Connect with us

Mengenal Sayyidina Husain dari Tradisi Tabot

Ensiklopedi

Mengenal Sayyidina Husain dari Tradisi Tabot

Tabot merupakan tradisi memperingati “Tragedi Karbala” bukan hanya pada hari kematian Sayyidina Husain, yakni pada tanggal 10 Muharram. Namun, tradisi itu merekam tragedi itu sejak Sayyidina Husain mengawali perjalanannya di tanggal 1 Muharram.

Pasalnya, secara historis-religius, 9 hari perjalanan Sayyidina Husain menuju Karbala bernilai historis dan religius yang penting dan mendalam. Dalam rangkaian perjalanan itu, ada sederet hikmah tentang kepemimpinan, perjuangan, perdamaian, perubahan, dll yang merupakan nilai-nilai dasar dalam Islam. Karenanya, setiap detik dalam hari-hari perjalanan itu patut dihayati dan direnungkan sebagai hikmah dalam Islam yang diturunkan Alah melalui perjuangan Sayyidina Husain. Dan, masyarakat budaya Tabot merangkum 9 hari perjalanan itu dalam 9 simbol budaya yang kemudian membentuk tradisi Tabot.

Pertama, “mengambik tanah” (mengambil tanah). Tanah yang diambil dalam prosesi ini merupakan tanah yang dianggap keramat (sebagai simbolisasi dari “Tanah Karbala”). Ritual ini juga menyiratkan pesan kepada manusia agar selalu mengingat asal penciptaannya yang tak lain dari tanah.

Kedua, “duduk penja” (mencuci jari-jari) merupakan simbolisasi dari ketangkasan Sayyidina Husain dalam memperjuangkan Islam dengan tangan dan jari-jarinya hingga beliau wafat. Ritual ini dilakukan setiap tanggal 4 Muharram yang tak lain merupakan simbolisasi dari ajaran Islam yang menganjurkan setiap orang untuk memandikan jenazah saudaranya yang telah wafat, sebelum dimakamkan. Secara khusus, duduk penja merupakan simbolisasi memandikan jenazah Sayyidina Husain yang saat itu jenazahnya bahkan tak dimandikan.

Ketiga, “menjara” (berkunjung) yang berisi nilai-nilai akhlak. Dalam ritual ini, setiap tanggal 6 dan 7 Muharram, masyarakat budaya Tabot dianjurkan saling mengunjungi kerabat merekauntuk mempererat tali silaturrahmi.

Keempat, “meradai” (mengumpulkan dana). Ritual ini dilakukan pada 6 Muharram sebagai simbolisasi solidaritas sosial-ekonomi sesama manusia, khususnya antara masyarakat budaya Tabot di sana.

Kelima, “arak penja” (mengarak jari-jari) dilakukan setiap tanggal 8 Muharram sebagai simbolisasi atas anjuran bersikap damai dan memafkan dalam Islam. Sebab, kala itu Sayyidina Husain sebenarnya tak datang untuk berperang, sehingga ia bawa juga wanita dan anak-anak dari kalangan keluarganya. Hanya saja, kekejaman tentara Yazid yang telah dibutakan oleh kekuasaan telah menjadikan mereka begitu sadis membantai Sayyidina Husain hingga jari-jarinya terpisah dari tangannya. Melalui ritual arak penja, masyarakat budaya Tabot mensyiarkan agar tragedi semacam itu tak lagi ada dalam sejarah Islam.

Keenam, “arak sorban” (mengarak sorban)Sorban yang diarak dalam ritual ini merupakan duplikat dari sorban yang dipakai Sayyidina Husain. Sorban di sini merupakan simbol kebenaran. Sehingga, ritual itu dipahami sebagai simbolisasi menjunjung tinggi perjuangan mempertahankan kebenaran, seperti yang ditunjukkan oleh Sayyidina Husain.

Ketujuh, “gam” (masa tenang)Ritual ini dilakukan sehari sebelum hari wafatnya Sayyidina Husain, yaitu pada 9 Muharram. Pada hari itu, tak ada kegiatan apapun dalam ritual Tabot. Sebab, hari itu dipahami sebagai hari keprihatinan dan berkabung atas kematian yang akan menjemput saudara Muslim bernama Sayyidina Husain pada keeeokan harinya. Menurut Husain Bahreisj (1987), ritual ini merupakan aplikasi dari hadis Nabi yang berbunyi;“Sesama muslim adalah saudara bagai satu tubuh. Jika salah satu bagian tubuh sakit, maka bagian lainnya juga akan merasakan sakitnya.”. Melalui ritual ini, masyarakat budaya Tabot diharap akan merasakan keprihatinan yang terjadi pada rombongan Sayyidina Husain beserta keluarga dan sahabatnya di Padang Karbala berabad-abad lalu.

Kedelapan, “arak gedang” (pawai besar)Ini merupakan momentum bertemunya seluruh gerga (kelompok peserta upacara Tabot) di Jalan Protokol dan berjalan bersama menuju Lapangan Merdeka. Ritual ini menyimbolkan anjuran persatuan dan merapatkan barisan dalam satu pawai besar bagi umat Islam dalam melumpuhkan musuh-musuh Islam dan memperjuangkan Islam dengan semanagat juang tinggi yang disimboisasi dengan penabuhan dol (gendang) sebagai penyemangat.

Kesembilan, “tabot tebuang”. Ini merupakan prosesi terakhir dalam rangkaian upacara Tabot yang dilakukan setiap tanggal 10 Muharram. Ritual ini merupakan simbolisasi masyarakat budaya Tabot dalam mengkafani, menyalatkan dan menguburkan Sayyidina Husain yang kala itu tak dikafani, tak disalati dan tak dikuburkan oleh pasukan Yazid. Dalam ritual ini, masyarakat budaya Tabot diharapkan dapat menghayati nilai-nilai dan ajaran Islam tentang bagaimana memperlakukan jenazah Muslim secara kemanusiaan dan sesuai tuntunan Islam.

Ritual terakhir tersebut dilakukan di Pemakaman Umum Karbela di kawasan Padang Jati, Bengkulu, tempat dimakamkannya Syekh Burhanuddin (atau lebih dikenal dengan nama Imam Senggolo di Bengkulu), pelopor tradisi Tabot itu sendiri. Menurut DR. Harapandi Dahri (2009), mengutip dari Ir. A Syafril Syah (Ketua Kerukunan Keluarga Tabot), nama Karbela itu juga sengaja diadopsi dan ditiru dari nama Karbala di Irak, tempat kematian Sayyidina Husain. Hal itu dilakukan agar masyarakat budaya Tabot selalu mengenang Tragedi Karbala dan berharap kawasan itu menjadi pusat dakwah dan budaya Islam.

Print Friendly, PDF & Email
Continue Reading
You may also like...
Husein Ja'far Al Hadar

Sarjana, Peneliti, dan Penulis Keislaman.

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in Ensiklopedi

To Top