Connect with us

Rohingya dan Politisasi Agama

Artikel

Rohingya dan Politisasi Agama

Wujud solidaritas pertama dan utama yang patut kita berikan pada Muslim Rohingya adalah dengan paham bahwa diskriminasi atas Muslim Rohingya bukanlah karena agama. Sebab, ketakpahaman akan poin itu dan berarti kita “tergelincir” dengan menganggap yang terjadi di sana adalah penindasan mayoritas Buddha pada minoritas Muslim atau sederhananya adalah bahwa yang terjadi di sana adalah konflik agama, maka berarti kita terjebak dalam salah satu jebakan “politisasi agama” yang sangat mengerikan bikinan Biksu Ashin Wirathu (U Wirathu), sosok super kontroversial yang pada 2003 pernah divonis penjara 25 tahun karena menyebarkan kebencian anti-Muslim. Gelar “biksu”-nya sengaja tak disematkan karena kita harus sepakat bahwa ia sama sekali tak pantas atas gelar itu, bahkan untuk sekadar disebut pengikut Buddha mengingat paradoksnya pandangan dan sikapnya yang mengerikan itu dengan ajaran Buddha yang penuh kedamaian.

Mengapa pemahaman itu penting ditegaskan? Sebab, ketergelinciran itu sangat mungkin dan nyatanya menelan banyak korban. Lantaran kenyataannya memang kebetulan yang didiskriminasi adalah etnis Rohingya yang memang semuanya Muslim dan di antara yang menindas adalah orang-prang Buddha pengikut U Wirathu.

Mengapa ketergelinciran itu sangat berbahaya? Bukan hanya karena jika suatu konflik sudah diatasnamakan agama akan menjadi sangat mengerikan karena menyangkut ornamen paling primordial, privat, sakral, dan sensitif. Melainkan juga karena itu yang memang diharapkan oleh U Wirathu: ia berharap “gayung bersambut” dengan kita (umat Islam) terpancing membenci Buddha, di mana itu berarti kita membenarkan propagandanya bahwa Muslim benci dan musuh Buddhis. Sehingga krisis Rohingya benar-benar jadi “perang agama”: Islam versus Buddha.

Agama memang selalu menarik untuk dimanfaatkan oleh oknum-oknumnya guna menyulut atau mengembangkan konflik. Paradoks dengan semangat, ajaran, dan visi agama itu sendiri sebagai peredam konflik dan penyemai perdamaian. Bisa jadi, inilah ironi paling ironis di dunia ini.

Padahal, kenyatannya, toleransi pada minoritas Muslim di Myanmar ternilai baik. Idul Adha dan Idul Fitri di sana ditetapkan sebagai hari libur nasional untuk menghormati umat Islam. Di Yangon juga tak sulit untuk mencari masjid dan warung makan halal. Sebab, begitulah memang ajaran Vuddha dan semua agama. Oleh karena itu, Keluarga Buddhayana Indonesia (KBI) menentang keras penindasan atas etnis Rohingya karena dinilai bertentangan dengan ajaran Buddha yang sangat toleran tersebut.

Menganggap U Wirathu sebagai representasi Buddha dan krisis Rohingya sebagai konflik agama adalah sama ironinya dengan menilai konflik Israel-Palestina sebagai konflik Yahudi versus Islam dengan asumsi bahwa Zionis adalah Yahudi. Atau menganggap ISIS (Islamic State of Iraq and Syria) sebagai representasi Islam dan pembantaiannya pada non-Muslim lantaran jihad yang merupakan ajaran Islam.

Padahal, seperti kita tahu, kenyataannya bahwa orang-orang Yahudi religius juga menentang Zionisme dan Israel karena dinilai bertentangan dengan ajaran Yahudi, di mana artikel lengkapnya yang mengulas hal itu bisa dibaca di Konflik Israel-Palestina Bukan Agama: Zionis Bukan Yahudi.

Begitu pula ISIS yang melakukan penyelewengan tafsir atas Al-Quran dan hadis untuk kepentingan politiknya dengan menebar kebencian bukan hanya kepada non-Muslim yang mereka labeli kafir yang halal darahnya, tapi juga pada Muslim yang berbeda paham atau sekadar pandangan sekalipun dengan mereka. Oleh karena itu, ISIS telah difatwa bukan Islam oleh seluruh ulama dunia.

Lalu, apa yang terjadi sebenarnya terkait agama dalam krisis Rohingya, konflik Israel-Palestina, dan ISIS? Tak lain adalah “politisasi agama”: politisasi Buddha, politisasi Yahudi, dan politisasi Islam. Lihatlah, sebagaimana kini terhampar di depan mata kita melalui media, bagaimana politisasi agama bisa begitu membuat uamt manusia begitu kejam dan menjadi konflik yang begitu mengerikan. Setiap hari orang disiksa, ditembak, dibom, hingga dibunuh karenanya. Tak terkecuali anak-anak atau wanita. Rumah, gedung, rumah sakit, tempat ibadah ‘pun hancur oleh kebengisan yang dibungkus agama.

Maka, semua itu penting untuk jadi pelajaran bagi kita agar tak main-main dengan politisasi agama, sekecil apapun. Kita perlu khawatir dan waspada karena benih-benihnya mulai ada di Indonesia. Korbannya sejauh ini adalah Ahmadiyah, Syiah di Sampang, Kristen di Bogor, dan beberapa lainnya. Jika it uterus dibiarkan, bisa jadi besok krbannya tetangga kita, saudara kita, kita, atau bahkan negeri ini. Naudzubillah!

Print Friendly, PDF & Email
Husein Ja'far Al Hadar

Sarjana, Peneliti, dan Penulis Keislaman.

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in Artikel

To Top