Connect with us

Gus Dur: Asketis di Tengah Dunia

Ensiklopedi

Gus Dur: Asketis di Tengah Dunia

Zuhud dalam kondisi miskin di pelosok desa itu biasa. Yang luar biasa adalah zuhud dalam kondisi kaya di tengah kota. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur adalah zahid model kedua itu.

Sebagai anak menteri, Gus Dur potensial bergelimang materi. Sebagai cucu pendiri Nahdlatul Ulama’, Gus Dur sangat mungkin bertabur puji. Tapi probabilitas itu tidak direalisasikannya. Gus Dur justru hidup sederhana dan tak jarang menertawakan diri sendiri.

Kesederhanaan Gus Dur dapat disimak di beberapa biografi dan testimoni tentangnya. Waktu kuliah di Timur Tengah, Gus Dur kerap pergi ke Eropa bukan untuk melancong, melainkan untuk mencari uang, antara lain dengan bekerja mencuci kapal dan piring.

Di masa awal pernikahan, Gus Dur tak memiliki asisten rumah tangga, dan tak berkeberatan untuk mencuci pakaian, sementara istrinya bertugas menyetrika dan membantu keuangan keluarga dengan menjual kacang goreng.

Setelah menjadi tokoh nasional dan internasional, Gus Dur tetap bersahaja dan tak gila harta. Penulis merupakan saksi mata tentang hal itu.

Sekitar tahun 2004-2007, penulis bekerja di lembaga sosial  istri Gus Dur. Awalnya, penulis mengajarkan bahasa Arab kepada Sinta Nuriyah dan staf-staf Puan Amal Hayati. Selanjutnya, penulis dipercaya untuk menjadi ketua bidang kerukunan umat beragama di lembaga itu, yang program tahunannya adalah sahur keliling Indonesia (bahkan sampai ke luar negeri).

Selama kurang lebih tiga tahun itu, penulis dapat melihat langsung kezuhudan Gus Dur. Ada orang yang memberi Gus Dur uang dalam jumlah banyak, tapi Gus Dur tak segan-segan memberikan semua uang yang diterimanya itu kepada orang yang datang berkunjung ke rumahnya karena kesulitan ekonomi atau perlu bantuan.

Dalam merespon fenomena itu, penulis melihat Gus Dur laksana “talang air” dalam hal duniawi. Mantan Ketua Umum PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama) itu memposisikan diri sebagai penyalur rezeki kepada pihak lain yang lebih membutuhkan. Untuk keluarganya sendiri, Presiden Republik Indonesia ke-4 itu cukup memberikan pensiunan presiden, honor menulis di media massa, dan honor ceramah di berbagai tempat.

Selaku mantan orang nomor satu Indonesia, Gus Dur sebenarnya bisa mendapatkan dan memberi harta yang lebih dari itu. Tapi, Gus Dur menghindari hal-hal yang subhat, apalagi hal-hal haram. Orang yang mengenal Gus Dur secara dekat tahu bahwa Bapak Pluralisme Indonesia itu  menempatkan harta maksimal hanya di tangannya saja, bukan di pikiran dan hatinya.

Bukankah sikap dan tindakan tersebut layak ditiru oleh (mantan) pejabat publik, bahkan kita semua? Layakkah orang yang asketis semacam itu difitnah terlibat korupsi?

Sejarah menunjukkan bahwa yang benar tetap benar dan mulia, sementara para penuduhnya justru satu persatu terjerambat kasus korupsi dan/atau hina. []

Print Friendly, PDF & Email
Zainul Maarif

Dosen dan Peneliti di bidang Filsafat dan Agama. Alumni Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir ini telah mempublikasikan beberapa buku: "Imam Syafi'i: Ar-Risalah" (2018), "An-Naisaburi: Kitab Kebijaksanaan orang-orang Gila" (2017), "Logika Komunikasi" (2015, 2016), "Ibnu Arabi: Rahasia Asmaul Husna" (2015), "Retorika: Metode Komunikasi Publik" (2014, 2015), "Pos-Oksidentalisme: Identitas dan Alteritas Pos-Kolonial" (2013), "Filsafat Yunani" (2012), "Al-Jauziyah: Surga Yang Dijanjikan" (2011), "Pos-Oksidentalisme: Dekonstruksi atas Oksidentalisme Hassan Hanafi" (2007), "Sosiologi Pemikiran Islam" (2003), "Dekonstruksi Islam: Elaborasi Pemikiran Hassan Hanafi dan Nasr Hamid Abu Zaid" (2003).

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in Ensiklopedi

To Top