Connect with us

Reza Rahadian dan Indonesia sebagai Negara Semua untuk Semua

SUARA

Reza Rahadian dan Indonesia sebagai Negara Semua untuk Semua

Dalam acara Hitam Putih pada 17 Agustus 2017, aktor muda Reza Rahadian menyatakan: “Ini Negara Indonesia, bukan negara Islam. Ini negara yang majemuk, bukan negara milik satu agama tertentu. Ini negara milik kita semua yang ada di sini, beda suku, beda keyakinan, and that’s the beauty of Indonesia”.

Komentar itu terdengar “sumbang” bagi sebagian orang. Sebelumnya, perlu ditegaskan di sini bahwa setiap kita menilai sebuah pernyataan bermasalah atau tidak itu sah-sah saja. Yang menjadi penting sebenarnya adalah tolok ukur suatu pernyataan itu bermasalah atau tidak. Seperti ditegaskan dalam Al-Quran QS. Al-Maidah: 8, jangan sampai asasnya adalah kebencian. Baca, periksa, dan nilailah setiap pernyataan atau sikap secara adil.

Kembali pada pernyataan Reza, jika kita membaca sejarah, secara substansi, komentar itu sebenarnya tak berbeda dengan pernyataan Bung Karno dalam pidatonya di sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada 1 Juni 1945, yakni:
”Saudara-saudara yang bernama kaum kebangsaan yang di sini, maupun saudara-saudara yang dinamakan kaum Islam, semuanya telah mufakat, bahwa bukan negara yang demikian itulah kita punya tujuan. Kita hendak mendirikan suatu negara semua buat semua. Bukan buat satu orang, bukan buat satu golongan, baik golongan bangsawan, maupun golongan yang kaya, tetapi semua buat semua. Kita mendirikan negara Indonesia, yang kita semua harus mendukungnya. Semua buat semua! Bukan Kristen buat Indonesia, bukan golongan Islam buat Indonesia, bukan Hadikoesoemo buat Indonesia, bukan Van Eck buat Indonesia, bukan Nitisemito yang kaya buat Indonesia, tetapi Indonesia buat Indonesia, semua buat semua! Negara Republik Indonesia ini bukan milik sesuatu golongan, bukan milik sesuatu agama, bukan milik sesuatu suku, bukan milik sesuatu golongan adat-istiadat, tetapi milik kita semua.”

Apa yang diungkapkan Bung Karno dan juga Reza adalah sebuah realitas Indonesia bahwa Indonesia bukan Tanah Air satu entitas, melaiankan banyak entitas: baik suku, agama, ras, dll. Negeri ini juga merdeka bukan lantaran perjuangan satu entitas, melainkan seluruh entitas yang ada di Indonesia itu. Oleh karena itu, seperti kata Bung Karno, ini adalah negeri semua buat semua!

Negeri ini juga memang tak berlandaskan pada satu entitas. Sejak awal, bangsa Indonesia merumuskan, mengesahkan, dan memegang teguh Pancasila sebagai kalimatun sawa’ (common platform). Ia lahir dari kebersamaan itu tadi, seperti sering dikutip Bung Karno dari Otto Bauer: “komunitas karakter yang berkembang dari komunitas pengalaman bersama.” Termasuk oleh tokoh-tokoh Islam nasionalis seperti Ki Bagus Hadikusumo, Kasman Singodimejo, Agus Salim, Wahid Hasyim, dan Abdul Kahar Muzakar.

Benar pula kata Reza: “that’s the beauty of Indonesia”. Di sanalah salah satu pesona indah Indonesia, di mana semua bisa hidup berdampingan, saling menghargai, gotong royong, dan membangun harmoni. Bukankah itu juga amanat Al-Qur’an, di mana kita diperintahkan untuk “berlomba-lomba dalam kebaikan”. Karena memang sebaik-baiknya dakwah, sebagaimana ditunjukkan oleh pendakwah dahulu kita ketika masuk ke Nusantara adalah dengan menebar kebaikan, sehingga orang-orang akan merasakan langsung kebaikan ajaran ini. Juga dengan tetap menghargai, beradaptasi, bahkan mengakomodasi nilai-nilai kearifan bangsa ini.

Realitas kita sebagai umat dan rakyat tentu berbeda. Kita ini umat Islam di satu sisi, juga rakyat Indonesia di sisi lain. Namun, bukan berarti keduanya berjalan sendiri-sendiri, apalagi bertentangan. Keduanya bisa dan memang wajib beriringan dalam membangun kehidupan bersama di sini.

Lalu, apa yang membuat pernyataan semacam itu kini terdengar “sumbang” bagi sebagian kita? Bisa jadi lantaran sudah termakannya kita oleh ragam propaganda yang mau membenturkan identitas keumatan dan kerakyatan kita. Sesuatu yang menyebabkan negara-negara Timur Tengah porak-poranda dengan isu “Arabisme” dan “Islamisme”. Kita menjadi sangat sensitif, penuh kecurigaan, dan tendensius kepada saudara-saudara kita sesama rakyat Indonesia. Bahkan, sebagian kita telah lebih dulu memendam perasaan semacam itu di tengah persaudaraan kita sebagai umat Islam, sehingga kita menjadi orang yang gemar mengkafirkan (takfiri) sesama muslim. Bertolak belakang dengan pendakwah terdahulu yang justru mengajak yang kafir untuk masuk dalam panji Islam. Jadi, kita perlu merenungkan, Reza, Bung Karno, dan para tokoh Islam itu yang salah, atau kita yang entah kenapa begitu mudah dan cepat menyalahkan? Sebagaimana mereka yang takfiri itu juga harus bertanya: mereka yang mereka sebut kafir itu yang kafir atau justru kalangan takfiri itu yang terlalu mudah dan cepat mencap kafir? Jangan sampai karena itu justru kita yang jadi salah dan kafir sejatinya. Mari sudahi semua ini!

Print Friendly, PDF & Email
Continue Reading
You may also like...
Husein Ja'far Al Hadar

Sarjana, Peneliti, dan Penulis Keislaman.

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in SUARA

To Top