Connect with us

Tarbiyah dan Dakwah: Mana yang Harus Didahulukan?

Artikel

Tarbiyah dan Dakwah: Mana yang Harus Didahulukan?

Wilayah pendidikan (tarbiyah) ada pada tataran dasar, sedangkan wilayah dakwah adalah kelanjutan dari yang dasar itu.

Print Friendly, PDF & Email

Bagi masyarakat awam, kata dakwah selalu diidentikkan dengan pendidikan (tarbiyah), karena sama-sama menjadi sebuah kewajiban, sama-sama penting, sama-sama tidak mengenal usia dan juga sama-sama tidak terbatas waktunya.

Di dalam dakwah ada unsur pendidikan, demikian juga sebaliknya. Meskipun begitu, jika tidak ada pemilahan wilayah, utamanya pada tataran konsep, maka akhirnya aktivitas keduanya menjadi kurang maksimal.

Memang secara konseptual kedua istilah tersebut tidak dapat berdiri sendiri. Keduanya dapat bergandengan mesra, meskipun tetap memiliki wilayah garapan masing-masing. Wilayah pendidikan ada pada tataran dasar (basic), sedangkan wilayah dakwah adalah kelanjutan dari yang dasar itu.

Mengingat yang menjadi garapan pendidikan adalah wilayah yang sifatnya basic, maka tugasnya adalah menyiapkan, menjadikan manusia siap secara fisik, mental, terutama lagi soal kesiapan akal pikiran untuk memasuki masa-masa produktif. Proses pendidikan tidak akan dianggap selesai jika yang bersangkutan itu belum dinilai siap memasuki masa-masa produktif dimaksud. Ada juga orang yang sudah memasuki masa produktif tetapi masih belum beranjak dari wilayah yang paling dasar tadi.

Jika diibaratkan anak tangga, pendidikan adalah anak tangga paling bawah. Meskipun berada pada level tersebut, bukan berarti sepele, sederhana dan dikira sangat mudah. Justru inilah bagian yang paling penting dalam kehidupan manusia. Pada tahap inilah segala potensi yang masih terpendam seharusnya digali, dikembangkan agar tumbuh sebuah karakter yang kuat. Itulah arti penting dan peran strategis pendidikan.

Setelah anak tangga pertama dapat dilalui dengan baik, maka selanjutnya baru boleh meniti anak tangga selanjutnya yaitu dakwah. Wilayah garapannya adalah manusia yang memasuki masa-masa produktif yang telah selesai menginjak anak tangga pertama. Dalam arti lain, ia sudah siap secara mental dan fisik. Tugas dakwah seharusnya diemban oleh orang-orang yang secara usia dan kedewasaan sudah matang.

Jika pada masa pendidikan segala potensi dan kemampuan masih pada tahap proses dan latihan, maka wilayah dakwah, diharapkan seorang dai sudah memiliki talenta dan kreativitas yang mumpuni. Kehidupannya juga idealnya sudah mapan, serta melampaui keilmuan rata-rata, sehingga ketika beraksi (dakwah), ia sudah bebas dari segala bentuk kepentingan (pribadi). Dengan begitu, dakwahnya lebih fokus pada substansi, lebih ikhlas dan jauh dari segala kepentingan yang dapat membelenggu dan meracuni misi suci dakwah itu sendiri.

Pada praktiknya kemudian, segala bentuk aktivitas yang dijalankan baik berupa tulisan, lisan, maupun perbuatan yang dapat menginspirasi dan membantu orang lain dari sekup yang paling kecil (keluarga) sampai sekup paling besar (bangsa) untuk naik lebih baik, lebih maju dan lebih sukses, adalah dakwah lafzan wa ma’nan, perkataan dan tindakan.

Jadi dakwah itu dapat dilakukan melalui cara apa saja, sesuai dengan posisi, keahlian, profesi, serta kemampuan (objektif maupun subjektif) dengan memaksimalkan sarana yang dimiliki. Maka kita, orang tua, pimpinan, kolega, segenap profesional dan sebagainya dapat dinilai sebagai dai selama dapat mengantarkan orang-orang yang menjadi objek dakwah tersebut menggapai kesuksesan, serta lebih sejahtera hidupnya.

Karena itu perlu digaris bawahi, mestinya tidak dibenarkan jika dakwah itu dianggap sebagai suatu profesi komersial. Mestinya tidak perlu ada lembaga dakwah atau dewan dakwah. Karena seperti itu justru akan mereduksi makna dakwah itu sendiri. Diinstitusionalkannya sebuah gerakan dalam tataran praktisnya menjadi fakultas dakwah, lembaga dakwah, dewan dakwah dan sebagainya itu terasa menjadi ambigu, dan hanya menjadi sebuah klaim yang mereduksi makna dakwah itu sendiri.

Dengan kata lain, masyarakat kita telah membangun struktur pikir yang salah kaprah. Sebutan dai untuk para penceramah (muballigh) juga tidak perlu. Sebab, dari sisi profesi, aktivitas dakwah adalah aktivitas profesional dari profesi apapun. Jika seorang profesional berdakwah, maka perannya adalah membantu orang lain untuk meningkatkan kualitas hidupnya, sesuai dengan kapasitasnya.

Jika makna dakwah sendiri direduksi, Islam juga akan menjadi sempit akibat tereduksinya pada wilayah ini. *

Print Friendly, PDF & Email
Sukron Makmun

Anggota Komisi Pengkajian dan Penelitian MUI Provinsi Banten. Peneliti pada University of Darussalam.

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in Artikel

To Top