Connect with us

Cak Nur dan Islam Modern Indonesia

SUARA

Cak Nur dan Islam Modern Indonesia

Penuduh Nurcholish Madjid, alias Cak Nur, sebagai tokoh berpandangan menyimpang dari Islam adalah orang yang tidak pernah berinteraksi langsung dengan Cak Nur dan/atau tidak sungguh-sungguh membaca karyanya.

Orang yang pernah berdialog dengan pendiri Paramadina itu dan intensif menelaah tulisannya dengan perspektif yang luas dan pengetahuan Islam yang mendalam dapat dijamin menganggap Cak Nur sebagai pemikir yang sangat Islami.

Penulis pernah berdiskusi dengan Guru Bangsa itu di suatu acara di Kairo, Mesir. Penulis mempersoalkan gagasannya tentang Masyarakat Madani. Menurut penulis, masyarakat Madinah pasca Nabi tidak cocok untuk diacu di bidang politik. Sebab, politik Madinah sepeninggalan Rasulullah tidak stabil. Di masa khulafaurrasyidin misalnya, satu khalifah sibuk berperang di dalam negeri, dan tiga khalifah mati terbunuh.

Cak Nur tidak membantah fakta historis yang penulis paparkan, namun mendorong penulis menginsyafi intisari piagam Madinah berikut implemetasinya di zaman Nabi, lalu menyatakan bahwa esensi tersebut selaras dengan kebutuhan masa kini bangsa Indonesia.

Saat itu, penulis tidak puas dengan jawaban itu dan menyimpulkan Cak Nur tidak seliberal yang diwartakan banyak orang. Sebaliknya, Cak Nur, dalam pandangan penulis, justru berpandangan “tradisional”: selalu mengacu pada tradisi Islam.

Kesimpulan kedua itu penulis dapatkan terutama ketika membaca buku Cak Nur berjudul Indonesia Kita. Di buku yang bisa dijadikan sebagai rujukan pelajaran kewarganegeraan itu, Cak Nur memaparkan hal ihwal keindonesiaan. Tapi catatan kaki buku itu sungguh unik, yaitu referensi-referensi keislaman, baik ayat Al-Quran, hadits Nabi maupun sejarah peradaban Islam. Buku itu menguatkan persepsi penulis bahwa Cak Nur sangat Islami.

Sejak sekolah dasar hingga pendidikan doktoral, Cak Nur selalu mempelajari Islam. Cak Nur pun senantiasa menulis hal ihwal Islam, dan membahas perkara apapun dengan perspektif Islam. Salah satu lokomatif pembaruan Islam Indonesia itu ingin menghadirkan “Islam modern Indonesia”.

Islam”, dalam hal ini, diposisikan sebagai nilai ideal yang universal. “Modern”, di situ, tidak terkait dengan modernisme di Eropa dan Amerika, yang dikritik oleh posmodernisme karena memunculkan arogansi, penjajahan dan peperangan. Sebaliknya, yang dimaksud dengan “modern” adalah kekinian. Sementara “modern” merupakan dimensi waktu, “Indonesia” merupakan dimensi ruang.

Ketika term “Islam”, “modern” dan “Indonesia” digabungkan, muncul beberapa visi. Pengaksentuasian pada “Islam” memunculkan visi “Islam yang kekinian dan kedisinian”. Penekanan pada “modern” menghasilkan visi “masa kini yang ideal dan selaras dengan Indonesia”. Pengarusutamaan pada “Indonesia” mencuatkan visi “Indonesia yang ideal dan selaras dengan masa kini”.

Tiga visi tersebut relevan semua. Sebab, Islam diharapkan meruang dan mewaktu. Kemasakinian diharapkan bernilai ideal dan selaras dengan konteks ruang yang ada. Kedinisian juga diharapkan cocok dengan masa kini dan nilai ideal.

Visi-visi tersebut merupakan refleksi lebih lanjut atas pemikiran Cak Nur mengenai Islam, kemodernan dan keindonesiaan. Kesatuan dari tiga konsep tersebut merupakan salah satu gagasan besar yang ditinggalkan Cak Nur yang wafat tanggal 29 Agustus 2005. Semoga tokoh yang berpikiran dan berupaya mulia itu mendapat kemuliaan di sisi Tuhan YME.[]

Print Friendly, PDF & Email
Zainul Maarif

Dosen dan Peneliti di bidang Filsafat dan Agama. Alumni Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir ini telah mempublikasikan beberapa buku: "Imam Syafi'i: Ar-Risalah" (2018), "An-Naisaburi: Kitab Kebijaksanaan orang-orang Gila" (2017), "Logika Komunikasi" (2015, 2016), "Ibnu Arabi: Rahasia Asmaul Husna" (2015), "Retorika: Metode Komunikasi Publik" (2014, 2015), "Pos-Oksidentalisme: Identitas dan Alteritas Pos-Kolonial" (2013), "Filsafat Yunani" (2012), "Al-Jauziyah: Surga Yang Dijanjikan" (2011), "Pos-Oksidentalisme: Dekonstruksi atas Oksidentalisme Hassan Hanafi" (2007), "Sosiologi Pemikiran Islam" (2003), "Dekonstruksi Islam: Elaborasi Pemikiran Hassan Hanafi dan Nasr Hamid Abu Zaid" (2003).

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in SUARA

To Top