Connect with us

Otobiografi Imam Al-Ghazali

Buku

Otobiografi Imam Al-Ghazali

Anda mungkin mengenal Iman Al-Ghazali sebagai referensi utama tasawuf muslim Nusantara, yang berakidah Asy’ariyah dan berfikih Syafi`iyyah. (lih., Zainul Maarif, Sunni: Makna, Acuan dan Ragam, makalah yang dipresentasikan di Kursus Falsafah dan Agama yang diselengggarakan oleh Paramadina Institute of Ethics and Civilization, di Jakarta, 17 Mei 2017).

Anda juga mungkin tahu bahwa Abu Hamid Al-Ghazali adalah pengarang buku terkenal berjudul Ihyâ’ `Ulûm Ad-Dîn, yang membahas mistisisme Islam (tasawuf) dengan pendekatan jurisprudensi Islam (fikih), dan mengelaborasi tema-tema fikih dengan esoterisitas dari tasawuf.

Untuk sekedar mengenal Hujjatul Islam itu sebagai seorang mistikus Islam (sufi), kitab Ihyâ’ `Ulûm Ad-Dîn cukup sebagai sarana pengenalan. Tapi, untuk mengenalnya lebih jauh sebagai seorang intelektual muslim yang melalui perjalanan intelektual panjang, Anda perlu membaca bukunya yang berjudul Al-Munqidz min Adl-Dlalâl.

Di buku Al-Munqidz min Adl-Dlalâl, Imam Al-Ghazali mengungkapkan otobiografi intelektualnya. Sejak kecil, pria yang bernama asli Muhammad ibn Muhammad Al-Ghazali itu senantiasa meragu dan mencari hakikat segala sesuatu. (h. 6)

Lelaki kelahiran Thus, Khurasan (kini termasuk Iran) tahun 450 H. (1058 M.) itu “mengobati” skeptisismenya dan memenuhi kehausannya pada kebenaran dengan mempelajari berbagai ilmu dari beragam aliran pemikiran yang sedang trend di masanya secara kritis tanpa taklid, (h. 6).

Al-Ghazali belajar kalam (teologi Islam), pelajaran imam kebatinan (Syiah Ta’limiyyah-Imamiyah-Bathiniyyah), filsafat dan tarekat tasawuf. (h. 2) Dia juga menyelami aliran eksoteris (zhahîriyah), aliran esoteris (bathîniyyah), aliran teolog (mutakallimûn), aliran filsuf (falâsifah), aliran ateis (zindiq), aliran ahli ibadah (`abid), dan aliran sufi (shûfiyyah). (h. 5)

Alih-alih menjadi pelajar yang membebek pada aliran yang dipelajari, Al-Ghazali justru menjadi peneliti yang kritis dan produktif. Di Al-Munqidh min Adl-Dlalal, Al-Ghazali menjelaskan interaksi kritisnya dengan kalam para mutakalimun, filsafat para filsuf, pelajaran kebatinan para pembelajar esoteris, dan tarekat sufistik para sufi. (h. 23-113)

Abu Hamid Al-Ghazali juga menerangkan pencarian kebenaran epistemologisnya di buku itu. Dia sempat percaya pada pencerapan inderawi laiknya kaum empiris, lalu menganulir kepercayaannya itu karena mendapat kebenaran yang lebih kuat dari hukum rasional. Tapi Al-Ghazali tidak berhenti pada rasionalisme, karena dia lebih percaya pada (1) pendapat kaum sufi tentang pikiran sebagai khayalan dan (2) pendapat Rasulullah tentang hidup sebagai tidur yang bangun ketika mati. (h. 14-15).

Proses epistemologi tersebut menunjukkan bahwa Abu Hamid Al-Ghazali, yang hidup dari tahun 1058 M. hingga tahun 1111 M. mendahului Rene Descartes, filsuf rasional Perancis yang lahir tahun 1596 M. lalu wafat tahun 1650 M.

Di buku Meditationes de Prima Philosophia (1641), Rene Descartes mengungkapkan kembali proses epistemologi yang pernah dicatat oleh Al-Ghazali di buku Munqidz min Adl-Dlalâl itu. Hanya saja, pencarian kebenaran Al-Ghazali berakhir pada sufisme yang mengantarkan peradaban Islam (Timur Tengah) ke arah kemunduran, sedangkan pencarian kebenaran Descartes bermuara pada rasionalisme yang mendorong peradaban Kristinani (Eropa) ke arah kemajuan.

Terlepas dari kenyataan historis itu, sosok dan pemikiran Al-Ghazali tetap perlu diketahui karena merupakan rujukan penting mayoritas Muslim Sunni di dunia, secara umum, dan di Nusantara, secara khusus. Pengantar paling dasar untuk mengenal Al-Ghazali adalah buku otobiografinya yang berjudul Al-Munqidz min Adl-Dlalal itu.

Buku itu aslinya berbahasa Arab. Mengingat tak semua orang bisa bahasa Arab, Penerbit Turos Pustaka menerbitkan buku Al-Munqidz min Adl-Dlalal dalam bahasa Indonesia dengan judul Pembebas dari Kesesatan (2017).

Terjemahan tersebut dicetak dalam bentuk buku saku ukuran 11 x 16 cm., setebal 184 halaman, sehingga mudah dibawa kemana-mana. Tapi ada sedikit catatan untuk perbaikan publikasi buku tersebut, di antaranya:

Halaman 37-38 di permulaan bab filsafat tidak konsisten dengan awal bab yang lain. Halaman itu berisi catatan penyunting tentang bab filsafat, yang notabene bukan tulisan Al-Ghazali sendiri. Bila catatan penyunting hendak disertakan, maka seluruh bab harus diperlakukan serupa. Jika halaman itu satu-satunya awal bab yang berisi catatan penyunting, maka tulisan di halaman itu layak dihapus. []     

 

Judul asli                       : Al-Munqidz min Adl-Dlalâl.

Judul terjemahan          : Pembebas dari Kesesatan.

Penulis                          : Imam Al-Ghazali.

Penerjemah                  : Kaserun.

Penyunting                   : Muhammad Nafi’ dan Nasruli.

Penerbit                        : Turos Pustaka, Jakarta.

Waktu Terbit                 : Cetakan I, Mei 2017.

ISBN                             : 978-602-1583-43-2.

Harga Sebelum Diskon: Rp. 55.000.

Diskon                          : Dapatkan diskon hingga 17 % dengan menghubungi Syiar Nusantara

Print Friendly, PDF & Email
Zainul Maarif

Dosen dan Peneliti di bidang Filsafat dan Agama. Alumni Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir ini telah mempublikasikan beberapa buku: "Imam Syafi'i: Ar-Risalah" (2018), "An-Naisaburi: Kitab Kebijaksanaan orang-orang Gila" (2017), "Logika Komunikasi" (2015, 2016), "Ibnu Arabi: Rahasia Asmaul Husna" (2015), "Retorika: Metode Komunikasi Publik" (2014, 2015), "Pos-Oksidentalisme: Identitas dan Alteritas Pos-Kolonial" (2013), "Filsafat Yunani" (2012), "Al-Jauziyah: Surga Yang Dijanjikan" (2011), "Pos-Oksidentalisme: Dekonstruksi atas Oksidentalisme Hassan Hanafi" (2007), "Sosiologi Pemikiran Islam" (2003), "Dekonstruksi Islam: Elaborasi Pemikiran Hassan Hanafi dan Nasr Hamid Abu Zaid" (2003).

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in Buku

To Top