Connect with us

Palestina: Gus Dur, Gus Mus dan Ulil

SUARA

Palestina: Gus Dur, Gus Mus dan Ulil

Ada tanda-tanda di perhelatan “Doa untuk Palestina” di Taman Ismail Marzuki (TIM, Jakarta) pada tanggal 24 Agustus 2017 yang mengulangi acara serupa di tempat yang sama di tahun 1982 dengan tema “Malam Palestina”. Pada tanda-tanda itu, penanda (signifier: sesuatu yang menandai sesuatu yang lain) dan petanda (signified: sesuatu yang ditandai sesuatu yang lain) mengemuka.

Abdurrahman Wahid, alias Gus Dur adalah penyelenggara event “Malam Palestina” tahun 1982. Kala itu, cucu pendiri Nahdlatul Ulama’ (NU) itu tak hanya menjabat sebagai ketua PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama), tapi juga sebagai ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) yang meminta Musthafa Bisri, alias Gus Mus, membacakan puisi tentang Palestina dalam bahasa Arab.

Di acara “Doa untuk Palestina” tahun 2017, Gus Mus yang menjadi tokoh utama. Sastrawan sekaligus kyai NU karismatik itu tidak hanya menampilkan para penyair, tapi juga tokoh publik non sastrawan untuk melantun puisi tentang tanah yang masih dijajah di Timur Tengah itu.

Salah seorang publik figur yang mendendangkan puisi di “Doa untuk Palestina” itu adalah Ulil Abshar Abdalla. Menantu Gus Mus, yang lebih dikenal sebagai pemikir NU itu, menyuarakan sajak berbahasa Arab mengenai Palestina.

Ada semacam penyerahan tongkat estafet dalam dua fenomena itu. Gus Dur memberi panggung untuk Gus Mus. Lalu, Gus Mus menyerahkan tugasnya dari Gus Dur dulu kepada Ulil.

Tongkat estafet itu secara eksplisit adalah pembacaan puisi berbahasa Arab tentang Palestina. Puisi itu menandai doa dan solidaritas, sementara Arab Palestina menandai manusia-manusia yang lemah, terjajah dan tertindas (mustadzh`afîn).

Sejauh tongkat estafet itu bermula dari Gus Dur yang secara geneologis dan ideologis adalah santri dan kyai NU, maka pembacaan puisi Palestina oleh Gus Mus kemudian oleh Ulil itu merupakan seruan untuk semua kyai dan santri NU berempati bahkan berjuang untuk kaum mustadh`afîn.

Nahdlatul Ulama’ merupakan organisasi Islam terbesar di Indonesia, sementara Indonesia dimayoritasi oleh umat Islam. Mendorong orang-orang NU membela masyarakat lemah, dengan begitu, mendorong mayoritas bangsa Indonesia.

Bangsa Indonesia beraneka ragam. Oleh karena itu, Gus Dur kemudian Gus Mus tidak hanya melibatkan orang-orang NU. Orang-orang dari lintas suku, agama, ras dan budaya (SARA) diturutsertakan dan diundang juga supaya seruan empati pada yang tersakiti menasional.

Pada momen Gus Dur kemudian Gus Mus melibatkan orang-orang Indonesia dari beragam latarbelakang, dua tokoh sentral NU itu sedang melaksanakan prinsip ukhuwwah wathaniyyah (persaudaraan sebangsa). Ketika kyai-kyai NU itu mendorong semua elemen bangsa berdoa dan berjuang untuk keterlepasan Palestina dari kondisi kelam, mereka sedang mempraktekkan prinsip ukhuwwah basyariyah (persaudaraan sesama manusia).

Prinsip terakhir itulah pendorong Gus Dur, Gus Mus dan Ulil memperhatikan Palestina. Yang didoakan bukan Palestina sebagai saudara seagama, melainkan sebagai saudara sesama manusia yang sampai saat ini belum bebas dan harus dibebaskan.

Di ranah itu, tiga tokoh NU itu menunjukkan dua hal. Pertama, pemerhati kebebasan Palestina tidak hanya muslim-muslim garis keras, tapi juga muslim-muslim tradisionalis, nasionalis, pluralis bahkan liberalis.

Kedua, perhatian kedua kelompok muslim itu terhadap Palestina berbeda perspektif. Muslim-muslim garis keras membela Palestina dengan konsepsi: Palestina adalah umat Islam yang dijajah umat Yahudi.

Sebaliknya, muslim-muslim sehaluan tokoh-tokoh NU itu mengetahui bahwa di Palestina banyak juga tokoh penting non Muslim yang ingin memerdekakannya, semisal Edward Said. Mereka juga menyadari bahwa konflik di Palestina bukan konflik agama, melainkan konflik agraria, yang mencederai harkat martabat manusia.

Meski terdapat perbedaan sudut pandang, mereka semua punya satu tujuan, yang seharusnya diarusutamakan, yaitu mendorong ke arah kemerdekaan bangsa Palestina. Semoga harapan itu terwujud segera![]

Print Friendly, PDF & Email
Zainul Maarif

Dosen dan Peneliti di bidang Filsafat dan Agama. Alumni Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir ini telah mempublikasikan beberapa buku: "Imam Syafi'i: Ar-Risalah" (2018), "An-Naisaburi: Kitab Kebijaksanaan orang-orang Gila" (2017), "Logika Komunikasi" (2015, 2016), "Ibnu Arabi: Rahasia Asmaul Husna" (2015), "Retorika: Metode Komunikasi Publik" (2014, 2015), "Pos-Oksidentalisme: Identitas dan Alteritas Pos-Kolonial" (2013), "Filsafat Yunani" (2012), "Al-Jauziyah: Surga Yang Dijanjikan" (2011), "Pos-Oksidentalisme: Dekonstruksi atas Oksidentalisme Hassan Hanafi" (2007), "Sosiologi Pemikiran Islam" (2003), "Dekonstruksi Islam: Elaborasi Pemikiran Hassan Hanafi dan Nasr Hamid Abu Zaid" (2003).

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in SUARA

To Top