Connect with us

Mewaspadai 5 Problem Rohingya Terjadi Di Negeri Ini

SUARA

Mewaspadai 5 Problem Rohingya Terjadi Di Negeri Ini

Siapa yang tak tersayat hatinya melihat pengungsi Rohingya dengan segala penderitaannya yang memprihatinkan itu, di mana di antara mereka ada anak-anak, wanita, dan orang tua? Terlebih kita, yang mempunyai minimal tiga ikatan, yakni keislaman sebagai sesama Muslim, kemanusiaan sebagai sesama manusia, dan kedekatan geografis sebagai negara tetangga. Tentu, semua dari kita akan terpanggil batinnya untuk berempati.

Namun, kondisi emosional yang begitu sensitif tersebut kadang dilihat sebagai peluang oleh sebagian oknum yang keburukannya bisa jadi tak beda atau bahkan melebihi dari mereka yang mendiskriminasi etnis Rohingya tersebut. Tentu, dengan berbagai latar belakang kepentingan: politik, ekonomi, dan lain-lain. Maka, perlu ada beberapa poin yang patut diwaspadai terkait krisis Rohingya.

Pertama, yang menjadi semacam “efek samping” dari berkah internet dengan ciri super cepatnya informasi beredar yakni “hoax”. Baik informasi maupun foto, tak sedikit hoax beredar soal Rohingya. Tentu, itu sangat berbahaya karena akan memperkeruh masalah. Apalagi jika hoax itu sengaja diciptakan dengan motif-motif pragmatis: memicu kemarahan yang brutal, memanfaatkan keadaan untuk donasi palsu, membangun opini bahwa yang terjadi di sana konflik agama, dan lain-lain. Mantan Menkominfo Tifatul Sembiring dan Wakil Perdana Menteri Turki Mehmet Simsek adalah di antara yang sempat memposting foto hoax soal Rohingya, meskipun lalu keduanya menghapusnya dan Tifatul meminta maaf. Maka, dalam konteks ini, penting untuk menahan diri dan teliti serta hati-hati dalam mengkonsumsi dan apalagi menyebarkan konten-konten terkait Rohingya.

Kedua, menjadikan krisis Rohingya sebagai “komoditi”, dari politik, ekonomi, hingga agama. Komoditi politik misalnya menjadikannya sebagai “amunisi” untuk menyudutkan Presiden Jokowi yang jelas-jelas serius dalam mewujudkan solidaritasnya untuk etnis Rohingya dengan mengutus Menteri Luar Negeri Retno Marsudi ke Myanmar untuk ikut andil mendorong penyelesaian krisis Rohingya. Secara ekonomi misalnya memanfaatkannya sebagai momentum untuk menebar rekening atas nama solidaritas Rohingya yang justru dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi. Secara agama adalah dengan menyebar kebencian pada Buddha dengan membangun opini bahwa yang terjadi di sana adalah pembantaian Buddha atas Muslim dengan latar belakang agama.

Ketiga, ini masih terkait dengan yang disebutkan terakhir di poin kedua di atas yakni “politisasi agama”. Kita harus sangat waspada pada kaum intoleran yang mencoba membangun opini bahwa ini adalah soal perang Islam versus Buddha. Padahal, itu justru adalah propaganda yang digunakan Biksu Ashin Wirathu (U Wirathu), sosok super kontroversial yang pada 2003 pernah divonis penjara 25 tahun karena menyebarkan kebencian anti-Muslim. Ia membangun propaganda anti-Islam dalam sengkarut masalah yang sebenarnya problem kewarganegaraan itu. Seolah yang terjadi terkait Rohingya adalah pemberontakan Muslim. Maka, jika kita juga membalasnya dengan propaganda politisasi agama juga, berarti kita telah masuk dalam “jebakan” U Wirathu. Sedangkan kenyataannya, U Wirathu adalah oknum Buddha yang bertentangan dengan ajaran Buddha yang penuh damai dan toleransi, dan karenanya ia tak pantas disebut “Biksu” lantaran ia sama sekali tak menampakkan diri sebagai pemeluk Buddha lantaran kebencian yang bersemayam dalam dirinya. Sehingga, Keluarga Buddhayana Indonesia (KBI) menentang keras penindasan atas etnis Rohingya karena dinilai bertentangan dengan ajaran Buddha yang sangat toleran tersebut. (Baca: “Rohingya dan Politisasi Agama“)

Keempat, narasi mayoritas-minoritas. Semua narasi yang didasarkan pada logika mayoritas-minoritas (dalam suku, agama, mazhab, dan lain-lain) harus ditinggalkan. Sebab, semua manusia dengan latar belakang apapun  memiliki hak yang sama, tak peduli ia minoritas atau mayoritas. Semua harus diperlakukan sama, dalam hukum, agama, politik, budaya, sosial, ekonomi, dan lain-lain. Logika mayoritas-minoritas tak boleh mempengaruhi hak asasi manusia. Jangan sampai hanya lantaran minoritas kemudian hak-haknya dibatasi atau bahkan dicerabut. Dan jangan pula hanya lantaran mayoritas kemudian mendapatkan privilege. Sebab, logika semacam itu juga termasuk dalam tumpang-tindih masalah etnis Rohingya yang memang minoritas (jumlahnya satu juta orang dari total 50 juta penduduk Myanmar), sehingga mereka akhirnya harus bernasib seperti itu di tengah mayoritas.

Kelima, narasi pribumi dan non-pribumi. Myanmar enggan mengakui etnis Rohingya lantaran mereka dianggap bukan suku keturunan asli Myanmar sejak Generasi N+3 (kakek-buyut) sebagaimana ketentuan UU Kewarganegaraan Myanmar 1982. Sedangkan menurut Organisasi Nasional Rohingya Arakan (ARNO), orang-orang Rohingya telah bermukim di Myanmar sejak abad ke-15 dengan nenek moyang dari bangsa Arab, Moor, Pathan, Moghul, Bengali, dan beberapa orang Indo-Mongoloid. Ini bahkan yang menjadi akar masalah krisis Rohingya. Maka, kewaspadaan yang penting sebagai pelajaran bagi kita di sini adalah berhati-hatilah dengan narasi pribumi dan non-pribumi yang sering mengemuka di kita, terlebih jika itu “dimainkan” untuk kepentingan-kepentingan tertentu: politik, dan lain-lain. Narasi semacam itu bisa menjadi problem dan konflik yang mengerikan. Termasuk juga narasi tentang etnisitas: Jawa dan non-Jawa, dan lain-lain. Semua bawaan primordial itu patut dirayakan sebagai kekayaan khazanah kebudayaan Indonesia, namun ditundukkan dalam satu payung bernama Indonesia. Semua etnis di sini, semua orang pribumi dan non-pribumi di sini adalah warga negara yang sama, yang semua memiliki kontribusi bagi berdirinya negeri ini dan hak yang sama sebagai warga negara.

Lima poin yang wajib diwaspadai itu begitu dekat dengan kita, bahkan pernah atau sering mengemuka. Khususnya dalam kaitannya dengan politik. Karenanya, kita harus benar-benar mengimajikanisan Myanmar saat ini agar paham dampak “mempermainkan” lima poin tersebut. Sehingga, tak ada lagi yang semacam itu di sini.

Print Friendly, PDF & Email
Husein Ja'far Al Hadar

Sarjana, Peneliti, dan Penulis Keislaman.

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in SUARA

To Top