Connect with us

Penentuan Identitas

Artikel

Penentuan Identitas

Siapakah penentu identitas? Apakah penentunya diri sendiri atau pihak lain atau kedua belah pihak? Yang damai adalah penentuan identitas yang diakui diri sendiri dan pihak lain. Namun penentuan identitas tak selalu berjalan damai.

Ketika pihak lain (the other/al-âkhar) menentukan identitas diri (the self/al-anâ), diri kadang menolaknya. Begitu juga sebaliknya, penentuan identitas diri kadang ditampik oleh pihak lain. Apakah identitas yang ditentukan oleh pihak lain harus diterima oleh diri?

Saat diri baru hadir di dunia, pihak lain yang menentukan identitas diri. Kala diri sudah bernalar, diri kadang menolak identitas yang disematkan pihak lain kepada dirinya. Penolakan diri pada identitas dari pihak lain menunjukkan “kemungkinan” untuk menolak identitas yang pernah dilekatkan pada diri.

“Kemungkinan” menunjukkan kebolehan. “Kebolehan” bukan kewajiban. Jadi, tidak ada keharusan diri menerima penentuan identitas dari pihak lain. Sebaliknya, diri boleh menentukan identitasnya sendiri. Tapi, apakah kebolehan itu bersifat manasuka?

Dalam kehidupan sosial, diri tidak selalu mudah menentukan identitas. Perubahan kelamin menimbulkan pro dan kontra. Pergantian warna kulit tidak otomatis mengubah ras seseorang. Negasi sebagai sempalan suatu agama/bangsa/negara, sekaligus afirmasi sebagai bagian utuh suatu agama/bangsa/negara juga memantik perdebatan bahkan perseteruan. Keinginan keluar dari suatu bangsa karena merasa berbangsa lain pun bisa menyulut peperangan.

Kenyataan di atas menunjukkan bahwa penentuan identitas diri tidak bisa semena-mena. Ada semacam koridor sosial yang membatasi penentuan identitas diri. Tapi apakah batasan tersebut bersifat metafisik absolut ataukah bersifat kontraktual?

Yang mutlak tidak mungkin berganti. Sesuatu yang bisa berubah tidaklah mutlak. Sejauh batasan penentuan identitas diri bisa berubah, maka batasan itu mengandung kenisbian. Konsensus sosial yang menentukannya secara temporal dan kontekstual, sehingga diri masih cukup bebas untuk menentukan identitas.

Persoalan berikutnya: haruskah identitas yang ditentukan oleh diri diterima oleh pihak lain? Agak berlebihan bila mengatakan penerimaan itu merupakan suatu keharusan. Yang lebih tepat adalah anjuran afirmatif.

Pihak lain sebaiknya menghormati kehendak diri seseorang atau sekelompok orang untuk menentukan identitas. Pihak lain tak sepatutnya memaksakan identitas diri seseorang atau sekelompok orang. Sebab, identitas diri terkait erat dengan kedirian individu atau kelompok  yang bersifat sangat eksistensial.

Bukankah memaksakan identitas diri seseorang atau sekelompok orang justru sangat potensial untuk ditolak? Bukankah pemaksaan itu sendiri merupakan tindakan yang tidak bijak? Semoga penentuan identitas selalu seiring sejalan dengan kebijaksanaan, bukan didorong oleh paksaan atau keterpaksaan, apalagi kekerasan. []

Print Friendly, PDF & Email
Zainul Maarif

Dosen dan Peneliti di bidang Filsafat dan Agama. Alumni Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir ini telah mempublikasikan beberapa buku: "Imam Syafi'i: Ar-Risalah" (2018), "An-Naisaburi: Kitab Kebijaksanaan orang-orang Gila" (2017), "Logika Komunikasi" (2015, 2016), "Ibnu Arabi: Rahasia Asmaul Husna" (2015), "Retorika: Metode Komunikasi Publik" (2014, 2015), "Pos-Oksidentalisme: Identitas dan Alteritas Pos-Kolonial" (2013), "Filsafat Yunani" (2012), "Al-Jauziyah: Surga Yang Dijanjikan" (2011), "Pos-Oksidentalisme: Dekonstruksi atas Oksidentalisme Hassan Hanafi" (2007), "Sosiologi Pemikiran Islam" (2003), "Dekonstruksi Islam: Elaborasi Pemikiran Hassan Hanafi dan Nasr Hamid Abu Zaid" (2003).

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in Artikel

To Top