Connect with us

Bukan Sekadar Ceramah, Dakwah itu Membangun Masyarakat

Foto: Ilustrasi

Artikel

Bukan Sekadar Ceramah, Dakwah itu Membangun Masyarakat

Dakwah itu megidentifikasi penyakit-penyakit yang ada di tengah masyarakat untuk kemudian dicarikan solusinya. 

Print Friendly, PDF & Email

Kita perlu menyegarkan kembali makna dakwah yang sesungguhnya. Dakwah adalah usaha membangun masyarakat, atau bisa disebut community development. Agenda dakwah itu menjadikan masyarakat secara gradual beranjak dari jalur-jalur mitologis dan ideologi semu. Dakwah itu megidentifikasi penyakit-penyakit yang ada di tengah masyarakat, untuk kemudian dicarikan solusinya.

Wilayah dakwah dan tarbiyah memang harus dipilah, agar capaian-capaiannya dapat terukur. Dakwah bukan sekadar ceramah. Jangan sampai dakwah itu hanya sekedar membangun wacana, tapi sudah saatnya menjadi sebuah “paradigma” kolektif umat, yang secara subtansi sudah disepakati oleh para ilmuwan agama.

Agar dakwah mampu menggerakkan kekuatan kolektif umat, beberapa hal mendasar perlu diperhatikan. Berikut adalah beberapa elemen penting yang sering terlupakan oleh para aktivis dakwah:

1. Hajat dasar hidup manusia. Ini meliputi sandang, pangan, papan dan pasangan; kebutuhan-kebutuhan yang paling terkait dengan basic instinc manusia.

2. Eksistensi diri. Ini ketika seorang dai sudah tidak lagi memiliki kepentingan, alias sudah selesai dengan dirinya sendiri. Di sini diupayakan agar membangun sebuah masyarakat yang shalih (epistemologi, personal dan sosial) yang selanjutnya menjadi mushlih (mampu memperbaiki dan membangun kehidupan umat).

Yang dipikir bukan hanya dirinya sebagai individu, melainkan semua aktivitas dakwah memiliki orientasi kemanfaatan. Apapun yang dilakukan seorang dai dapat memberi manfaat serta kontribusi riil di masyarakat.

3. Kesadaran partisipasi. Jika seorang dai menyumbang untuk masjid atau sekolahan, misalnya, seandainya namanya dimasukkan ke dalam daftar para donatur pun sudah tidak ada lagi modus untuk menjadi terkenal atau supaya dianggap dermawan. Pada tahap ini ia sudah tidak mengharap apapun karena sudah selesai dengan dirinya sendiri.

Para dai harus berusaha mengembalikan keikhlasan ke dalam hatinya, dimulai dari titik tolak, sarana, bahkan sampai pada tujuan dan cita-citanya. Jangan sampai mereka lebih menuntut popularitas serta kedudukan di sisi manusia ataupun penguasa. Di sisi yang lain, masyarakat yang menjadi objek dakwah (al-mujtama’ al-mad’u) juga sudah berada pada posisi “selesai dengan kebutuhan dasar” hidupnya, selesai kebutuhan eksistensinya.

Dengan demikian, kepekaan individual dan sosial bukan lagi sekadar menjadi tema dakwah, tetapi mampu mewujud dalam kenyataan sosial. Dakwah telah bermetamorfosis, mampu menumbuhkan kesadaran kolektif objek-objek yang menjadi sasaran dakwah hingga setiap individu memiliki hasrat yang begitu kuat untuk terlibat aktif dalam mewujudkan nilai-nilai kemanusiaan, hak asasi manusia, mengangkat harkat dan martabat manusia, mewujudkan perdamaian dunia, serta mengutamakan kemaslahatan umat manusia secara universal tanpa pandang bulu.

Jika ketiga hal di atas dapat terlaksana, maka Islam rahmatan li al-alamin dapat terealisasikan, minimal menjadi pandangan hidup kolektif umat Islam, khususnya di Nusantara.

Tiga tahapan ini memang masih ada celah-celah yang perlu disempurnakan. Tapi jika ini tidak dipertimbangkan, aktivitas yang disebut dakwah itu kemungkinan besar akan mengalami kegagalan, atau malah menjadi kontra-produktif.

Dengan demikian, dakwah, aktivitas keilmuan dan tarbiyah saling berkelindan. Segala aktivitas keilmuan secara keseluruhan adalah dakwah. Karena dalam konteks dakwah, aktivitas ilmiah sudah dengan sendirinya dapat mengantarkan masyarakat untuk meraih kesuksesan hidup sebagaima yang dimaksud atau yang menjadi orientasi dakwah.

Dakwah, jika dimulai dari proses pendidikan yang benar, akan mampu mendukung peranan yang diharapkan dari agama dalam membangun umat dan bangsa. Selain itu, dakwah yang dibangun di atas keilmuan yang kuat minimal akan mampu melahirkan kebenaran saintifik, seandainya belum mencapai kebenaran hakiki.

Pada akhirnya dapat dikatakan bahwa dakwah dan aktivitas keilmuan itu dapat diintegrasikan, bahkan aktivitas keilmuan ini sudah sekaligus merupakan dakwah bil hal, dakwah dengan tindakan. Bukankah lisanu al-hal afshahu min lisani al-maqal, bahasa tindakan lebih kuat daripada bahasa kata-kata? *

Print Friendly, PDF & Email
Sukron Makmun

Anggota Komisi Pengkajian dan Penelitian MUI Provinsi Banten. Peneliti pada University of Darussalam.

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in Artikel

To Top