Connect with us

Falsafah Haji: Bertauhid dalam “Tawaf”

Ensiklopedi

Falsafah Haji: Bertauhid dalam “Tawaf”

Mungkin, salah satu pengalaman yang paling diinginkan dalam haji adalah menatap Ka’bah; bangunan batu berbentuk kubus yang menjadi titik pusat spiritualitas umat Muslim sedunia. Kiblat yang menjadi titik fokus dihadapkannya diri dalam shalat dan disujudkannya kepala dalam sujud. Maka, mustahil dipungkiri bahwa ada keinginan yang begitu kuat untuk menatapnya secara langsung.

Namun, saat jamaah haji memandang Ka’bah dengan mata fisiknya, bukan mata batin, maka (mungkin) mereka bertanya-tanya dalam benaknya; Apa ini? Apa istimewanya bangunan ini? Inikah pusat Islam, shalat, cinta, hidup dan kematian mereka? Inikah yang selama ini mereka idam-idamkan? Sedangkan secara fisik Ka’bah hanyalah sebuah bangunan persegi yang dibuat dari berbatuan hitam keras dari Ajun (bukit-bukit di dekat Kota Makkah). Bangunan itu sangat sederhana. Dalamnya pun kosong. Tak ada sentuhan arsitektural yang istimewa di bangunan itu. Sehingga, pemandangan atas Ka’bah mungkin kemudian meruntuhkan semua bayangan visual jamaah haji atas bangunan yang menjadi pusat sujud mereka itu. Yang dilihatnya adalah kebalikan dari apa yang dibayangkannya. Benar-benar sederhana dan secara fisik tak ada yang istimewa dari Ka’bah itu. Bahkan, secara etimologis, arti dari kata “Ka’bah” sendiri hanyalah berarti “kubus”. Ada apa dengan semua ini? (Baca: “Falsafah Haji: Murnikan Niat“)

Namun, itulah memang yang diharapkan oleh Allah atas Ka’bah melalui tangan Nabi Ibrahim. Allah tak hendak ingin membangun bangunan megah dan istimewa yang tak tersaingi oleh bangunan-bangunan lain setelahnya. Bukan itu yang Dia inginkan!

Sebab, bangunan itu bukan berhala bagi Muslim. Justru sebaliknya, bangunan itu dibangun oleh seseorang yang juga menghancurkan berhala-berhala sesembahan orang-orang di zamannya. Jika yang dibangun adalah berhala tentang Tuhan-nya, apa bedanya ia (Nabi Ibrahim) dengan orang-orang yang berhala-berhalanya dihancurkan itu? Ka’bah bukan visualisasi dari Allah. Justru bangunan itu adalah simbolisasi tentang mustahil tervisualisasinya Allah. Karenanya, bangunan itu dibuat dengan sangat sederhana, tanpa warna dan ornamen. Agar umat manusia tahu dan sadar bahwa Allah tak berbentuk dan tak bisa diserupakan dengan apa saja yang menjadi ciptaan-Nya. Dia Maha Suci dari segala sesuatu yang diserupakan dengan-Nya.

Maka, saat bertawaf, seorang jamaah haji jangan pernah berharap dapat melihat visualisasi Allah. Namun, bagi mereka yang benar-benar telah mensucikan dirinya dari segala “pakaian” dan menghiasi dirinya dengan ketaatan, maka mereka sangat mungkin (jika tak mau mengatakan pasti) dapat merasakan kehadiran-Nya secara batin di pusaran-Nya itu. (Baca: “Falsafah Haji: Bersatu dalam Ihram“)

Maka, jangan sia-siakan kesempatan untuk meraih berbagai nilai spiritualitas dan makna itu. Ada banyak makna yang harus dipetik saat seorang jamaah bertatapan langsung dengan Ka’bah dan mengelilinginya dalam tawaf.

Pertama, saat tawaf, Ka’bah menjadi pusat dari jutaan umat Islam yang mengelilinginya. Manusia yang mengelilinginya bagai bumi dan planet-planet lain yang bergerak mengelilingi matahari secara harmoni sesuai orbitnya. Sedangkan Ka’bah layaknya matahari yang menjadi pusat dari sistem tata surya. Nah, sebenarnya hal itu secara simbolik merupakan ajaran tentang sistem yang berbasis ide monoteisme atau tauhid. Sebuah sistem yang menjadikan Allah sebagai pusat dan titik fokus atas segala ciptaan-Nya yang fana. Ka’bah melambangkan konstansi dan keabadian Allah. Sedangkan manusia yang terus bergerak mengelilinginya itu merupakan simbol dari perubahan yang menjadi ciri paling mendasar dari manusia. Maka, jemaah haji kemudian harus sadar bahwa setiap aktivitas hidupnya haruslah aktivitas yang bernilai ibadah sesuai dengan perintah Allah, agar perubahan yang terjadi pada mereka adalah perubahan yang mengarah pada manusia yang lebih baik dan lebih utuh. Sehingga, mereka akan terus bergerak mendekat pada-Nya. (Baca: “Falsafah Haji: Wukuf dan Dzikir Keterciptaan“)

Kedua, saat “pakaian” seluruh jamaah haji sudah seragam, tak ada lagi perbedaan-perbedaan di antara mereka. Maka, saat tawaf, ada satu hal lagi yang harus diseragamkan dalam satu harmoni, yaitu gerak mereka dalam mengelilingi Ka’bah sebaganyak tujuh kali, sebagaimana bumi dan planet lain yang bergerak sesuai orbitnya. Tanpa keseragaman dan harmoni dengan jamaah lain, maka seorang jamaah haji akan bertabrakan, terjatuh dan terinjak-injak oleh gelombang umat Muslim yang bertawaf. Seorang jamaah haji mustahil bisa sukses dalam tawafnya, tanpa sukses terlebih dulu dalam berharmoni dengan sesama umat manusia di lingkaran Ka’bah. Artinya, seseorang mustahil dapat menghampiri Allah, tanpa terlebih dulu menghampiri dan berbuat baik dengan sesama manusia. Kesalehen spiritual berbanding lurus dengan kesalehan sosial. Itulah yang kemudian menjadi salah satu “rumus” pendekatan diri pada Allah dalam ranah tasawuf yang diajarkan oleh hampir seluruh sufi Muslim dalam sejarah. (Baca: “Saleh Ritual, Saleh (Juga) Sosialnya“)

Print Friendly, PDF & Email
Husein Ja'far Al Hadar

Sarjana, Peneliti, dan Penulis Keislaman.

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in Ensiklopedi

To Top