Connect with us

Oleh Munir, Dari Gus Dur: Hijrah Jadi Muslim Moderat

Artikel

Oleh Munir, Dari Gus Dur: Hijrah Jadi Muslim Moderat

Seperti janji Allah dalam QS. Ali Imran: 169, orang yang mati karena berjuang di jalan-Nya takkan pernah “mati”, meski raganya mati. Jiwanya akan abadi hidup dalam semangat maupun gagasan. Bahkan, berlipat ganda.

Begitulah Munir, juga Gus Dur. Keduanya terus diingat dan berlipat ganda. Munir diingat di depan Istana Negara setiap Kamis sore, di mana hingga kini sudah lebih 500 Kamis. Gus Dur berlipat ganda di Gusdurian dengan jaringan di seluruh Indonesia. Keduanya dikenang dan dirindukan oleh banyak orang, sehingga kemarin, 7 September, tepat 13 tahun wafatnya Munir dan hari lahir Gus Dur, keduanya jadi trending topic di media sosial: #13thMunir dan #UltahGusDur.

Kita lebih mengenal Munir sebagai pejuang HAM. Namun, ternyata ia punya pemahaman dan pengalaman keislaman yang menarik. Salah satunya ia ungkapkan dalam wawancaranya dengan Ulil Abshar-Abdalla yang disiarkan Kantor Berita Radio 68H pada 1 Agustus 2002. Dan, dalam wawancara itu, melalui pengakuan Munir, kita tahu bahwa pemahaman keislamannya memiliki kesamaan dengan pemahaman keislaman Gus Dur. Salah satunya, yakni dalam menjadi seorang muslim yang moderat.

Sebagaimana diakui Munir, ia sempat menjadi muslim radikal, bahkan ekstremis. Itu terjadi kala Munir muda, dalam kurun 1984-1989, saat ia masih mahasiswa di awal umur 20-an tahun. Katanya, isi tasnya tak pernah absen dari senjata tajam. Di mana itu lantaran pertikaian agama. Ia seperti sedang menjadi semacam “tentara Tuhan”. Sesuatu yang kian justru makin banyak menjangkit anak muda. Bahkan sebagai teroris.

Karenanya, bukan hanya menarik, tapi penting menyimak bagaimana pemahaman dan pengalaman Munir berhijrah menjadi muslim moderat yang justru menjadi sebenar-benarnya hijrah dan sebenar-benarnya tentara-Nya sebagai pejuang HAM. (Baca: “HAM: Ajaran Islam yang Tertuduh Sekular“)

Menurut Munir, dalam ruang ekstremitas agama, seseorang akan merasakan semacam kehilangan fungsi agama itu sendiri. Sehingga, misalnya Munir saat itu, selalu bertanya-tanya: benarkah Islam memerintahkannya untuk menjadi sangat eksklusif dalam beragama dan atau menutup diri dari komunitas lain? Pada masa itu, mulai ada pertentangan dalam dirinya: apakah Islam itu untuk Allah, ataukah untuk manusia, atau untuk membangun masyarakat secara umum?

Munir menegaskan dalam wawancaranya bahwa akhirnya ia sadar dan setuju pada Gus Dur yang menegaskan Tuhan tak perlu bodyguard untuk mengawal-Nya. Tuhan tak perlu dibela! Yang perlu dikawal dan dibela adalah kemanusiaan: orang-orang tertindas. Sebab agama memang hadir sebagai maslahat untuk manusia. Sedangkan Tuhan sendiri, Dia Maha Kuasa dan Perkasa. Membela Tuhan sama seperti menggarasi lautan.

Dengan pergeseran semangat dan penghayatan keberagamaan seperti yang dirasakan Munir dan ditegaskan Gus Dur itu, maka seseorang akan beralih bukan hanya menilai dan menjalani keberislaman ritual saja. Namun juga diikuti kesalehan sosial: membela HAM, memperjuangkan keadilan, mengupayakan kesejahteraan, dan menyemai toleransi. (Baca: “Saleh Ritual, Saleh (Juga) Sosial-nya“)

Bagi Munir, ritual-ritual itu menjadi sebuah deklarasi yang tak bermakna jika tak diterapkan di tingkat sosial-kemanusiaan. Ia tak bisa membayangkan bagaimana seseorang bisa menghadapkan wajah kepada Tuhan sehari lima kali dalam salat, jika ia membiarkan ketidakadilan atau, apalagi, menjadi aktor kezaliman.

Ketika dalam wawancara itu Ulil bertanya secara lebih spesifik tentang pada titik mana terjadi perubahan keberislaman Munir dari ekstrem menjadi moderat. Maka, Munir menjawab bahwa titik pangkalnya adalah perenungan yang disentak oleh diskusinya dengan Malik Fadjar, mantan Menteri Pendidikan Nasional, yang menggugahnya untuk berpikir ulang tentang misi Islam: untuk kekuasaan ataukah pengabdian kepada sesama? Ketika agama justru dijadikan instrumen kekuasaan, bukan hanya politik, tapi juga soal kuasa (monopoli) atas Kebenaran, maka ia akan mengeras, eksklusif, dan intoleran. Bertolak belakang jika agama justru dihayati sebagai “lembaga” pengabdian.

Bagi Munir, pesan-pesan kesempurnaan Islam tentang keadilan misalnya, bersifat inklusif-universal: bukan hanya untuk kaum muslim, melainkan siapa saja. Tak perlu pula harus beriringan dengan agenda islamisasi, karena yang utama adalah membuat rahmat (kesempurnaan) Islam dirasakan semesta, bukan membuat Islam dianut semesta. Meski bukan berarti yang disebut terakhir tak penting, melainkan itu bersifat privat.

Akhirnya, bagi Munir, Islam adalah keadilan. Dan, memang, bahkan dalam pandangan sebagian ulama dan mazhab Islam, keadilan diletakkan dalam ushuludin (dasar agama). Bagi dia, kemenangan sejati Islam bukanlah saat masjid sesak oleh jamaah salat, tapi saat keadilan tegak di mana Islam ada. Maka, tepat jika di tengah dan akhir lagu untuk Munir: “Pulanglah” dari Iwan Fals, diselipi petikan azan: hayya ‘ala al-falah (mari menuju kemenangan). Munir adalah suara keadilan dan itulah sebenar-benarnya suara azan, suara Islam.

Untuk Munir dan Gus Dur, lahumal Fatehah!

Print Friendly, PDF & Email
Husein Ja'far Al Hadar

Sarjana, Peneliti, dan Penulis Keislaman.

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in Artikel

To Top