Connect with us

Menanggulangi Krisis Hoax

SUARA

Menanggulangi Krisis Hoax

Saat ini informasi hadir di mana-mana (omnipresent): sangat mudah didapatkan dan disebarkan. Kini tiap orang tidak hanya menjadi konsumen, tapi juga produsen kabar. Terutama melalui internet, masing-masing orang sekarang bisa menyerap berita sekaligus menyosialisasikanya.

Dengan demikian, kita menjalani apa yang disebut oleh Jean Baudrillard sebagai “ekstasi komunikasi”. Lebih daripada itu, kita mengalami apa yang saya sebut sebagai “surplus informasi”: kondisi berlimpah ruahnya berita, lantaran masing-masing orang bebas mengumbar pesan.

Freedom of encoding and decoding message itu memang memberikan banyak kabar. Tapi dari sekian banyak informasi, kita temukan berbagai macam hoax, alias berita bohong.

Ada hoax berbentuk meme: gambar yang direkayasa dengan campuran kata-kata yang tak jarang menyudutkan orang. Ada hoax berbentuk tulisan panjang, yang seolah-olah benar, padahal landasannya tidak jelas. Ada pula hoax berbentuk video yang diedit sedemikian rupa, lalu disebarkan dan ditafsirkan seenaknya, lalu menimbulkan kericuhan sosial.

Dalam filsafat Plato, hoax semacam itu disebut sebagai doxa: pengetahuan yang tidak jelas kebenarannya, bahkan dekat dengan kekeliruan dan kesalahan.

Di peradaban Islam, hoax disebut sebagai hadîts maudhû’ (berita palsu yang dibuat-buat) atau hadîtsul ifki (berita bohong) yang tergolong sebagai naba’ul fâsiq (berita dari orang berperangi buruk).

Dewasa ini, berita buruk itu menyebar luas, bahkan dibisniskan, dan pada titik tertentu meresahkan. Apa yang harus kita lakukan terhadap hoax alias doxa alias hadîts maudhû’ alias hadîtsul ifki dan naba’ul fâsiq itu?

Menurut Plato, doxa dapat diatasi dengan dialog yang bertujuan mencapai episteme: yaitu pengetahuan yang berlandasan kuat dan dapat dipertanggungjawabkan. Adapun Al-Quran menawarkan konsep “tabâyun” (klarifikasi):

Apabila orang fasik membawa berita kepada kalian, maka telitilah kebenarannya, agar kalian tidak mencelakai suatu kaum karena kebodohan kalian, yang akhirnya kalian sesali”. (QS. Al-Hujurât: 6).

Allah swt. menyuruh kita meninjau ulang berita yang kita dapatkan, karena tidak semua kabar layak diamini dan disebarkan. Ada berita benar, baik dan indah yang dapat dikategorikan sebagai episteme sempurna. Tapi ada juga berita salah, buruk dan jelek yang bisa disebut sebagai doxa yang parah.

Selain dua jenis berita yang beroposisi secara diametral itu, ada berita yang indah, tapi ternyata berakibat buruk dan salah, seperti yang tampak pada apa yang saat ini disebut sebagai “modus”: modal dusta.

Ada juga kabar yang sepertinya benar, tapi ternyata tak sungguh-sungguh benar, bahkan acapkali berefek buruk, seperti yang kita dapatkan pada gosip, berita politik dan berita-berita yang mempolitisasi agama.

Karena ada beragam berita yang mungkin benar atau salah, baik atau buruk, indah atau jelek, maka kita perlu pedoman untuk mendapatkan berita yang sungguh-sungguh episteme dan terhindar dari berita yang notabene doxa.

Al-Quran memberikan tuntunan bersifat analogis untuk kebutuhan kita itu. Mengenai perkataan baik, Al-Quran mengumpamakannya dengan “pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya menjulang ke langit, dan menghasilkan makanan di setiap waktu seizin Allah”. (QS. Ibrahim: 24-25)

Artinya, perkataan yang baik adalah perkataan yang hidup dan menghidupkan, memberikan inspirasi untuk hidup dengan baik. Lebih daripada itu, perkataan baik adalah perkataan yang punya landasan kuat, bukan “asbun” (asal bunyi) dan/atau sekadar “copy paste”, melainkan kata-kata yang punya dasar rasional dan faktual yang teruji koherensi dan korespondensinya.

Di pihak lain, Allah menyerupakan perkataan buruk dengan “pohon yang buruk, yang telah dicabut akar-akarnya dari permukaan bumi, dan tidak bisa berdiri tegak”. (QS. Ibrahim: 26)

Maksudnya, perkataan buruk adalah perkataan yang tidak punya dasar, dan tak lebih dari karangan. Ia semacam gosip yang faktualitasnya goyah, dan tak sepatutnya dijadikan sebagai sandaran, terlebih jika perkataan itu salah, disampaikan secara jelek dan berakibat buruk.

Perkataan buruk semacam itu adalah doxa yang bisa menimbulkan dosa, dan seharusnya tidak disampaikan bahkan perlu dicegah. Bila tidak dihentikan dan justru disebarkan, maka krisis hoax akan menimpa kita semua.

Supaya tidak terjadi krisis hoax, Nabi Muhammad saw. menambahkan konsep “tabayun” ala Al-Quran tersebut dengan resep simpel yang bisa dilakukan semua orang. Rasulullah bersabda, “Qul khairan awis mut!” (berkatalah yang baik atau diam!).

Seharusnya, yang muncul dari kita adalah perkataan baik (sekaligus benar dan indah)  yang diutarakan dengan cara baik, benar dan indah, berlandaskan rasionalitas dan faktualitas yang kuat, dan dapat menginspirasi kehidupan yang verum, bonum, pulchrum (benar, baik dan indah).

Sekiranya kita tidak memiliki perkataan sedemikian rupa, maka sebaiknya kita diam, supaya tidak ada kegaduhan berita buruk, jelek dan salah di sekitar kita.[]

Print Friendly, PDF & Email
Zainul Maarif

Dosen dan Peneliti di bidang Filsafat dan Agama. Alumni Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir ini telah mempublikasikan beberapa buku: "Imam Syafi'i: Ar-Risalah" (2018), "An-Naisaburi: Kitab Kebijaksanaan orang-orang Gila" (2017), "Logika Komunikasi" (2015, 2016), "Ibnu Arabi: Rahasia Asmaul Husna" (2015), "Retorika: Metode Komunikasi Publik" (2014, 2015), "Pos-Oksidentalisme: Identitas dan Alteritas Pos-Kolonial" (2013), "Filsafat Yunani" (2012), "Al-Jauziyah: Surga Yang Dijanjikan" (2011), "Pos-Oksidentalisme: Dekonstruksi atas Oksidentalisme Hassan Hanafi" (2007), "Sosiologi Pemikiran Islam" (2003), "Dekonstruksi Islam: Elaborasi Pemikiran Hassan Hanafi dan Nasr Hamid Abu Zaid" (2003).

1 Comment

1 Comment

  1. Riska Zakiah

    August 25, 2017 at 4:54 pm

    Cocok untuk zaman sekarang berita hoax sudah menjadi konsumen publik dan sangat meresahkan karna kejujuran tidak lagi dijungjung tinggi .

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in SUARA

To Top