Connect with us

Puisi: Alat Perlawanan Penyair Palestina

Artikel

Puisi: Alat Perlawanan Penyair Palestina

Mukjizat utama Nabi Muhammad bukan membelah lautan seperti Nabi Musa atau menghidupkan orang yang sudah mati seperti Nabi Isa. Yang memukau orang Arab Jahiliyah saat itu adalah kata-kata: puisi. Syair dikontestasikan kala itu sebagai gengsi. Di antara tiga nama penyair utama Arab pra-Islam adalah Umru al-Qais, Zuhair bin Abi Sulma, dan Al-Nabighah Al-Dzibyani. Yang disebut terakhir, puisi-puisinya sangat disukai alm. Gus Dur. Bagi Gus Dur, puisi-puisi Al-Nabighah ‘lah yang mempengaruhi hidupnya. Bahkan, dari puisi-puisinya itu pula kemudian Gus Dur mampu merubah dirinya sebagai sosok pemberani dan tokoh pluralisme (PLUR: peace, love, unity and respect).

Puisi-puisi terbaik akan ditulis dalam lembaran khusus dengan menggunakan tinta emas, lalu digantungkan di dinding Ka’bah sebagai penghormatan bagi penyairnya. Praktis, puisi mempunyai gengsi-nya tersendiri. Ia adalah “kekuatan”: dibacakan sebelum perang untuk membakar semangat pasukan dalam perang. Puisi juga alat daya tawar: para penyair berusaha mendekatkan dirinya kepada para pembesar dengan puisi-puisi yang indah dan heroik.

Maka, sesuai zamannya, mukjizat Nabi Muhammad adalah Al-Qur’an dengan kandungan dan kualitas puitis terbaik saat itu hingga kini, dan –bagi yang mengimaninya- ia diyakini akan tetap terbaik sepanjang zaman. Bukan hanya di mata pengimannya, tapi juga musuh. Salah satunya dari ucapan Al Walid bin Mughirah, salah seorang tokoh pembesar Quraisy: “Demi Allah, ini bukanlah syair dan bukan sihir, serta bukan pula igauan orang gila, dan sesungguhnya ia adalah Kalamullah yang memiliki kemanisan dan keindahan. Dan sesungguhya ia (al-Qur’an) sangat tinggi (agung) dan tidak yang melebihinya.” (Lihat Ibnu Katsir juz 4 hal 443). Atau dalam redaksi lain sebagaimana ditulis Syaikh Syafiurrahman Al Mubarakfuri dalam kitab “Siroh”-nya: “Demi Allah! Sesungguhnya ucapan yang dikatakannya itu amatlah manis dan indah. Akarnya ibarat tandan anggur dan cabangnya ibarat pohon yang rindang. Tidaklah kalian menuduhnya dengan salah satu dari hal tersebut melainkan akan diketahui kebatilannya.”

Maka, di Arab, puisi memiliki kekuatan sendiri. Karena itu, di Palestina, puisi juga menjadi salah satu “senjata” perlawanan. Dari generasi ke generasi, lahir puisi-puisi untuk Palestina dari orang Palestina, seperti Jabra Ibrahim Jabra (1920-1994), Ghassan Kanafani (1936-1972), hingga Sahar Khalifa, Ezzidine Al-Manacirah, Layla Nabulsi, Samih Al-Qasim, Anton Shammas, Sami Al-Sharif, Ibrahim Souss, juga Tamim Al-Barghouti yang dijuluki “Raja Penyair”. (Baca: Untuk Palestina: Gus Mus, Puisi, dan Perlawanan)

Di samping itu, ada nama lima penyair papan atas disebut-sebut sebagai ikon Palestina, yakni Mahmoud Darwish, Ibrahim Touqan, Abu Salma, Abdelrahim Mahmud dan Kamal Nasir. Mereka layak disebut sebagai promotor atas lahirnya puisi perlawanan, sejak zaman penjajahan Inggris di Palestina.

Salah satu puisi Mahmoud Darwish:

Camkan!/Aku adalah orang Arab/Dan nomor KTP 50.000/Aku punya delapan anak-anak/Dan yang kesembilan/ akan datang setelah musim panas/ Apakah kamu akan marah?/ Leluhurku/ Telah ada sebelum lahirnya zaman/ Dan sebelum munculnya masa/ Sebelum pinus dan zaitun/ Sebelum tumbuhnya padang rumput/ Kau curi ladang bapaku/Dan tanah tempat kami bercocok tanam/ Aku dan seluruh anak-anakku/ Dan untukku dan cucu-cucuku/ Tak satu pun yang kau sisakan/ Kecuali batu-batu/ Akankah penguasa kalian merebutnya juga dari kami?//

Adapun Kamal Nasir, ketika usianya 13 tahun, ia memenangkan lomba puisi di sekolahnya. Masa mudanya jadi wartawan sekaligus memperkuat posisinya sebagai penyair, hingga menjadi Pemimpin Redaksi Majalah Falasteen Al-Thawrah. Pada 1973, ribuan pengungsi dideportasi dari Palestina termasuk para dosen, guru, dokter dan tokoh profesional lainnya. Saat itulah Kamal Nasir ditembak oleh pasukan Israel. Kemanakannya, Tania Tamari Nasir menceritakan bagaimana ia menyaksikan foto-foto saat Kamal Nasir dibunuh. Kamal ditembak dengan muntahan sejumlah peluru, tubuhnya disalibkan pada dua buah rudal yang diletakkan di lantai, kemudian ditembak.

Salah satu gubahan puisi monumental Kamal Nasir:

Aku akan memberitahu kamu sebuah cerita/ Sebuah cerita yang hidup di dalam mimpi manusia/ Sebuah cerita yang berasal dari dunia bawah tenda/ Dibuat oleh kelaparan dan dihiasi dalam gelap malam/ Di negeri saya, dan negeri saya adalah segelintir pengungsi/ Dari dua puluh orang terkumpul setengah kilo tepung/ Dan menjanjikan sebuah relief … bingkisan parsel/ Ini adalah cerita tentang kelompok penderitaan/Yang berdiri selama sepuluh tahun dalam kelaparan/ Menangis dan sekarat/Dalam kesulitan dan hasrat.//

Puisi adalah cara penyair melawan. Seperti pedang bagi ksatria, tembak bagi tentara, uang bagi hartawan, kedudukan bagi politisi, dan seterusnya. Tak ada yang lebih atau kurang dari masing-masing itu. Semua punya kekuatannya sendiri-sendiri. Justru menjadi kelemahan jika penyair disuruh melawan dengan pedang.

Print Friendly, PDF & Email
Continue Reading
You may also like...
Husein Ja'far Al Hadar

Sarjana, Peneliti, dan Penulis Keislaman.

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in Artikel

To Top