Connect with us

Dari Xenophobia ke Meritokrasi

SUARA

Dari Xenophobia ke Meritokrasi

Tanggal 13 September 2017, seorang Muslimah Melayu bernama Halimah Yacob terpilih menjadi Presiden Singapura, yang mayoritas warganya beragama Budha dan beretnis Tionghoa. Sebelum itu, tanggal 7 Mei 2016, Sadiq Khan, yang keturunan Pakistan beragama Islam, dilantik sebagai Wali Kota London, Inggris, yang didominasi oleh pribumi bule beragama Kristen. Apa pesan di balik kepemimpinan pihak minoritas atas pihak mayoritas tersebut?

Sedikitnya ada tiga makna dalam keterpilihan orang Islam untuk memimpin kawasan yang dimayoritasi non Muslim itu. Pertama, Islamophia (ketakutan/kebencian pada Islam) agak meluntur. Meskipun muslim-muslim garis keras masih merajalela, bahkan menebarkan teror di mana-mana, dunia tahu bahwa muslim-muslim anarkis itu hanya “sebagian” muslim, bukan “keseluruhan” muslim.

Dunia paham bahwa Islam sejatinya mengajarkan kebaikan dan perdamaian. Ketika ada sebagian muslim yang menampakkan keburukan dan peperangan, dunia pun mengerti bahwa muslim-muslim itu hanya anomali kecil dari himpunan muslim, yang tidak merepresentasikan universalitas Islam dan muslimin yang sejati nya teduh dan meneduhkan.

Kedua, ayat yang menyatakan bahwa “Yahudi dan Nasrani tidak rela kepada umat Islam sampai umat Islam mengikuti mereka” (QS. Al-Baqarah: 120) merupakan ayat historis. Ayat yang terkait dengan ruang dan waktu itu tentu bukan ayat universal. Warga London yang mayoritas Kristen namun berkenan memilih Sadiq Khan yang muslim menampakkan falsifikasi bagi klaim universalitas ayat tersebut.

Ketiga, meritokrasi telah menggeser xenophobia. Yang dimaksud dengan xenophobia adalah kebencian pada pihak lain. Sementara meritokrasi adalah sistem yang memilih seseorang semata-mata karena kompetensi seseorang itu.

London dan Singapura sudah mengejawantahkan transformasi itu. Mereka mengesampingkan pandangan miring tentang Islam dan muslim. Alih-alih terjangkit Islamophobia, mereka justru rela dipimpin oleh warganya yang berkompetensi dan berintegritas tinggi, meskipun berasal dari agama minoritas (Islam di London dan Singapura) dan etnis minoritas (Melayu di Singapura dan Pakistan di London).

Walau tak terucap, masyarakat London dan Singapura menunjukkan kesadaran bahwa suku, agama dan ras (SARA) cenderung given (diterima begitu saja oleh seseorang) daripada pilihan. Orang hadir di dunia tanpa memilih suku dan ras tertentu, melainkan dilekati begitu saja oleh dua atribut itu.

Mayoritas orang juga mengalami hal serupa dalam hal agama. Kendati ada orang yang memilih agama sendiri, kebanyakan orang memeluk suatu agama karena faktor keturunan. Sebagaimana suku dan ras, agama dengan begitu cenderung diterima begitu saja oleh seseorang daripada dipilih.

Karena merupakan sesuatu yang given, maka SARA seyogianya tidak dijadikan sebagai faktor penentu penerimaan atau penolakan atas seseorang sebagai pemimpin suatu kawasan. Kompetensilah yang seharusnya diperhatikan dalam menentukan kelayakan seseorang menjadi pemimpin. Yang membanggakan, London dan Singapura sudah menyadari dan menjalankan idealitas tersebut.

Ketika masyarakat London dan Singapura enggan terjebak dalam kubangan xenophobia dan mulai meniti jalan meritokrasi, bagaimana masyarakat Indonesia? Beranikah masyarakat Indonesia, khususnya yang mayoritas, meninggalkan xenophobia dan mengedepankan perspektif meritrokrat dalam hal pemilihan pemimpinnya?

Yang jelas, mayoritas yang dewasa tak keberatan dipimpin minoritas yang berkompetensi dan berintegritas tinggi, di samping tetap berupaya untuk menghadirkan generasi yang berkualitas.[]

Print Friendly, PDF & Email
Zainul Maarif

Dosen dan Peneliti di bidang Filsafat dan Agama. Alumni Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir ini telah mempublikasikan beberapa buku: "Imam Syafi'i: Ar-Risalah" (2018), "An-Naisaburi: Kitab Kebijaksanaan orang-orang Gila" (2017), "Logika Komunikasi" (2015, 2016), "Ibnu Arabi: Rahasia Asmaul Husna" (2015), "Retorika: Metode Komunikasi Publik" (2014, 2015), "Pos-Oksidentalisme: Identitas dan Alteritas Pos-Kolonial" (2013), "Filsafat Yunani" (2012), "Al-Jauziyah: Surga Yang Dijanjikan" (2011), "Pos-Oksidentalisme: Dekonstruksi atas Oksidentalisme Hassan Hanafi" (2007), "Sosiologi Pemikiran Islam" (2003), "Dekonstruksi Islam: Elaborasi Pemikiran Hassan Hanafi dan Nasr Hamid Abu Zaid" (2003).

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in SUARA

To Top