Connect with us

Ajaran KH. Syukron Ma’mun

Ensiklopedi

Ajaran KH. Syukron Ma’mun

Sejak tahun 1993 hingga tahun 1999, penulis berguru kepada KH. Syukron Ma’mun di Pondok Pesantren Daarul Rahman, Jakarta. Selama enam tahun itu, banyak hal yang penulis pelajari dari beliau, dan pelajarannya itu menjadi panduan hidup penulis hingga kini. Sebagian dari ajarannya itu adalah: ajaran dari kitab, prinsip hidup dan doa khusus.

Kitab yang pertama penulis pelajari dari Kyai Syukron adalah kitab Riyâdl Ash-Shâlihîn, sedangkan kitab terakhir yang penulis kaji dalam bimbingannya adalah kitab Ihyâ’ `Ulûm Ad-Dîn. Kitab pertama ditulis oleh Imam An-Nawawi berisi berbagai bekal hidup dan dakwah. Kitab terakhir dikarang oleh Imam Al-Ghazali memuat pembauran tasawuf (mistisisme Islam) dan fikih (jurisprudensi Islam).

Kyai Syukron lebih khusus mengajarkan kitab Ihya’ Ulum Ad-Dîn, sehingga ajaran kitab itu lebih melekat di benak penulis. Salah satu ajaran Imam Al-Ghazali yang ditransfer oleh Kyai Syukron kepada penulis dan kawan-kawan melalui kajian kitab Ihya’ itu adalah mengenai empat tipologi manusia berdasarkan pengetahuan dan kesadarannya.

Pertama, orang yang tahu dan sadar dirinya tahu. Orang itu adalah panutan yang patut diikuti. Kedua, orang yang tahu tapi tidak sadar dirinya tahu. Orang itu orang pintar yang terlupa, sehingga perlu diingatkan. Ketiga, orang yang tidak tahu dan sadar dirinya tidak tahu. Orang itu pembelajar yang pantas diajari. Keempat, orang yang tidak tahu tapi tidak sadar dirinya tidak tahu. Orang itu orang dungu yang sok tahu dan sulit diberitahu, sehingga layak disuruh pergi atau ditinggalkan.

Ajaran kitab Ihya’ Ulum Ad-Dîn jilid satu bab Ilmu itu memandu penulis untuk minimal menjadi orang model ketiga, maksimal menjadi orang model pertama, yang menjauh dari orang model keempat. Bukankah panduan itu juga berlaku untuk kita semua saat ini, yang sering menghadapi orang model keempat, baik di lingkungan terdekat maupun di dunia maya?

Selain memberi pedoman berdasarkan ajaran kitab seperti di atas, Kyai Syukron juga membimbing murid-muridnya dengan beberapa prinsip hidup. Miminal ada tiga prinsip hidup darinya yang terpatri kuat di benak penulis.

Pertama, prinsip hidup siap susah yang berbunyi: “Orang siap susah belum tentu susah. Ketika orang itu susah, orang itu tidak akan berkeluh kesah karena sudah siap susah. Tapi jika orang itu tidak susah, maka dia akan penuh syukur. Sebaliknya, orang yang siap senang belum tentu senang. Jika dia senang, dia biasa saja, karena sudah siap senang. Tapi jika orang itu susah, maka dia akan penuh keluh kesah, karena tidak siap susah”.

Jadi, sebaiknya kita siap susah saja daripada siap senang. Berdasarkan prinsip itu, penulis terbimbing untuk bersabar dan bersyukur dalam menghadapi hidup, yang notabene intisari keimanan kepada Allah swt.

Tapi, kondisi spiritual (ahwâl) tak berdiri sendiri. Perlu tindakan penggerak hidup. Supaya santrinya terus aktif dan kreatif, mantan Ketua LDNU PBNU (Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama Pengurus Besar Nahdlatul Ulama) itu mengajarkan prinsip yang berbunyi: “Istirahat adalah mengganti satu pekerjaan dengan pekerjaan lain”.

Prinsip, yang kemungkinan besar diajarkan oleh guru kyai Syukron di Pondok Modern Gontor Ponorogo itu, tidak seratus persen menolak pandangan bahwa tidur adalah istirahat. Sebaliknya, prinsip itu meningkatkan makna istirahat menjadi pergantian tindakan, yang pada titik tertentu meningkatkan kinerja dan karya.

Prinsipnya yang ketiga yang masih terngiang di benak santrinya ini adalah prinsip tidak menentukan tarif dalam menebarkan ilmu. Dai terkondang di Indonesia tahun 80-an itu kerap mengatakan dengan suara khasnya: “Kyai yang menentukan tarif bukan kyai, tapi taksi!” Meski begitu, Kyai Syukron tidak menolak honorarium berdasarkan prinsip: “Lâ athlub wa lâ arfudl (saya tidak meminta, tapi tidak menolak)”.

Kyai senior itu mendorong santri-santrinya, yang kemudian banyak yang menjadi pengajar dan penceramah, untuk lebih ikhlas dalam menebarkan ilmu, sambil tetap yakin bahwa ilmu tidak akan menelantarkan pewartanya, karena ada prinsip yang mengatakan “Orang yang ingin dunia dan akhirat harus berilmu”. Artinya, orang yang berilmu, apalagi mempublikasikannnya, akan diberi ganjaran dunia dan akhirat, meskipun tanpa mengharapkan ganjaran itu.

Di samping mengajarkan prinsip hidup dan kitab kuning, Kyai asal Sampang, Madura itu juga memberi doa khusus kepada penulis, yaitu Hizib Nashar ala Syekh Abu Hasan Asy-Syadlili. Kyai Syukron memberikan ijazah perapalan Hizib, yang hingga kini tetap penulis baca itu, menjelang kelulusan penulis sebagai santri beliau.

Di sela-sela pengajian Ihyâ’ `Ulûm Ad-Dîn, penulis sering memijat Kyai Syukron dan mencabuti ubannya. Di momen-momen akhir kelas tiga aliyah (kelas 12) penulis di pesantren itu, Kyai Senior, yang telah mendidik banyak kyai di Jabodetabek (seperti KH. Zainuddin MZ., KH. Sumarno Syafi’i, KH. Jamhuri dll.), itu mengizinkan penulis dan beberapa rekan santri untuk mengamalkan doa khusus para kyai itu.

Kyai Syukron memanggil penulis dengan nama kota asal penulis: “Pekalongan”. Hingga penulis lulus dari pesantrennya dan melanjutkan studi di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, Kyai Syukron masih ingat sebutan untuk santrinya yang sering memijat dan mencabut ubannya itu.

Ketika Kyai Syukron berkunjung ke Mesir, penulis kembali memijatnya dan berkata: “Kyai! Uban Kyai masih saya simpan di dompet, loh!”. Kyai Syukron pun berkelakar: “Saya jauh-jauh ke sini untuk ngejar ubanku itu, Pekalongan!”

Untuk Sang Guru yang membolehkan santrinya ini memegang kepalanya, dan mengajarkan pada muridnya ini berbagai kitab, berbagai prinsip hidup dan doa khusus, Fatihah selalu dikirimkan. []

Print Friendly, PDF & Email
Zainul Maarif

Dosen dan Peneliti di bidang Filsafat dan Agama. Alumni Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir ini telah mempublikasikan beberapa buku: "Imam Syafi'i: Ar-Risalah" (2018), "An-Naisaburi: Kitab Kebijaksanaan orang-orang Gila" (2017), "Logika Komunikasi" (2015, 2016), "Ibnu Arabi: Rahasia Asmaul Husna" (2015), "Retorika: Metode Komunikasi Publik" (2014, 2015), "Pos-Oksidentalisme: Identitas dan Alteritas Pos-Kolonial" (2013), "Filsafat Yunani" (2012), "Al-Jauziyah: Surga Yang Dijanjikan" (2011), "Pos-Oksidentalisme: Dekonstruksi atas Oksidentalisme Hassan Hanafi" (2007), "Sosiologi Pemikiran Islam" (2003), "Dekonstruksi Islam: Elaborasi Pemikiran Hassan Hanafi dan Nasr Hamid Abu Zaid" (2003).

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in Ensiklopedi

To Top