Connect with us

HAM: Ajaran Islam yang Tertuduh Sekular

Ensiklopedi

HAM: Ajaran Islam yang Tertuduh Sekular

Bagaimana Islam memposisikan Hak Asasi Manusia (HAM)? Uraian ini bukan hanya penting, tapi relevan di tengah maraknya pelanggaran HAM di komunitas atau dunia muslim: baik sebagai korban atau juga pelaku.

Isu HAM menjadi sentral dalam tata masyarakat modern. Rendahnya kesadaran nilai HAM cenderung membuat umat dan dunia muslim kerap menjadi korban atau juga pelaku pelanggaran HAM.

Wacana HAM santer pasca-Perang Dingin. Dengan keunggulan hampir di berbagai bidang dari ekonomi, politik, hingga teknologi, Barat meletakkan parameter dan mengadvokasi penegakan nilai-nilai HAM ke seluruh dunia dengan ragam masalah mendasar: standar ganda, dll. Dunia Ketiga dan negara-negara muslim –karena kekalahan dan pahit-getirnya merasakan kolonialisme dan imperialisme Barat- mengidentikkan dan menempelkan stigma bahwa HAM modern merupakan ideologi sekular produk Barat. Bagi mereka, wacana HAM dan pola penegakannya khas, sektoral, dan lokal. Dunia Ketiga dan dunia muslim punya sistem nilainya sendiri yang religius dan Timur. Sebuah wacana yang populer dengan sebutan culture-based resistence to rights, penolakan hak-hak asasi atas dasar perbedaan budaya. Namun, yang salah kaprah adalah yang hingga menganggap HAM identik dengan Barat.

Menurut Nurcholish Madjid (Cak Nur) dalam HAM dan Pluralisme Agama (PKSK, 1997), penegakan HAM butuh komitmen tulus yang berakar pada kesadaran tentang makna kehidupan yang berbasis agama, agar komitmen dan nilai-nilainya tak dangkal dan hambar. Bahkan Amerika Serikat (AS) sekalipun yang dibangun sebagai negara sekular-demokratis, tetaplah berlandaskan nilai etika dan moral kekristenan dalam perkara HAM, khususnya Protestan Putih Bangsa Anglo-Sakson (White Anglo Saxon Protestants-WASP).

Apakah HAM memang produk Barat yang yang lahir dari semangat anti agama (sekular) dengan hasrat pembebasan diri (liberalisme) dari norma-norma agama? Menurut Cak Nur, wacana HAM di Barat justru merupakan isu baru yang secara historis bahkan -sebagaimana diungkapkan dalam Renaissance Philosophy of Man oleh Giovani Pico della Mirandola dalam pidato ilmiah di depan pemimpin Gereja- dimulai di Barat karena berkenalan dengan Islam, khususnya orang-orang Sarasan (orang-orang Arab Muslim). Meskipun, itu ditolak oleh kalangan Gereja karena dinilai bertentangan dengan Bibel dan Pico akhirnya dihukum Gereja. Sehingga, jika di Barat para pejuang HAM cenderung sekular, sebagaimana yang paling populer dan puncak adalah Julian Haksley yang menulis Religion Without Revealation. Maka, dalam Islam, pejuang HAM justru bisa lahir dari rahim religiusitas-Islam. Salah satu yang terdekat dengan kita adalah sosok Munir, yang dalam wawancaranya dengan Ulil Abshar-Abdalla yang disiarkan Kantor Berita Radio 68 H pada 1 Agustus 2002, menegaskan bahwa pondasi dan energinya dalam memperjuangkan HAM dari keislamannya. (Baca: “Oleh Munir, Dari Gus Dur: Hijrah Jadi Muslim Moderat“)

“Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.” (QS. Al Maidah: 32)

Dengan mengutip ayat tersebut, Cak Nur ketika berbicara tentang HAM dan Islam biasa memulai dengan kisah pembunuhan Habil oleh saudaranya Qabil (keduanya adalah anak-anak Nabi Adam). Tragedi tersebut mengundang murka Allah dan membuat-Nya menegaskan agungnya posisi HAM dalam jalan-Nya, termasuk Islam tentunya.

Menurut Cak Nur, berdasarkan kajian historis, sumber utama nilai-nilai HAM modern adalah dari “Pidato Perpisahan Rasul” (Khutbah al-Wada’), saat melakukan Haji Akbar di Padang Arafah. Inilah sebenarnya juga makna wukuf di Arafah dalam haji yang merupakan rukun dan yang utama dalam rangkaian ritual haji.

Di antara poin-poin khutbah Nabi tersebut berkaitan HAM, pertama, inna dimaa-a-kum wa amwaalakum haroomun ‘alaikum (sesungguhnya darahmu dan hartamu haram atasmu sekalian). Kedua, ribaal jaahiliyyati maudhu’un” (riba jahiliyah itu terlarang). Poin ini berkaitan perlawanan terhadap segala bentuk penindasan secara ekonomi. Ketiga, fattaquullaha fien nisaa-i fainnakum akhodztumuhunna biamaanillah (jaga dan bertakwalah kepada Allah dalam hal perempuan, sesungguhnya engkau mengambilnya dengan amanah Allah). Inilah poin tentang diangkatnya derajat wanita setara dengan pria dalam Islam. Keempat, penegasan tentang tanggung jawab, di mana setiap orang memikul konsekuensinya sendiri atas apa yang dilakukannya. Poin ini seperti poin yang dikumandangkan Pico tentang perlawanan atas dogma “dosa warisan” yang diturunkan Adam pada anak-cucunya.

Maka, HAM adalah satu satu nilai kesempurnaan Islam. Perjuangkan HAM tanpa pandang bulu!

Print Friendly, PDF & Email
Continue Reading
You may also like...
Husein Ja'far Al Hadar

Sarjana, Peneliti, dan Penulis Keislaman.

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in Ensiklopedi

To Top