Connect with us

Muslim Wajib Berfilsafat

Ensiklopedi

Muslim Wajib Berfilsafat

Apa hukum berfilsafat? Tiap orang Islam wajib berfilsafat. Demikian fatwa Ibn Rusyd, pengarang kitab fikih terkenal di pesantren, yaitu kitab Bidâyat Al-Mujtahid wa Nihâyat Al-Muqtashid.

Fatwa di atas disampaikan oleh pakar fikih, yang menjabat sebagai hakim agung Andalusia (Spanyol) di zaman kejayaan peradaban Islam, itu di kitabnya yang berjudul Fashl Al-Maqâl fî Taqrîr mâ Baina Asy-Syarî‘ah wa Al-Hikmah min Al-Ittishâl (dalam hal ini, penulis merujuk ke buku Ibn Rusyd tersebut yang diterbitkan oleh CAUS di Beirut tahun 1999 untuk cetakan kedua, di mana cetakan pertamanya tahun 1997)

Argumen keputusan juris, yang sekaligus filsuf dan dokter raja, itu bertitik tolak dari intisari berfilsafat dan perintah Allah di dalam Al-Quran. Menurut Ibn Rusyd alias Averroes, “berfilsafat tidak jauh dari pemikiran tentang segala yang ada sebagai penanda keberadaan Sang Pencipta” (Ibn Rusyd, 1999: 85)

Objek penelitian filsafat memang sangat luas. Segala yang ada menjadi sasaran pemikiran orang yang berfilsafat. Pada renungan atas entitas-entitas yang ada di semesta, muncul kesadaran ketiadaan entitas yang menciptakan dirinya sendiri. Setiap entitas merupakan akibat entitas lain. Sejauh akibat memiliki sebab, renungan filosofis melusuri sebab yang berpenyebab hingga sampai pada kesimpulan keberadaan “Sebab Yang Tidak Disebabkan”, yang oleh agama disebut sebagai Tuhan.

Yang jadi persoalan: apa pendapat Al-Quran tentang renungan filosofis semacam itu? Ibn Rusyd mengutip beberapa ayat mengenai perhatian dan pemikiran tentang alam semesta untuk menjawab pertanyaan itu. Di antara ayat Al-Quran yang dikutip adalah QS. Al-Hasyar: 2, QS. Al-A‘raf: 185, QS. Al-Ghasyiyah: 17-20, dan QS. Ali Imran: 191. (Ibn Ruyd, 1999: 86-87)

Ayat-ayat tersebut tampak berisi perintah untuk memikirkan segala yang ada di langit dan di bumi. Jika Allah memerintahkan manusia untuk memikirkan semua yang ada, apakah perintah tersebut menunjukkan kebolehan (mubâh), larangan tegas (harâm), larangan longgar (makrûh), perintah tegas (wâjib), atau perintah longgar (sunnah)?

Itu pertanyaan fikih yang perlu dijawab, dan jawabannya mudah. Seperti disinggung di atas, ayat-ayat tersebut berisi perintah merenungkan semesta. Sejauh Allah “memerintahkan” memikirkan semua yang ada, maka memikirkan yang ada pasti dibolehkan (mubâh) dan tidak mungkin dilarang (baik harâm maupun makrûh). Dengan begitu, tersisa dua ketentuan hukum Islam untuk meneropong tindakan berfilsafat: apakah berfilsafat itu wâjib atau sunnah?

Pertanyaan terakhir itu mudah juga untuk dijawab. Sebab, dalam kaidah hukum Islam terdapat diktum “Al-Ashlu fî al-amr al-wujûb”: dasar setiap perintah adalah kewajiban. Allah swt. memerintahkan manusia untuk memikirkan segala yang ada. Berfilsafat, di pihak lain, adalah memikirkan segala yang ada. Jadi, bisa disimpulkan bahwa berfilsafat itu wajib, karena dasar dari perintah adalah wajib.

Jika berfilsafat itu wajib, maka konsekuensinya pun jelas yaitu hukuman bagi orang yang tidak berfilsafat. Untuk mengetahui apa hukuman dan cibiran bagi orang yang tidak berfilsafat dapat disimak di QS. AL-A‘raf: 179, yang menerangkan orang-orang yang lalai untuk menggunakan sarana-sarana berfilsafat, yaitu hati, pikiran dan indera.

Kalau Al-Quran memberi ancaman hukuman bagi orang yang tidak berfilsafat sekaligus mewajibkan orang untuk berfilsafat, maka orang yang berpedoman pada Al-Quran sebagai kitab suci seharusnya tahu apa yang seharusnya dilakukan.[]

Print Friendly, PDF & Email
Zainul Maarif

Dosen dan Peneliti di bidang Filsafat dan Agama. Alumni Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir ini telah mempublikasikan beberapa buku: "Imam Syafi'i: Ar-Risalah" (2018), "An-Naisaburi: Kitab Kebijaksanaan orang-orang Gila" (2017), "Logika Komunikasi" (2015, 2016), "Ibnu Arabi: Rahasia Asmaul Husna" (2015), "Retorika: Metode Komunikasi Publik" (2014, 2015), "Pos-Oksidentalisme: Identitas dan Alteritas Pos-Kolonial" (2013), "Filsafat Yunani" (2012), "Al-Jauziyah: Surga Yang Dijanjikan" (2011), "Pos-Oksidentalisme: Dekonstruksi atas Oksidentalisme Hassan Hanafi" (2007), "Sosiologi Pemikiran Islam" (2003), "Dekonstruksi Islam: Elaborasi Pemikiran Hassan Hanafi dan Nasr Hamid Abu Zaid" (2003).

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in Ensiklopedi

To Top