Connect with us

Jihad Tidak Identik dengan Perang

Artikel

Jihad Tidak Identik dengan Perang

Suatu kekeliruan bila jihad diidentikkan dengan perang (qitâl/war). Jihad berdimensi luas  karena makna aslinya adalah badzlul juhdi (berupaya keras). Di buku berjudul Al-Jihâd, Jamal Al-Banna (adik kandung pendiri Ikhwanul Muslimin [organisasi keagamaan di Mesir]) mengutarakan tujuh dimensi jihad selain perang:

Pertama, merenungi petunjuk Al-Quran. Kedua, bersabar dalam menghadapi kesulitan. Ketiga, berdakwah dengan kebijaksanaan, anjuran kebaikan dan perdebatan yang santun. Keempat, bersedekah dengan harta dan kemampuan diri. Kelima, mengajak kebaikan dan mencegah keburukan dengan cara baik. Keenam, bertobat, berbuat baik dan membalas keburukan dengan kebaikan. Ketujuh, berhijrah dari lingkungan buruk. (Al-Banna, Al-Jihâd, 21-46)

Perang merupakan salah satu bagian dari jihad, mengingat faktor pemicu jihad dalam Islam adalah konsepsi Islam tentang hidup sebagai cobaan dan ujian di antara kebaikan dan keburukan. (Al-Banna, Al-Jihâd, 12 dan 16)

Tapi, perang dalam Islam adalah perang defensif, bukan perang ofensif (lih., QS. Al-Baqarah: 190-192 dan QS. Al-Haj: 39-40). Nabi Muhammad saw. dan para sahabatnya berperang karena diperangi. Muslim generasi awal itu mengangkat senjata untuk mempertahankan kebebasan berkeyakinan dan hak milik, bukan untuk mengakusisi wilayah, merampas harta dan membuat kerusakan.

Pada dasarnya, muslim tidak suka berperang (lih., QS. Al-Baqarah: 216). Perang merupakan jalan terakhir ketika hak asasi manusia (HAM) dilanggar. Sekiranya, musuh tidak menyerang, muslim lebih suka berdamai (lih., QS. Al-Anfal: 61) Bahkan Allah swt. melarang membunuh satu nyawa pun (QS. Al-Maidah: 32) dan menyuruh muslim bertindak baik kepada non muslim yang tidak memerangi mereka (QS. Al-Mumtahanah: 8).

Keterangan di atas menunjukkan bahwa perang hanya bagian kecil dari jihad, yang seyogianya tidak ada; dan sekiranya ada, harus merupakan pertahanan melawan pelanggaran HAM, yang sejatinya lebih berorientasi pada perdamaian dalam masyarakat yang beragam.

Eksistensi perang yang sedemikian rupa pun tak dianggap sebagai jihad yang sesungguhnya oleh Nabi Muhammad saw. Buktinya, ketika Rasulullah pulang dari Perang Badar, Rasulullah bersabda: “Kita baru saja pulang dari jihad terkecil menuju jihad terbesar” (HR. Baihaqi).

Padahal, Perang Badar adalah perang hidup dan mati bagi umat Islam generasi awal. Satu orang muslim, kala itu, menghadapi sedikitnya sepuluh orang musuh, hingga Nabi berdoa: “Allah! Andai pasukanku ini kalah, Engkau tidak akan disembah!” (Hikal, Hayâtu Muhammad, 276-277) Mengapa perang besar itu disebut jihad terkecil?

Penyebabnya ada beberapa hal. Pertama, perang dipicu dan memicu amarah. Padahal, Rasulullah saw., di sisi lain, bersabda: “Orang kuat bukan dengan bergulat. Orang kuat adalah orang yang dapat mengendalikan diri ketika marah” (HR. Ahmad)

Kedua, pasca perang, pemenang mungkin sombong dan serakah dalam menjarah rampasan perang. Padahal, hanya Allah yang berhak sombong, dan Islam melarang keserakahan. Ketiga, perang menimbulkan kerusakan, dan pada titik tertentu bertentangan dengan kata Islam yang secara generik berarti perdamaian.

Jadi, ada hal yang lebih urgen daripada berperang.  Hal tersebut antara lain tujuh dimensi jihad selain perang tersebut dan menebarkan Islam yang damai dengan minimal menjadi individu yang baik dan bermanfaat bagi semesta. []

Print Friendly, PDF & Email
Zainul Maarif

Dosen dan Peneliti di bidang Filsafat dan Agama. Alumni Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir ini telah mempublikasikan beberapa buku: "Imam Syafi'i: Ar-Risalah" (2018), "An-Naisaburi: Kitab Kebijaksanaan orang-orang Gila" (2017), "Logika Komunikasi" (2015, 2016), "Ibnu Arabi: Rahasia Asmaul Husna" (2015), "Retorika: Metode Komunikasi Publik" (2014, 2015), "Pos-Oksidentalisme: Identitas dan Alteritas Pos-Kolonial" (2013), "Filsafat Yunani" (2012), "Al-Jauziyah: Surga Yang Dijanjikan" (2011), "Pos-Oksidentalisme: Dekonstruksi atas Oksidentalisme Hassan Hanafi" (2007), "Sosiologi Pemikiran Islam" (2003), "Dekonstruksi Islam: Elaborasi Pemikiran Hassan Hanafi dan Nasr Hamid Abu Zaid" (2003).

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in Artikel

To Top