Connect with us

Takdir dan IPTEK

Ensiklopedi

Takdir dan IPTEK

Takdir sering dipahami sebagai nasib yang ditetapkan tanpa dapat diubah sama sekali. Ia diproyeksikan semacam penentu di masa lalu yang harus mewujud seratus persen di masa kini dan masa depan. Jika takdir semacam itu, manusia tak lebih dari wayang yang digerakkan sesuka hati dalang.

Pada kenyataannya, manusia bukan wayang. Ia bukan benda mati yang menerima apapun tindakan atasnya. Ia juga bukan tumbuhan dan hewan yang hidup sesuai dengan kebiasaan sejenisnya. Manusia punya kapasitas intelejensia yang dapat melampaui kemenjadiannya terus-menerus. Karena itu, manusia bukan wayang, dan takdir dalam pengertian di atas tidak relevan untuknya. Lantas apa itu takdir, khususnya yang relevan untuk manusia?

Qadar adalah Potensi

Takdir adalah ungkapan bahasa Indonesia untuk menerjemahkan kata qadar. Kata yang tersebut terakhir merupakan kata bahasa Arab yang sinonim dengan kata thâqah atau quwwah. Artinya, kemampuan atau kekuatan. (Munawwir, Kamus Al-Munawwir, 1177)

Dalam istilah filsafat, qadar dengan demikian semakna dengan konsep potensi, yang diperkenalkan oleh filsuf Yunani, Aristotle, dengan istilah dynamei on.  Potensi atau dynamei on didefinisikan sebagai (1) kualitas yang memiliki daya; (2) kemampuan untuk menjalankan daya, dan untuk bertindak; serta (3) kesanggupan atau kemampuan untuk menjadi sesuatu yang mempunyai jenis tertentu. (Bagus, Kamus Filsafat, 871) Takdir dalam pengertian potensi semacam itulah yang cocok untuk disandingkan dengan manusia.

Pada dasarnya manusia memiliki potensi untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu, untuk menjadi atau tidak menjadi sesuatu. Dalam literatur Islam, potensi semacam itu dianugerahkan oleh Allah semisal potensi untuk menjadi baik dan menjadi buruk yang tertera di ayat Alquran, “fa alhamahâ fujûrahâ wa taqwâhâ” (QS. Asy-Syams: 8). Allah mengilhamkan kepada jiwa potensi kefasikan dan ketakwaan.

Potensi tersebut adalah kemungkinan yang dapat mengada di masa depan yang dianugerahkan Tuhan bagi manusia dan berbagai hal di jagad raya ini. Potensi pada manusia berupa kemungkinan untuk pintar atau bodoh, kaya atau miskin, sukses atau gagal, dan lain sebagainya. Sementara potensi pada selain manusia seperti potensi untuk membeku atau mendidih pada air, potensi untuk berbuah atau tidak berbuah pada tumbuhan, dan potensi untuk kuat atau lemah pada binatang.

Qadha adalah Aktus/Aktualitas

Kemungkinan potensial tersebut dapat benar-benar mengada. Kemengadaan secara riil suatu potensi disebut dengan aktus/aktualitas. Dalam peristilahan Islam, aktus/aktualitas disebut dengan qadla, yang berarti terlaksananya sesuatu.

Ketika atribut fasik atau takwa, pintar atau bodoh, kaya atau miskin, sukses atau gagal mewujud secara riil pada seseorang, maka pada saat itulah qadha terjadi. Sesuatu yang tadinya hanya kemungkinan menjadi suatu kenyataan disebut qadha.

Sebagaimana qadar, qadha sejatinya sudah ada ketentuannya. Kemengadaan qadha terkait erat dengan ketentuan qadar. Ketika qadar menentukan kemungkinan manusia menjadi pintar atau bodoh dengan syarat-syarat tertentu, misalnya, maka qadha seseorang menjadi pintar sesuai dengan ketentuan qadar tersebut.

Kasab adalah Tindakan yang Dipilih

Namun, kemenjadian qadha pada satu titik tertentu di antara beberapa titik, tidak serta merta mewujud secara menentu dari zaman azali. Ada sebab-sebab lain yang memungkinkan qadha mewujud pada satu posisi tertentu ketimbang posisi lain. Dalam bahasa Islam, sebab-sebab itu antara lain disebut dengan kasab.

Seperti yang tersebut di Alquran “lahâ mâ kasabat wa ‘alaihâ maktasabat” (QS. Al-Baqarah: 286). Jiwa mendapatkan hasil positif atau hasil negatif sesuai apa yang dilakukannya. Jika kebaikan yang dilakukan, maka kebaikan yang akan didapatkan. Sebaliknya, jika keburukan yang dilakukan, maka keburukan pula yang akan didapatkan.  

Allah s.w.t. dalam hal ini hanya memberikan potensi (qadar). Adapun aktualisasi dari potensi itu (qadha) merupakan akibat dari pilihan perbuatan manusia sendiri. Dalam kasus kefasikan dan ketakwaan, misalny,a Allah s.w.t. berfirman, “Qad aflaha man zakkâha. Wa qad khâba man dassâhâ” (QS. Asy-Syams: 9-10). Orang yang mensucikan jiwanya akan beruntung, sementara orang yang mengotori jiwanya akan merugi.

Dengan kata lain, pilihan dan tindakan manusia itu sendiri yang menentukan kemenjadian potensi yang diberikan Tuhan. Manusia memiliki kebebasan memilih tindakan dalam mengaktualisasikan potensinya. Kelak, hasil yang diterimanya sesuai dengan yang dipilih dan dilakukannya, dan dia bertanggung jawab atas pilihan dan/atau tindakannya itu.

Ilmu Pengetahuan (IPTEK) sebagai Kajian atas Qadar

Seperti yang telah disinggung sedikit di depan, potensi (qadar) dan aktus (qadha) tidak hanya terdapat pada manusia. Keduanya ada pada apa saja di jagad raya ini. Hanya saja pengetahuan tentang keduanya merupakan misteri yang hanya diketahui secara sempurna oleh Tuhan YME.

Sebagai suatu pengetehuan, qadar dan qadha merupakan tanda-tanda Tuhan yang berbentuk âyât qauliyah (wahyu) dan âyât kauniyah (ilmu alam). Keduanya adalah tanda-tanda yang difirmankan langsung oleh Tuhan, dan/atau tanda-tanda yang terdapat di seluruh alam semesta.

Secara absolut, pengetahuan paripurna tentang tanda-tanda tersebut hanya dimiliki oleh Allah s.w.t. Meski demikian, Tuhan memberikan pengetahuan relatif tentang tanda-tandaNya kepada orang-orang pilihanNya, sebagaimana firmanNya, “wa lâ yuhîthûna bi syaiin min ‘ilmihi illâ bimâ syâ’a” (QS. Al-Baqarah: 255). Tidak ada yang dapat menguasai ilmu Allah tentang tanda-tandaNya kecuali orang-orang yang dikehendakiNya.

Allah memberi tahu wahyuNya atau âyât qauliyyah secara khusus kepara para Nabi. Sementara âyât kauniyah (ilmu alam) diberikan kepada orang-orang yang mau berpikir dan meneliti, sebagaimana firmanNya, “wa sakhkhara lakum mâ fi as-samâwâti wa mâ fî al-ardhi jamî’an. Inna fî dzâlika laâyâtin li qaumin yatafakkarûn” (Allah telah menundukkan untuk manusia semua yang ada di langit dan di bumi, di mana tanda-tanda tersebut hanya diketahui oleh orang-orang  yang mau berpikir [QS. Al-Jatsiyah: 13]). Dan Allah s.w.t juga berfirman, “wa fî anfusikum afalâ tubshirûn” (tidakkah engkau memperhatikan apa yang terdapat dalam dirimu? [QS. Adz-Dzâriyât: 21])

Sekarang âyât qauliyah (wahyu) sudah berhenti dengan berakhirnya pengutusan nabi. Yang masih terus berlangsung dan masih terbuka lebar adalah pengelaborasian âyât kauniyah (ilmu pengetahuan alam). Di tinjauan atas âyât kauniyah itulah, manusia non-nabi seperti kita dapat berperan serta, dengan menjadi pemikir dan/atau ilmuwan.

Kita perlu mengkaji segala sesuatu berikut kemungkinan-kemungkinannya, lantas merekayasanya menjadi suatu teknologi. Dengan melakukan hal itu, kita, sebagai pemikir/ilmuwan, sejatinya sedang mengkaji qadar dan qadha Allah yang tercatat di alam alam semesta dan di diri manusia.

Penutup

Di sini, takdir tidak dimaknai sebagai prederminasi yang menjerat gerak hidup manusia. Justru sebaliknya, takdir dipahami sebagai potensi-potensi yang dapat mengada secara aktual sesuai dengan pilihan dan tindakan manusia atasnya.

Ada kesamaan dalam kedua pemahaman tersebut di titik pemberangkatan, yaitu pengakuan bahwa sumber dari takdir adalah Tuhan YME. Hanya saja di pemahaman pertama, takdir mematikan kreativitas manusia, sementara di pemahaman kedua kreativitas manusia justru akan mengucur deras.

Melalui pemahaman yang kedua itu, ilmu pengetahuan dapat berkembang pesat, manusia akan giat berusaha, dan peradaban manusia pun akan terus maju. Karena itu, masihkah Anda memahami takdir dengan pemahaman pertama yang malah menjadikan Anda malas dan galau, atau paling tinggi menerima apa adanya semata-mata?  []

Print Friendly, PDF & Email
Zainul Maarif

Dosen dan Peneliti di bidang Filsafat dan Agama. Alumni Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir ini telah mempublikasikan beberapa buku: "Imam Syafi'i: Ar-Risalah" (2018), "An-Naisaburi: Kitab Kebijaksanaan orang-orang Gila" (2017), "Logika Komunikasi" (2015, 2016), "Ibnu Arabi: Rahasia Asmaul Husna" (2015), "Retorika: Metode Komunikasi Publik" (2014, 2015), "Pos-Oksidentalisme: Identitas dan Alteritas Pos-Kolonial" (2013), "Filsafat Yunani" (2012), "Al-Jauziyah: Surga Yang Dijanjikan" (2011), "Pos-Oksidentalisme: Dekonstruksi atas Oksidentalisme Hassan Hanafi" (2007), "Sosiologi Pemikiran Islam" (2003), "Dekonstruksi Islam: Elaborasi Pemikiran Hassan Hanafi dan Nasr Hamid Abu Zaid" (2003).

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in Ensiklopedi

To Top