mempertebal buku dan mempermahal harga. Oleh karena itu, buku tersebut pun menghadirkan teks berbahasa Arab juga.

Kedua, dewasa ini bahasa internasional yang paling populer adalah bahasa Inggris. Islam, di pihak lain, adalah agama internasional. Supaya Islam dan khususnya tasawuf mendunia, maka buku kebijakaaan sufistik itu dihidangkan dengan bahasa yang menjagad tersebut.

Ketiga, buku tersebut ditujukan terutama sekali untuk pembaca Indonesia. Maka, tentu saja, teks terjemahan Indonesia disajikan. Bahkan buku tersebut tidak hanya berisi terjemahan teks Al-Hikam dari bahasa Arab ke bahasa Indonesia, tapi juga memuat penjelasan (syarah) atas teks tersebut yang ditulis oleh Grand Syekh Al-Azhar Mesir periode 1793-1812, yaitu Syekh Abdullah Asy-Syarqawi.

Dengan tiga bahasa dan syarah dari ilmuwan berkaliber tinggi itu, Al-Hikam yang diterbitkan Wali Pustaka punya keunikan istimewa dibandingkan buku-buku Al-Hikam yang dilansir oleh penerbit lain. Gagasan-gagasan abstrak Ibnu Athailah menjadi lebih jernih dipahami lantaran penyajian semacam itu. Hal itu bisa dilihat antara lain di kata mutiara kedua buku itu  (lih., hlm. 4-6):

Ibnu Athaillah mencatat: “Irâdatukat tajrîd ma`a iqâmatillah iyyâka fil asbâb minasy syahwatil khafiyyah, wa irâdatukal asbâb ma`a iqâmatillah iyyâka fît tajrîd inhithâtun `anil himmatil `âliyah.”

Teks Arab itu diingriskan dengan mengacu pada terjemahan Victor Danner menjadi begini: “Your desire for isolation, even though God has put you in the world to gain a living, is a hidden passion. And your desire to gain a living in the world, even though God has put you in isolation is a comedown from lofty aspiration.

Lantas, penerjemah buku itu mengalihbahasakannya ke Indonesia seperti ini: “Keinginanmu untuk lepas dari kesibukan urusan duniawi, padahal Allah telah menempatkanmu di sana, termasuk syahwat yang tersamar. Dan keinginanmu untuk masuk ke dalam kesibukan urusan duniawi, padahal Allah telah melepaskanmu dari itu, sama saja dengan mundur dari tekad luhur.”

Penerjemah mengindonesiakan kata “asbâb” menjadi “kesibukan urusan duniawi”. Padahal secara literal “asbâb” merupakan kata jamak dari “sabab” yang berarti penyebab. Mengapa demikian? Jawabannya bisa dilacak di terjemahan bahasa Inggris yang mengartikan kata “asbâb” dengan “to gain a living in the world”.

Hal tersebut menunjukkan bahwa tiga bahasa di Al-Hikam terbitan Wali Pustaka saling melengkapi dan menjelaskan, dan penjelasan lebih lanjutnya terdapat di syarah Syekh Azhar tersebut.

Terkait dengan pepatah di atas, frasa yang enigma antara lain adalah “asy-syahwatul khafiyyah” (a hidden passion/syahwat yang tersamar). Mengapa menjauhi urusan duniawi justru disebut “syahwat yang tersamar”?

Syekh Abdullah Asy-Syarqawi mengatakan bahwa hal itu dianggap sebagai “syahwat” karena yang dijalani orang semacam itu bukan kehendak Allah, melainkan kehendak orang itu sendiri; dan disebut sebagai “tersamar” karena yang tak terungkap di balik tindakan itu adalah keinginan untuk mendapatkan popularitas dengan ibadah dan kewalian. (lih., hlm. 5)

Penjelasan Syekh Azhar itu menjernihkan pengertian tentang betapa Ibnu Athailah mengkritik orang yang menampakkan asketisme (zuhud) di samping mengkritik orang yang terlalu sibuk dengan perkara duniawi.

Namun ada yang “kurang” dalam syarah Syekh Asy-Syarqawi. Pemimpin Al-Azhar itu mengatakan di akhir komentarnya atas peribahasa tersebut bahwa yang ideal adalah “tetap diam di tempat yang telah ditetapkan dan diridlai oleh Allah, sampai Allah mengeluarkan dari tempat itu.” (lih., hlm. 6)

Ada nuansa fatalistik di ungkapannya itu. Apakah Ibnu Athailah berpandangan semacam itu atau tidak, bisa dilacak di buku Al-Hikam tersebut. Yang jelas, bila yang menjadi persoalan adalah kehidupan dunia dan akhirat, maka seyogianya Al-Quran Surat Al-Qashash ayat 77 yang menjadi acuan.

Di ayat itu, Allah swt. mendorong kita untuk mencari kehidupan akhirat tanpa melupakan kehidupan dunia. Artinya, perlu keseimbangan di dua kehidupan itu; dan lebih dari pada itu, harus ada “upaya” untuk menyempurnakan keduanya, bukan sekadar “diam” menerima kondisi yang ada.[]

 

Judul buku          : Al-Hikam: Kitab Rujukan Ilmu Tasawuf Edisi Lengkap 3 Bahasa

Penulis                 : Ibnu Athaillah As-Sakandari

Pensyarah           : Syekh Abdullah Asy-Syarqawi

Penerjemah       : Imam Firdaus

Editor                    : Yodi Indrayadi, Luqman Hakim Arifin dan Agus Khudlori

Penerbit              : Wali Pustaka (Imprint Turos Pustaka), Jakarta.

Tahun terbit       : Cetakan I, April 2016; Cetakan II, Maret 2017.

Tebal                     : 420 halaman

ISBN                      : 978-602-74064-1-4

Harga: Rp. 80.000 (sebelum diskon).

Diskon         : Dapatkan diskon 17% dengan menghubungi email Syiar Nusantara

Print Friendly, PDF & Email
Zainul Maarif

Dosen dan Peneliti di bidang Filsafat dan Agama. Alumni Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir ini telah mempublikasikan beberapa buku: "Imam Syafi'i: Ar-Risalah" (2018), "An-Naisaburi: Kitab Kebijaksanaan orang-orang Gila" (2017), "Logika Komunikasi" (2015, 2016), "Ibnu Arabi: Rahasia Asmaul Husna" (2015), "Retorika: Metode Komunikasi Publik" (2014, 2015), "Pos-Oksidentalisme: Identitas dan Alteritas Pos-Kolonial" (2013), "Filsafat Yunani" (2012), "Al-Jauziyah: Surga Yang Dijanjikan" (2011), "Pos-Oksidentalisme: Dekonstruksi atas Oksidentalisme Hassan Hanafi" (2007), "Sosiologi Pemikiran Islam" (2003), "Dekonstruksi Islam: Elaborasi Pemikiran Hassan Hanafi dan Nasr Hamid Abu Zaid" (2003).

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in Buku

To Top