Connect with us

Kami Jadi Cerdas, Terimakasih Pak Gatot!

Foto: detik.com

SUARA

Kami Jadi Cerdas, Terimakasih Pak Gatot!

Akhirnya, film Pengkhianatan G30S/PKI diputar di stasiun televisi “terdepan mengabarkan” itu. Lalu banyak yang menggelar nonton bareng (nobar). Kantor-kantor militer di kecamatan tiba-tiba ramai. Layar tancap hidup lagi. Selayaknya, kita tidak boleh lupa, itu semua adalah berkat jasa Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo. Ini yang terpenting. Catat.

Banyak pengamat politik menilai Sang Panglima sedang cari panggung sebagai ancang-ancang Pemilu 2019. Namun, tidakkah Anda menyadari betapa bermanfaatnya aksi-aksi Pak Gatot bagi pencerahan publik? Jika Anda menggeleng, patut diduga keras Anda adalah gerombolan haters-nya Pak Gatot. Maka, tak usah Anda lanjutkan baca coretan ini.

Selama dua pekan terakhir, Pak Gatot telah membuat kita, khalayak umum, mengerti sejarah. Aspek-aspek masa silam negeri kita, terutama terkait Gerakan 30 September (G30S), yang semula luput dari perbincangan, mendadak terbentang di hadapan kita. Ini berkat jasa Pak Gatot. Catat.

Salah jika melihat instruksi Pak Gatot untuk nonton bareng (nobar) film Pengkhianatan G30S/PKI beberapa waktu lalu itu sebagai usaha meraih simpati umat Islam. Itu jelas pandangan kaum haters. Wajarlah jika Anda, wahai kaum haters, mendapat tanggapan ketus dari Sang Jenderal. “Kalau perintah, mau apa memangnya?” “Emang gue pikirin?” Para haters jelas tidak mengerti betapa Pak Gatot hanya menginginkan anak-anak muda kita ini melek sejarah.

Buktinya, setelah instruksi pemutaran film itu, berbagai tulisan sejarah bermutu tinggi bermunculan di media online—platform utama kaum digital native, generasi milenial. Sebuah media online yang digawangi anak-anak muda berbakat, Tirto.id, menerbitkan berbagai artikel sejarah G30S dari berbagai sisi. Sumbernya pun tidak main-main, dari buku-buku sejarah otoritatif, wawancara ahli, hingga arsip pemberitaan media di masa lalu. Generasi muda jadi cerdas, terpapar informasi historis yang mencerahkan.

Media-media online yang lain pun tak ketinggalan. Historia.id memuat arsip-arsip historis yang berharga mengenai G30S berikut latar belakang, seluk-beluk, dan jejak-jejak setelahnya. Generasi muda pun jadi tahu betapa Angkatan Udara pun tidak nyaman dengan film Pengkhianatan G30S/PKI, dan termasuk yang setuju dengan penghentian pemutarannya pasca Orde Baru tumbang.

GeoTimes yang dinilai sebagai mangkalnya para opinion leaders juga menerbitkan analisis-analisis yang mencerdaskan. Beritagar memperlihatkan kelemahan-kelemahan film Pengkhianatan G30S/PKI dengan telaah yang teliti. Tentu saja, media-media online kawakan seperti Tempo pun tetap mengeluarkan ulasan dan analisis terbaiknya.

Ini belum lagi warganet di media sosial yang membagi secara luas informasi-informasi penting seperti wawancara Subandrio yang menyatakan Soeharto sangat dekat dengan D.N. Aidit atau dokumen-dokumen Central Intelligence Agency (CIA) yang membabarkan peran Amerika Serikat dalam aksi pemberontakan dengan latar belakang Perang Dingin melawan Uni Soviet.

Kita juga jadi paham, betapa banyak pula anggota Angkatan Darat yang dituduh terlibat aksi pemberontakan itu dan kemudian dihukum tanpa proses peradilan. Kita jadi mengerti peristiwa pembantaian 1965-1966 bukan semata soal agama, melainkan juga melibatkan persaingan internal tentara, perebutan tanah dan bagian dari Perang Dingin. Korban pun tidak hanya dari kaum Muslim, tetapi juga dari PKI (dan warga biasa yang dituduh anggota PKI) dan tentara sendiri.

Jasa Pak Gatot tidak cuma itu. Menyusul instruksi Pak Gatot, generasi muda jadi mengenal adanya berbagai film lain mengenai G30S, seperti Senyap dan Jagal. Di Samarinda, anak-anak muda justru lebih semangat nobar film Senyap dan Jagal persis pada malam 1 Oktober. Sungguh, betapa besar jasa Pak Gatot untuk membuat generasi muda milenial begitu tercerahkan.

Jadi, alasan apa lagi yang membuat Anda tidak mau berterima kasih kepada Pak Gatot? Seorang menteri yang sebelumnya dianggap tidak cerdas karena menerbitkan kebijakan Full Day School (FDS) pun berubah cerdas dengan melarang siswa SD-SMP menonton film Pengkhianatan G30S/PKI. Presiden Joko Widodo yang seringkali dituduh “anak PKI” pun turut nobar dengan tampilan baju merah yang istimewa. Ini semua jelas berkat jasa Pak Gatot. Catat. *

Print Friendly, PDF & Email
Mujtaba Hamdi

Alumnus Pondok Pesantren Mamba'ul Ma'arif Denanyar Jombang. Menyelesaikan studi pascasarjana Ilmu Antropologi di Universitas Indonesia. Kini aktif bergiat di isu kemerdekaan informasi dan digital sembari mengajar di Program Sosiologi Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia, Jakarta.

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in SUARA

To Top