Connect with us

SARA Indonesia dan Singapura

SUARA

SARA Indonesia dan Singapura

Dalam isu suku, agama dan ras (SARA), Indonesia tertinggal dibandingkan Singapura. Bangsa Indonesia masih mempersoalkan SARA calon pemimpimnya, sementara Singapura sudah melampaui permasalahan itu.

Konstitusi Singapura sempat memberikan batasan SARA pada calon pemimpinnya. Namun bangsa Singapura merevisinya, lalu memberikan ruang bagi etnis dan agama apa saja untuk menjadi presidennya. Hasilnya, tanggal 13 September 2017 lalu, negara yang dimayoritasi Tionghoa-Budha itu melantik Halimah Yacob sebagai presiden Singapura yang beretnis Melayu dan beragama Islam.

Ketika Singapura menginklusifkan konstitusinya berikut prakteknya di lapangan, Indonesia justru menampakkan sisi kemunduran. Konstitusi Indonesia sebenarnya memberi kesempatan bagi etnis dan pemeluk agama minoritas untuk menjadi pimpinan tertinggi negara. Tapi, hingga kini, pihak mayoritas di Indonesia masih menahan laju pihak minoritas untuk mendapatkan kesempatan itu.

Dalam pemiihan presiden, faktor Islam dan non-Islam masih dipersoalkan, begitu juga masalah Jawa dan non-Jawa masih menjadi pertimbangan. Meski tak tertulis, terdapat semacam “opini publik laten” yang mengandaikan bahwa presiden Indonesia “seharusnya” seorang Muslim Jawa. Ada eklusi pada non-muslim dan non-Jawa dalam penentuan pemimpin negara ini. Ekslusi itu sejatinya bersifat politis.

Pada tataran yang lebih rendah, pertimbangan-pertimbangan agama dan etnisitas sempat ditinggalkan oleh rakyat Indonesia dalam beberapa pemilihan kepala daerah (PILKADA). Ada daerah yang didominasi suatu etnis dan agama, tapi dipimpin oleh tokoh beretnis dan beragama minoritas.

Kondisi unik itu, celakanya, rusak di Pilkada DKI Jakarta tahun 2017. Sebagian muslim Jakarta menolak seorang beretnis Tionghoa beragama Kristen untuk memimpin Jakarta. Pertimbangan mereka dalam menolak pemimpin yang berintegritas tinggi dan berkinerja baik itu adalah isu SARA.

Para politisi busuk yang disingkirkan oleh sistem akuntabel pemimpin tersebut memanfaatkan kecenderungan sektarian sebagian muslim itu. Ketika sang pemimpin menyinggung soal agama mayoritas, ada pihak yang “menggoreng”nya menjadi isu “penodaan agama”, lantas para politisi busuk itu mem”blow-up”nya sedemikian rupa menjadi isu nasional, sehingga terjungkallah sang pemimpin itu tidak hanya dari kursi kepemimpinannya, tapi juga dari kehidupan bebasnya.

Yang ironis, isu SARA itu merasuk ke dalam pikiran beberapa orang yang selama ini terkenal rasional, toleran dan inklusif. Sebenarnya, orang-orang itu tetap pintar. Tapi, afiliasi politiknya menjadikannya tampak dungu. Yang biasanya tampak cerdas tiba-tiba kata-katanya berputar-putar dan tidak meyakinkan. Yang selama ini tampak toleran dan inklusif tiba-tiba bergaul dengan pihak yang intoleran dan eklusif, bahkan membiarkan tindakan mereka.

Kejadian itu merupakan gerhana Indonesia, mengingat Jakarta adalah miniatur Indonesia yang menjadi contoh daerah lain, dan tokoh-tokoh rasional-toleren-inklusif seharusnya sebagai pendorong kebhinekaan Indonesia.

Saat Indonesia, khususnya Jakarta, mengalami gerhana yang belum seratus persen sirna, Singapura justru menampakkan keterbukaan pada keragaman yang mencerahkan. Semoga cahaya dari negara tetangga itu turut menyinari bangsa dan negara kita, supaya lebih menyadari bahwa dalam hal kepemimpinan masyarakat yang dititiktekankan bukan apa agama dan rasnya, tapi apakah dia benar-benar cakap dalam memimpin? []

Print Friendly, PDF & Email
Zainul Maarif

Dosen dan Peneliti di bidang Filsafat dan Agama. Alumni Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir ini telah mempublikasikan beberapa buku: "Imam Syafi'i: Ar-Risalah" (2018), "An-Naisaburi: Kitab Kebijaksanaan orang-orang Gila" (2017), "Logika Komunikasi" (2015, 2016), "Ibnu Arabi: Rahasia Asmaul Husna" (2015), "Retorika: Metode Komunikasi Publik" (2014, 2015), "Pos-Oksidentalisme: Identitas dan Alteritas Pos-Kolonial" (2013), "Filsafat Yunani" (2012), "Al-Jauziyah: Surga Yang Dijanjikan" (2011), "Pos-Oksidentalisme: Dekonstruksi atas Oksidentalisme Hassan Hanafi" (2007), "Sosiologi Pemikiran Islam" (2003), "Dekonstruksi Islam: Elaborasi Pemikiran Hassan Hanafi dan Nasr Hamid Abu Zaid" (2003).

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in SUARA

To Top