Connect with us

Mengutip Al-Quran

Ensiklopedi

Mengutip Al-Quran

Saat Khalifah Ali bin Abi Thalib bertempur melawan Muawiyah bin Abi Sufyan lalu mengadakan arbitrase (tahkîm), kaum Khawarij mengutip ayat Al-Quran: “wa man lam yahkum bi mâ anzalallâh fa ulâika humul kâfirûn (Barangsiapa tidak merujuk ke hukum Al-Quran, maka mereka kafir)”. (QS. Al-Maidah: 44) Kaum Khawarij, yang awalnya mendukung Khalifah Ali, menganggap arbitrase itu tidak sesuai dengan Al-Quran dan mencap pelakunya, yaitu Ali dan Muawiyah, sebagai orang kafir.

Terkait rujukan Khawarij itu, Khalifah Ali berkata: “hâdzal qur’ân khaththun masthûrun baina daffatain lâ yanthiq, innamâ yatakallamu bihir rijâl (Al-Quran adalah tulisan yang dicatat di antara dua sampul yang tidak berbicara dengan sendirinya, melainkan orang-oranglah yang berkata dengan mengatasnamakannya)”.

Ketika seseorang atau sekelompok orang mengutip Al-Quran, dengan demikian, bukan Al-Quran yang berbicara, tapi kepentingan orang atau kelompok itu yang mengemuka, baik untuk tujuan luhur maupun untuk tujuan busuk. Kaum Khawarij tak terlepas dari cakupan proposisi tersebut.

Mengenai kutipan Al-Quran dan maksud Khawarij dalam pengutipan itu, Imam Ali berkomentar: “kalâmul haq urîda bihil bâthil (perkataan benar, tapi dimaksudkan untuk kebatilan).” Ayat Al-Quran itu benar. Tapi niat Khawarij dalam mengutarakan ayat itu buruk. Dengan hanya bermodal mengutip Al-Quran secara letterlij (sisi zahirnya saja) tanpa pengkajian Al-Quran dan konteksnya secara mendalam, Kaum Khawarij kemudian membunuh Khalifah Ali.

Yang dilakukan Kaum Khawarij dilanjutkan oleh kaum ekstrimis Islam hingga saat ini. Hanya karena membaca ayat “faqtulûl musyriqîna haitsu wajadtumûhum (perangilah orang-orang musyrik di mana pun kalian menemukannya)” (QS. At-Taubah: 5), misalnya, mereka merasa mendapat legitimasi untuk membunuh orang non-muslim, yang dianggap musyrik, di mana pun berada.

Apa yang dilakukan kaum Khawarij dan kaum ekstrimis Islam kontemporer itu tak sepatutnya dicontoh. Sebab, yang mereka lakukan adalah cerminan dari kedunguan dalam berinteraksi dengan Al-Quran dan realitas. Lagi pula, yang mereka lakukan bukan malah meninggikan nama Islam dan muslimin, melainkan justru mempurukkan citra Islam dan mempersulit umat Islam.

Untuk mengutip Al-Quran, tidak cukup berdasarkan prinsip “ballighû `annî walau âyah (beritahu tahu aku walaupun satu ayat).” Untuk mengutip Al-Quran, tidak cukup bermodal terjemahan Al-Quran dan postingan tentang Islam yang tersebar di internet dan media sosial.

Untuk mengutip Al-Quran, perlu ilmu yang cukup minimal (1) tentang ayat yang akan dikutip, dan (2) tentang realitas di mana ayat itu akan diterapkan. Tanpa dua “ilmu minimal” itu, kutipan atas ayat Al-Quran justru akan menzolimi Al-Quran dan realitas, karena menempatkan ayat-ayat Al-Quran di konteks yang tidak tepat.

Akankah Anda menganiaya Al-Quran dan realitas dengan keminiman ilmu Anda tentang keduanya? Bukanlah Allah menyuruh “iqra’!” (bacalah!) dan “afalâ ta`qilûn” (tidakkah kamu berpikir?!), sementara Rasulullah bersabda “uthbil `ilma minal mahdi ilâl lahdi” (carilah ilmu dari buaian hingga liang lahat!)?[]

Print Friendly, PDF & Email
Zainul Maarif

Dosen dan Peneliti di bidang Filsafat dan Agama. Alumni Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir ini telah mempublikasikan beberapa buku: "Imam Syafi'i: Ar-Risalah" (2018), "An-Naisaburi: Kitab Kebijaksanaan orang-orang Gila" (2017), "Logika Komunikasi" (2015, 2016), "Ibnu Arabi: Rahasia Asmaul Husna" (2015), "Retorika: Metode Komunikasi Publik" (2014, 2015), "Pos-Oksidentalisme: Identitas dan Alteritas Pos-Kolonial" (2013), "Filsafat Yunani" (2012), "Al-Jauziyah: Surga Yang Dijanjikan" (2011), "Pos-Oksidentalisme: Dekonstruksi atas Oksidentalisme Hassan Hanafi" (2007), "Sosiologi Pemikiran Islam" (2003), "Dekonstruksi Islam: Elaborasi Pemikiran Hassan Hanafi dan Nasr Hamid Abu Zaid" (2003).

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in Ensiklopedi

To Top