Connect with us

Pesan Kurban: Ketuhanan, Kemanusiaan dan Kehewanan

Artikel

Pesan Kurban: Ketuhanan, Kemanusiaan dan Kehewanan

Apa pesan utama kurban? Apakah kurban itu untuk Tuhan atau untuk manusia? Bagaimana dengan nasib hewan di ritual kurban? Sedikitnya tiga pertanyaan itu yang perlu dijawab di Hari Raya Kurban; dan tulisan ini berupaya menjawabnya.

Secara fenomenal, kurban yang dilakukan umat Islam di Idul Adha merupakan pengulangan pengalaman Ibrahim (Abraham) dan anaknya. Pertama-tama, sang ayah hendak menyembelih putranya. Lalu, kambing yang dipotong dan dibagikan ke masyarakat sekitar.

Sebagian orang mengartikan kerelaan Ibrahim mengurbankan darah dagingnya sebagai persembahan total seorang hamba kepada Tuhan. Penafsir semacam itu menyimpulkan bahwa apapun harus diserahkan untuk Sang Pencipta.

Kaum radikalis menganut pandangan itu. Mereka melakukan dan mengajak semua pihak untuk mencurahkan untuk Tuhan segala yang dimiliki: termasuk nyawa manusia, apalagi sekadar harta. Dengan cara itu, penghambaan mereka untuk Tuhan “sepertinya paripurna”. Tapi apakah Tuhan memerlukan pengorbanan semacam itu?

Bila pengalaman Ibrahim yang dijadikan sebagai acuan, maka jawabannya negatif. Tuhan adalah pemilik segala sesuatu. Yang Maha Kaya tak perlu apapun dari manusia dan semesta.

Sekiranya Ibrahim memenggal kepala anaknya, maka kesia-siaan juga yang akan terjadi. Oleh karena itu, objek penyembelihan diganti: dari manusia yang tak dimakan oleh mayoritas manusia ke binatang yang bisa dimakan manusia. Persembahan hasil sembelihan itu pun diubah: awalnya untuk Tuhan menjadi untuk manusia. Dengan transformasi semacam itu, kemubaziran terhindari.

Ketika Tuhan memberi visi pada Ibrahim untuk menyembelih anaknya, Tuhan sama sekali tidak haus darah. Tuhan hanya ingin menguji konsistensi perkataan Ibrahim yang pernah berjanji menyerahkan apapun untuk Tuhan.

Saat Ibrahim berkenan memenuhi petunjuk Ilahi untuk menghabisi nyawa putranya, Ibrahim bukanlah contoh orang tua yang tega pada anaknya, bukan pula misal tokoh yang mengesampingkan kemanusiaan. Kejadian itu justru pelajaran untuk berhati-hati berbicara dan senantiasa menepati janji.

Tatkala janji itu berisi niat menyembelih manusia untuk Tuhan, Yang Maha Pengasih tak mengizinkan penghapusan kasih. Sebaliknya, Sang Penyayang mendorong menebarkan sayang. Sang Maha Kaya pun menyuruh manusia menebarkan kepunyaannya untuk manusia.

Jadi, bisa disimpulkan bahwa pesan di balik kurban adalah pesan kemanusiaan, bukan pesan ketuhanan. Tuhan tak perlu disantuni dan dikasihi. Manusialah yang memerlukan santunan dan kasih sayang. Maka, kemanusiaanlah yang seharusnya diarusutamakan dalam kurban, bukan ketuhanan.

Menekankan tema kemanusiaan pun sebenarnya masih mengandung masalah, apalagi mengfokuskan tema ketuhanan. Dalam ritual kurban, banyak binatang ternak yang disembelih dan dibagikan. Para pelaku kurban menganggap tindakan mereka sebagai kewajaran sesuai perintah agama. Di situ, tema ketuhanan dan kemanusiaan tampak “mengesampingkan” tema kehewanan.

Para pecinta satwa dan kaum vegetarian kerap mengecam kurban umat Islam sebagai tindakan tak berprikehewanan. Dalam hal ini, umat Islam selain berlindung pada perintah agama juga kerap beralibi bahwa cara menyembelih binatang ala Islam dipolakan tanpa menyiksa binatang. Tapi penyembelihan banyak kambing, sapi, kerbau dan onta di Idul Adha tetap saja pembantaian massal atas binatang yang tak berdosa.

Pada momen Hari Raya Kurban ada “hal yang tak terpikirkan” (allâ mufakkar fîh/unthinkable) dalam tradisi Islam, yaitu perhatian Islam pada nasib binatang. Mempersoalkan “hal yang tak terpikirkan” memang kadang dipersoalkan balik. Tapi, seiring perkembangan etika bersama perkembangan masa, bukankah persoalan prikehewanan itu tetap persoalan, dan perlu dipikirkan?[]

Print Friendly, PDF & Email
Zainul Maarif

Dosen dan Peneliti di bidang Filsafat dan Agama. Alumni Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir ini telah mempublikasikan beberapa buku: "Imam Syafi'i: Ar-Risalah" (2018), "An-Naisaburi: Kitab Kebijaksanaan orang-orang Gila" (2017), "Logika Komunikasi" (2015, 2016), "Ibnu Arabi: Rahasia Asmaul Husna" (2015), "Retorika: Metode Komunikasi Publik" (2014, 2015), "Pos-Oksidentalisme: Identitas dan Alteritas Pos-Kolonial" (2013), "Filsafat Yunani" (2012), "Al-Jauziyah: Surga Yang Dijanjikan" (2011), "Pos-Oksidentalisme: Dekonstruksi atas Oksidentalisme Hassan Hanafi" (2007), "Sosiologi Pemikiran Islam" (2003), "Dekonstruksi Islam: Elaborasi Pemikiran Hassan Hanafi dan Nasr Hamid Abu Zaid" (2003).

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in Artikel

To Top