Connect with us

Universalitas Haji dan Umroh

Ensiklopedi

Universalitas Haji dan Umroh

Haji dan umroh memang mengandung muatan lokal budaya Arab. Tapi ada nilai-nilai universal di dalam dua ritual itu yang memungkinkan orang-orang non Arab menghayati keduanya.

Fikih (disiplin hukum Islam) tidak bisa menjadi sarana untuk menangkap universalitas haji dan umroh, karena fikih berkutat dengan perilaku lahiriah. Tasawuf (disiplin mistik Islam), di pihak lain, merupakan salah satu pintu untuk mengetahui makna batin yang dapat diglobalkan di balik kegiatan menapaktilasi pengalaman spiritual Ibrahim, Hajar dan Ismail itu.

Untuk menangkap arti haji dan umroh secara mendalam dan meluas, dua buku babon mistisisme Islam bisa dijadikan rujukan, yaitu kitab Ihyâ’ `Ulumiddîn karya Al-Ghazali dan kitab Al-Futûhâtul Makkiyyah karya Ibnu Arabi.

Di kitab pertama, Al-Ghazali menulis rahasia-rahasia haji sepanjang 38 halaman (lih., Al-Ghazali, Ihyâ’ `Ulumiddîn, Beirut: Darul Fikr, 1995, vol. I, h. 303-341). Di kitab kedua, Ibn Arabi mencatat tema yang sama hingga 239 halaman (lih., Ibn Arabi, Al-Futûhâtul Makkiyyah, Beirut: Darul Kutubil Ilmiyyah, 1999, vol. II,  h. 319-558).

Al-Ghazali mengulas (1) keutamaan haji dan tempat pelaksanaannya, (2) syarat, rukun, kewajiban dan larangan dalam haji, (3) aspek lahiriah dalam ritual haji, dan (4) aspek batiniah di dalamnya. Di situ, Hujjatul Islam menggabungkan fikih dan tasawuf untuk mengungkap eksoterisitas dan esoterisitas haji.

Pada esoterisitas haji itu universalitas haji tercandra. Menurut Al-Ghazali, haji merupakan upaya mendekati Tuhan laksana upaya para pendeta. Para spiritualis tersebut kerap menyendiri dan mengekang diri demi memuji dan “menyatu” dengan Ilahi. Kerendahhatian para pendeta dan rahib dalam kondisi semacam itu pun dipuji oleh Al-Quran surat Al-Maidah ayat 82.

“Allah swt.”, kata Al-Ghazali, “menjadikan haji sebagai kependetaaan bagi para pelaksananya.” (Al-Ghazali, 1995: I: 335)  Pada haji, lanjutnya, terdapat makna yang perlu disadari bahwa “upaya mendekati Tuhan tidak dapat dicapai tanpa mengesampingkan syahwat, menahan diri dari nikmat, membatasi diri dengan hal-hal primer, dan mengosongkan diri di segala gerak dan diam untuk Ilahi.” (Al-Ghazali, 1995: I: 334).

Itu makna universal haji versi Al-Ghazali. Adapun Ibn Arabi mencandra arti umum haji sebagai upaya “mengulangi-ulangi tekad menuju tujuan”, sedangkan “umroh adalah ziarah”. (Ibn Arabi, 1999: II: 419) Apa yang dituju dan diziarahi? Tuhanlah jawabannya.

Dalam haji dan umroh, orang berupaya mendatangi Tuhan secara berulang-ulang, melalui ritual yang dilakukan berulang-ulang pula (seperti thawaf tujuh putaran). Tuhanlah yang menjadi tujuan utama. Tuhan pula yang sejatinya dikunjungi.

Manusia dari mana pun bergerak menuju Tuhan. Manusia mungkin melupakan Tuhan bahkan menafikannya. Tapi pada saat manusia berharap, manusia mana pun secara sadar ataupun tidak sadar sedang menghadap Tuhan. Adakah orang yang terus menerus kosong dari harapan? Tentu tidak ada.

Tiap manusia selalu punya momen berharap; dan karena itu, punya momen bertuhan. Pada haji dan umroh, manusia diundang untuk mengeskalasi momen itu supaya dekat dengan Sang Harapan.

Allah swt. mengundang manusia yang mampu secara lahir dan batin untuk menghadap-Nya melalui tindakan asketis di Makkah dan sekitarnya. (QS. Ali Imran: 97) Undangan itu berupa kemampuan fisik, intelektual, spiritual dan finansial.

Bila undangan itu sudah datang pada Anda, silakan Anda datang ke tempat di mana Tuhan mengundang. Jika undangan itu belum hadir padamu, kamu mungkin perlu berupaya dan berharap mendapatkan undangan itu, tapi tanpa memaksakan diri berangkat di kondisi yang masih berat.[]

Print Friendly, PDF & Email
Zainul Maarif

Dosen dan Peneliti di bidang Filsafat dan Agama. Alumni Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir ini telah mempublikasikan beberapa buku: "Imam Syafi'i: Ar-Risalah" (2018), "An-Naisaburi: Kitab Kebijaksanaan orang-orang Gila" (2017), "Logika Komunikasi" (2015, 2016), "Ibnu Arabi: Rahasia Asmaul Husna" (2015), "Retorika: Metode Komunikasi Publik" (2014, 2015), "Pos-Oksidentalisme: Identitas dan Alteritas Pos-Kolonial" (2013), "Filsafat Yunani" (2012), "Al-Jauziyah: Surga Yang Dijanjikan" (2011), "Pos-Oksidentalisme: Dekonstruksi atas Oksidentalisme Hassan Hanafi" (2007), "Sosiologi Pemikiran Islam" (2003), "Dekonstruksi Islam: Elaborasi Pemikiran Hassan Hanafi dan Nasr Hamid Abu Zaid" (2003).

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in Ensiklopedi

To Top