Connect with us

Saleh Ritual, Saleh (Juga) Sosial-nya

Artikel

Saleh Ritual, Saleh (Juga) Sosial-nya

Kita, umat Islam ini perlu berterima kasih pada penelitian yang dilakukan oleh Scheherazade. S Rehman dan Hossein Askari dari The George Washington University yang bertajuk ”How Islamic are Islamic Countries”. Dari penelitian yang dipublikasikan dalam Global Economy Journal (Berkeley Electronic Press), hasilnya memang mengejutkan, namun –sebagaimana akan dibahas selanjutkan dalam artikel ini- akan ada hikmah penting yang bisa kita ambil. Hasilnya adalah bahwa dari 208 negara di dunia yang diteliti, dalam 2010 dan 2014 memperlihatkan justru negara-negara non-Muslim menempati posisi teratas dan negara-negara Muslim (termasuk negara Islam) menempati posisi bawah. Arab Saudi berada di urutan ke-131. 56 negara Muslim yang menjadi anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), rata-rata berada di urutan ke-139 dari sebanyak 208 negara yang disurvei. Tak terkecuali Indonesia. Negeri berpenduduk Muslim terbesar di dunia ini berada di urutan ke-140. Adapun di urutan pertama dan kedua berturut-turut justru adalah negara-negara non-Muslim: Selandia Baru dan Luksemburg.

Apa kita harus curiga dan marah karena penelitian itu dilakukan oleh dua orang dari universitas di negara non-Muslim? Tunggu dulu! Pada awal 2016, tepatnya dari kurun waktu Januari sampai Maret, Maarif Institute yang merupakan lembaga Muslim melakukan penelitian serupa dalam lingkup kota-kota di Indonesia dengan tajuk “Indeks Kota Islami (IKI) di Indonesia”. Hasil penelitian relatif sama: dominasi pemeluk suatu agama (Islam dalam hal ini) tidak menentukan tinggi-rendahnya nilai Indeks Kota Islami. Terbukti, Denpasar yang merupakan kota berpenduduk mayoritas Hindu justru berada di urutan atas, yakni urutan ke-3. Adapun kota-kota yang menerapkan syariat Islam, seperti Aceh berada di urutan bawah atau maksimal di tengah, yakni peringkat ke-14.

Lalu, kenapa bisa begitu? Begini, jika indikatornya adalah ibadah, besar kemungkinan negara-negara Muslim berada di urutan teratas. Jelas saja, karena negara-negara non-Muslim dihuni oleh mayoritas non-Muslim, sehingga takkan ada yang beribadah sesuai Islam di sana. Ditambah lagi, kita ini memang sangat unggul kalau soal ibadah. Jangankan salat Jum’at, salat subuh berjamaah di masjid saja kian begitu populer dan dipadati umat Islam. Namun, apakah indikator keislaman memang hanya ibadah? Tentu tidak! Ibadah hanya salah satunya, dan itupun telah masuk dalam indikator penelitian di atas, sebagaimana akan saya paparkan di paragraf selanjutnya. Bumi ini adalah “sajadah panjang”, di mana setiap perilaku kita bisa bernilai ibadah jika itu adalah kelakuan baik dan diniatkan untuk Allah: bekerja, mencari ilmu, bahkan tidur sekalipun.

Ajaran dasar Islam yang dijadikan indicator penelitian di atas, yang tentunya diambilkan dari Al Quran dan hadis sebagai dua sumber utama Islam, dikelompokkan menjadi lima aspek. Pertama, ajaran Islam mengenai hubungan seseorang dengan Tuhan dan hubungan sesama manusia. Kedua, sistem ekonomi dan prinsip keadilan dalam politik serta kehidupan sosial. Ketiga, sistem perundang-undangan dan pemerintahan. Keempat, hak asasi manusia dan hak politik. Kelima, ajaran Islam berkaitan dengan hubungan internasional dan masyarakat non-Muslim.

Lalu, bagaimana kita memahami semua itu? Persis seperti telah disindir Muhammad Abduh, Pembaharu Islam Mesir yang pernah berkata: “Saya melihat Muslim di Mesir, tapi saya tak melihat Islam di sini. Adapun di Eropa saya tak melihat Muslim, namun saya melihat Islam di sana.” Muslim belum tentu berperilaku islami, dan non-Muslim bisa jadi kelakuannya islami. Karena berislam belum tentu menjalankan secara konsisten Islamnya, kecuali mungkin dalam ibadah saja. Dan bisa saja non-Muslim melakukan kebaikan karena dorongan akal dan hatinya yang itu sesuai dengan ajaran Islam. Tak usah jauh-jauh: kebersihan, kedisiplinan, dll.

Sebagaimana diungkapkan dalam tulisannya di Kompas oleh mantan Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, Komaruddin Hidayat. Para ustaz dan kiai yang diberangkatkan ke Jepang selama dua minggu dalam suatu program yang telah berlangsung enam tahun atas kerja sama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan Kedutaan Besar Jepang di Jakarta, di mana mereka dipersilahkan untuk melihat dari dekat kehidupan sosial di sana dan bertemu sejumlah tokoh. Maka, didapati dari pengakuan mereka sepulangnya dari Jepang mengakui bahwa kehidupan sosial di Jepang lebih mencerminkan nilai-nilai Islam ketimbang yang mereka jumpai, baik di Indonesia maupun di Timur Tengah. Masyarakat terbiasa antre, menjaga kebersihan, kejujuran, suka menolong, dan nilai-nilai Islam lain yang justru makin sulit ditemukan di Indonesia.

Maka, apa kita masih harus curiga dan marah? Tentu tidak! Justru harusnya malu, lalu introspeksi dan merevolusi keberislaman kita agar tak hanya berorientasi ibadah, tapi juga muamalah (sosial, ekonomi, budaya, dll). Itulah hikmah yang dimaksud di awal tulisan ini.

Sebab, pada dasarnya, Allah selalu menghubungkan aspek ritual dan muamalah, atau dalam terminologi agama: fikih dan akhlak. Salat dalam Al-Quran disebut sebagai sesuatu yang menjauhkan pelakunya dari kekejian dan kemunkaran (QS. Al-‘Ankabut: 45). Serta sebaliknya: neraka Wayl bagi mereka yang salat untuk riya’ dan tak mau memberi pertolongan (QS. Al-Ma’un: 4-7). Zakat menjadi sia-sia jika diikuti kata-kata yang melukai (QS. Al-Baqarah: 264). Puasa, dalam hadis disebutkan tak bernilai apa-apa kecuali lapar dan haus jika tak membuat nafsu dan amarah kita tak terkendali.

Bahkan, dalam hadist ditegaskan bahwa akhlak yang buruk justru bisa merusak amal, seperti cuka merusak madu atau di hadist lain dimisalkan seperti api melalap kayu bakar (HR. Ibn Majah). Puncaknya, siapa yang mendustakan agama? Mereka yang menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan memberi pada orang miskin (QS. Al-Ma’un: 1-3), sebagaimana Nabi katakan bahwa agama adalah akhlak yang baik, misalnya jangan marah. Atau di hadist lain, dikatakan bahwa yang kuat dan lemahnya iman bergantung pada akhlak. Dan sebaliknya, kata kafir dalam Al-Quran dihubungkan dengan “tidak setia” (QS. Luqman: 32), “pengkhianat (QS. Al-Hajj: 38), “pendusta” (QS. Az-Zumar: 3), “kepala batu” (QS. Al-Qaf: 24), dan seterusnya.

Maka, mari merevolusi keislaman kita dengan lebih memahami maksud dari diwajibkannya ibadah, yakni aspek-aspek muamalah-nya, dan juga terus meningkatkan kualitas ibadah sosial kita. Mari menjadi Muslim yang saleh ritual, saleh sosial. Karena Islam bukan hanya ibadah, bukan hanya hablum minallah. Tapi juga muamalah, hablum minannas. Islam bukan hanya agama, tapi way of life. ‘Pun dalam “melawan”: lawan juga “kemaksiatan sosial” (korupsi, intoleransi, dll) yang masih menjamur di negeri mayoritas Muslim ini.

Print Friendly, PDF & Email
Continue Reading
You may also like...
Husein Ja'far Al Hadar

Sarjana, Peneliti, dan Penulis Keislaman.

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in Artikel

To Top