Connect with us

Hijrah: Homogen atau Heterogen?

Artikel

Hijrah: Homogen atau Heterogen?

Terjadi salah paham mengenai makna hijrah pada sebagian umat Islam. Ada beberapa muslim yang memaknai hijrah sebagai perubahan cara berpakaian. Sebagian lain mengartikan hijrah sebagai perpindahan ke suatu lokasi yang berisi orang Islam semuanya. Apakah hijrah Rasulullah dan para sahabatnya hanya mewujud pada tampilan luar dan perpindahan tempat?

Tentu tidak. Pakaian Nabi Muhammad saw. dan para pengikutnya tidak berubah. Sebagaimana umumnya orang Arab, mereka tetap menggunakan jubah dan sorban. Itu bukan pakaian orang-orang Islam, melainkan pakaian masyarakat Arab, termasuk di dalamnya Abu Jahal dan Abu Lahab (musuh-musuh Nabi).

Hijrah umat Islam generasi pertama pun tidak semata-mata migrasi dari Makkah ke Yasrib (yang kemudian disebut sebagai Madinah) untuk membentuk masyarakat homogen. Justru sebaliknya, Madinah yang dibentuk Nabi adalah negara yang berbhineka tunggal ika.

Di Yasrib, ada masyarakat Arab bersuku Auz dan Khazraj. Ada pula Bani Israel bersuku Qainuqa, Nadhir dan Quraidzah. Setelah Rasulullah berhijrah, Bani Auz dan Khazraj masuk Islam dan disebut sebagai Kaum Anshar (para penolong) yang menjadi saudara seiman dengan Kaum Muhajirin (orang-orang yang berhijrah). Adapun Bani Israel yang Yahudi dan tidak mengonversi keyakinannya tetap dianggap sebagai warga negara Madinah.

Sebagai warga negara Madinah, umat Islam dan umat Yahudi memiliki kewajiban yang sama, yaitu: (1) hidup bagaikan satu bangsa, (2) tetap menjaga keimanan sendiri dan tidak boleh mengintervensi keimanan pihak lain, (3) saling membantu dalam peperangan, (4) bersama-sama mempertahankan Madinah, (5) berdamai, (6) mensucikan Madinah dari peperangan, dan (7) mengacu pada pengadilan tertinggi dalam perselisihan. (lih., Ali, Biografi Muhammad, 132-133).

Dengan begitu, Nabi dan para pengikutnya berhijrah dari intoleransi menuju toleransi. Sementara Abu Jahal dan kawan-kawannya di Makkah mengganggu Nabi dan para pengikutnya yang memiliki keyakinan lain, Nabi Muhammad dan para pengikutnya di Madinah justru memberi ruang bagi kebebasan berkeyakinan.

Di Madinah, beragam suku, agama dan ras (SARA) dapat hidup bebas berdampingan dalam persatuan. Kaum Muhajirin bersuku Quraisy, Kaum Anshar bersuku Khazraj atau Aus, dan umat Yahudi bersuku Qainuqa, Nadhir atau Quraidzah. Ras kaum Muhajirin dan Anshar adalah Arab, ras umat Yahudi adalah Israel, sementara ras masing-masing dari Bilal dan Salman adalah Afrika dan Persia. Meski beragam SARA, mereka satu sebagai warga Madinah.

Nabi Muhammad saw. dan para pengikutnya, dengan demikian, berhijrah dari homogenitas yang intoleran menuju heterogenitas yang toleran, di mana yang beragam menyatu, dan persatuan tidak menggerus keragaman.

Apakah sebagian orang Islam yang dewasa ini mengampanyekan hijrah itu melakukan apa yang dilakukan Nabi di Madinah itu? Jika sebagian umat Islam kontemporer itu justru berhijrah dari heterogenitas yang toleran menuju homogenitas yang intoleran, maka mereka tak layak disebut pengikut jejak Nabi. Mereka malah lebih pantas disebut sebagai pengikut jejak Abu Jahal di Makkah Jahiliyah, yang hendak memerosotkan peradaban menjadi kebiadaban.[]

Print Friendly, PDF & Email
Zainul Maarif

Dosen dan Peneliti di bidang Filsafat dan Agama. Alumni Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir ini telah mempublikasikan beberapa buku: "Imam Syafi'i: Ar-Risalah" (2018), "An-Naisaburi: Kitab Kebijaksanaan orang-orang Gila" (2017), "Logika Komunikasi" (2015, 2016), "Ibnu Arabi: Rahasia Asmaul Husna" (2015), "Retorika: Metode Komunikasi Publik" (2014, 2015), "Pos-Oksidentalisme: Identitas dan Alteritas Pos-Kolonial" (2013), "Filsafat Yunani" (2012), "Al-Jauziyah: Surga Yang Dijanjikan" (2011), "Pos-Oksidentalisme: Dekonstruksi atas Oksidentalisme Hassan Hanafi" (2007), "Sosiologi Pemikiran Islam" (2003), "Dekonstruksi Islam: Elaborasi Pemikiran Hassan Hanafi dan Nasr Hamid Abu Zaid" (2003).

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in Artikel

To Top