Connect with us

Islam itu Perdamaian. Titik!

Ensiklopedi

Islam itu Perdamaian. Titik!

Sejak artinya secara bahasa, salah satu arti “Islam” adalah “damai”. Arti ini dimuat dalam Al-Quran di QS. Al-Anfal: 61, yakni:

“Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Ketika seorang muslim bertemu dengan orang lain, maka mereka diwajibkan mengucapkan salam yang artinya adalah ucapan perdamaian. Sehingga, memang adalah salah satu ciri dan komitmen Islam sejak awal adalah perdamaian. Oleh karena itu, sebagaimana ditegaskan dalam QS. Al-Anbiyaa: 107, Islam yang diturunkan melalui Nabi Muhammad adalah rahmat bagi semesta alam (bukan hanya bagi orang-orang muslim atau mukmin saja).

Bukan muslim bagi mereka yang mengusik perdamaian dan memicu pertengkaran. Seorang muslim, dalam beberapa hadis riwayat Imam Bukhari, Imam Muslim, dan Imam Ahmad adalah mereka yang orang lain merasa aman dari ucapan dan tangannya.

Maka, kita dapati julukan bagi Nabi Muhammad adalah “Nabi al-Rahmah” (Nabi yang Rahmat). Sehingga, berdasarkan data dari sejarah hidupnya sebagai utusan Allah: yakni 23 tahun, kita dapati bahwa 99 % dari hidupnya yang sekitar 8000-an hari itu adalah damai. Adapun jumlah hari dalam hidupnya yang digunakan untuk berperang hanyalah 80 hari.

Pertanyaannya, jika Islam adalah agama damai, mengapa masih ada –walau hanya 1%- dari hidup Nabi yang isinya berperang?

Jawabannya adalah pada QS. Al-Hujurat: 9, yakni:

“Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin berperang maka damaikanlah antara keduanya.  Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain, maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah. Jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.”

Perang justru dilakukan untuk menegakkan perdamaian. Ia dilakukan atas orang-orang yang berperilaku aniaya, yang itu artinya ia sudah menyalahi komitmen damai dan bersikap mengoyak perdamaian. Sehingga, mereka perlu diperangi agar perdamaian tetap terjaga. Oleh karena itu, di akhir ayat di atas ditegaskan bahwa perang dalam Islam jangan sampai berarti menganiaya balik orang yang berlaku aniaya, melainkan hanya membuatnya mau kembali pada jalan damai. Dan jika mereka telah kembali ke jalan damai, maka berdamailah dengan mereka.

Oleh karena itu, kita dapati dalam sejarah bahwa ketika baru pertama kali masuk ke kota Madinah dalam hijrahnya, Nabi langsung menginisiasi “Piagam Madinah” yang berisi perjanjian untuk semua menjaga perdamaian, menjunjung kesetaraan, dan menegakkan keadilan.

Adapun perang dalam Islam, itu dimulai pada periode setelah hijrah tersebut. Ia dikenakan pada orang-orang yang menentang prinsip-prinsip luhur yang telah disepakati oleh seluruh masyarakat Madinah saat itu, apapun agama maupun sukunya: perdamaian, kesetaraan, dan keadilan.

Oleh karena itu, ditegaskan dalam QS. Al-Maidah: 2 dan 8 bahwa prinsip dalam Islam bukanlah kebencian, melainkan keadilan. Sebenci apapun seorang muslim pada yang lain, maka ia diwajibkan oleh Al-Quran untuk berlaku adil.

Dalam Islam diberlakukan prinsip bahwa perang itu didasarkan pada cinta: cinta akan perdamaian, keadilan, dan prinsip-prinsip luhur lainnya yang lintas agama. Perang dilakukan karena seorang muslim dituntut cinta akan perdamaian, bukan nafsu akan berperang. Sehingga kita dapati episode dalam perang di mana Sayyidina Ali menunda hempasan pedangnya pada musuh lantaran ia mau melakukannya karena sedang benci pada musuh itu lantaran meludahinya. Ia tak mau hempasan pedang itu terjadi karena ego dan rasa benci, melainkan tetap lantaran cinta pada perdamaian dan berharap keridhaan Allah.

Print Friendly, PDF & Email
Husein Ja'far Al Hadar

Sarjana, Peneliti, dan Penulis Keislaman.

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in Ensiklopedi

To Top