Connect with us

Move on dari Fobia terhadap Komunisme

SUARA

Move on dari Fobia terhadap Komunisme

Ternyata sebagian rakyat Indonesia belum seratus persen “move on”. Tiap akhir September hingga awal Oktober, beberapa warga Indonesia masih saja membicarakan Partai Komunis Indonesia (PKI) dan Marxisme-Leninisme, dengan penuh rasa benci dan takut akan bangkit lagi. Padahal partai tersebut telah lama dikubur oleh negara-bangsa ini. Pengaruh Marxisme-Leninisme di dunia pun sudah luntur.

Runtuhnya Tembok Berlin (Berliner Mauer) dan negara Uni Soviet adalah puncak robohnya ideologi yang masih ditakuti oleh sebagian orang Indonesia itu. Ketika Jerman Timur hilang dan seluruh Jerman bersatu pada November 1991, lalu Uni Soviet dibubarkan pada 26 Desember 1991, ketika itu pula kebesaran Komunisme Marxis-Leninis menciut.

Sekarang, memang masih ada Republik Rakyat China sebagai negara komunis terbesar di dunia. Tapi, pemerhati China tahu betul bagaimana ekspansi ekonomi China akhir-akhir ini. Meskipun China “bermerk” komunis, pada prakteknya China “berperilaku” laiknya negara kapitalis. Seiring dengan praktek kapitalis negara komunis setelah keruntuhan beberapa negara komunis, laikkah Komunisme Marxis-Leninis ditakuti?

Mungkin orang Indonesia yang takut pada ideologi itu masih terpengaruh oleh propaganda Orde Baru yang akhir-akhir ini direproduksi. Sekiranya propaganda itu yang menjadi pemantik ketakutannya, maka tindakan Orde Baru terhadap PKI, Marxisme-Leninisme-Komunisme, dan orang-orang yang disinyalir terlibat PKI perlu diingat pula.

Pertama, Orde Baru secara resmi membubarkan PKI. Kedua, Orde Baru secara resmi melarang ideologi komunis Marxis-Leninis. Ketiga, Orde Baru membunuh atau memenjarakan orang-orang yang dianggap terkait dengan PKI. Keempat, Orde Baru membatasi hak politik-sosial-ekonomi orang-orang yang dinilai terhubung dengan PKI berikut anak keturunannya.

Apa yang dilakukan rezim Suharto itu sudah terlalu sangat cukup untuk menghabisi PKI berikut ideologinya hingga ke akarnya. Andai tindakan Orde Baru itu merupakan “manifestasi dendam atas terbunuhnya Pahlawan Revolusi yang diandaikan dilakukan oleh PKI”, maka dendam itu sudah terbayar lunas. Apa lagi yang akan dituntut oleh pihak yang telah menuntaskan kesumatnya itu?

Seyogianya amarah itu sudah padam, bukan malah dihidupkan dan diwariskan. Apalagi objek yang dibenci sudah lebur di dalam negeri dan tak bertaji di luar negeri.

Bila para pembenci PKI dan Marxisme-Leninisme itu masih tersandera masa lalu, belum bisa memandang masa kini secara jernih dan belum bisa melangkah ke masa depan tanpa beban sejarah, maka para pembenci itu perlu belajar kepada warga Nahdlatul Ulama’ (NU) secara umum dan KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) secara khusus.

Di zaman Orde Lama, NU adalah partai politik besar yang mayoritas angggotanya santri dan orang desa yang taat pada para kyai. Di pihak lain, PKI adalah partai politik besar yang juga beranggotakan rakyat kecil.

Menjelang keruntuhan Orde Lama dan berdirinya Orde Baru, warga NU mendengar desas-desus tentang niat PKI membunuh para kyai dan tuan tanah, sehingga muncul ketegangan antara NU dan PKI.

Bara itu menjadi api ketika kreator Orde Baru (1) menghembuskan wacana pengkhianatan PKI terhadap Pancasila yang notabene turut dibangun oleh kyai-kyai NU, dan (2) memberikan kesempatan bagi NU untuk menggebuk PKI. Akibatnya kekerasan horizontal pun terjadi.

Gus Dur sadar bahwa NU “diperalat” oleh penguasa Orde Baru saat turut serta membasmi PKI. Oleh karena itu, cucu pendiri NU itu meminta maaf kepada PKI ketika menjabat sebagai Ketua PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama’) dan waktu menjadi Presiden Republik Indonesia keempat.

Selain itu, Gus Dur juga menulis artikel berjudul “Pandangan Islam tentang Marxisme-Leninisme” (pertama terbit di Persepsi, No. 1, tahun 1982) yang berisi upaya mencari titik temu antara Islam dan Komunisme, hingga mencapai kesimpulan bahwa kedua ideologi tersebut memiliki kesamaan orientasi aksional-egalitarian-populis dan saling mendekat antara satu dan yang lain.

Pencarian common platform dan permohonan maaf Gus Dur tersebut menunjukkan bahwa Gus Dur, yang notabene representasi sempurna NU secara biologis-kultural-struktural-itu, sudah move on dari permusuhan dengan PKI, ideologinya dan orang-orangnya. Akankah Anda mengikuti jejak Gus Dur dan NU itu ataukah terus-terusan membenci sesuatu yang sudah mati tapi terus dipukuli bertubi-tubi? []

Print Friendly, PDF & Email
Zainul Maarif

Dosen dan Peneliti di bidang Filsafat dan Agama. Alumni Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir ini telah mempublikasikan beberapa buku: "Imam Syafi'i: Ar-Risalah" (2018), "An-Naisaburi: Kitab Kebijaksanaan orang-orang Gila" (2017), "Logika Komunikasi" (2015, 2016), "Ibnu Arabi: Rahasia Asmaul Husna" (2015), "Retorika: Metode Komunikasi Publik" (2014, 2015), "Pos-Oksidentalisme: Identitas dan Alteritas Pos-Kolonial" (2013), "Filsafat Yunani" (2012), "Al-Jauziyah: Surga Yang Dijanjikan" (2011), "Pos-Oksidentalisme: Dekonstruksi atas Oksidentalisme Hassan Hanafi" (2007), "Sosiologi Pemikiran Islam" (2003), "Dekonstruksi Islam: Elaborasi Pemikiran Hassan Hanafi dan Nasr Hamid Abu Zaid" (2003).

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in SUARA

To Top