Connect with us

Islam dan Kolom Agama di KTP

Uncategorized

Islam dan Kolom Agama di KTP

Alhamdulillah! Kini, berdasarkan putusan Mahkamah Konstitusi (MK), penganut agama lokal dibolehkan mencantumkan agamanya di Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Kartu Keluarga (KK)-nya. Beda dengan sebelumnya yang hanya dibolehkan dikosongi sesuai Pasal 61 ayat (1) dan (2) serta Pasal 65 ayat (1) dan (5) Undang-Undang Administrasi Kependudukan.

Mengapa kita sebagai umat Islam mesti bersyukur?

Pertama, tentu karena jika kita mengikuti sidang tersebut di Mahkamah Konstitusi (MK), kita akan ketahui fakta bahwa kosongnya identitas agama seseorang di KTP hanya lantaran mereka tak beragama yang enam itu: Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Kong Hu Chu, selama ini telah menyebabkan orang-orang itu mengalamai berbagai bentuk diskriminasi dari masalah pekerjaan, jaminan sosial, bahkan hingga pemakaman di mana penghayat kepercayaan Sapto Darmo di Kabupaten Brebes, Jawa Timur misalnya dilarang memakamkan keluarganya di pemakaman umum setempat lantaran masalah itu. Dan mendiskriminasi seseorang lantaran agama atau kepercayaannya adalah sesuatu yang bukan hanya tak diajarkan, melainkan ditentang dalam Islam. Silahkan bagimu agamamu sebagaimana juga bagiku agamaku, sebagaimana dipesankan Allah dalam QS. Al-Kafirun: 6.

Tentu, bisa jadi masalah-masalah itu tak segera sirna dengan keputusan ini. Pasalnya, sebagian orang melakukan diskriminasi tersebut lantaran tak bisa menerima kepercayaan orang lain. Bahkan, yang beragama berbeda saja kadang sebagian kita sulit menerima kenyataan itu. Namun, keputusan itu setidaknya memberikan kekuatan hukum dan administratif bagi penghayat kepercayaan untuk menggugat jika mengalami diskriminasi-diskriminasi semacam itu mulai saat ini. Dan, dalam kacamata Islam, keputusan itu tentu bersifat islami. Sebab, sebagaimana dalam ayat di atas, Islam mempersilahkan seseorang dengan agama atau kepercayaannya. Jangankan diskriminasi, memperolok sesembahan agama atau kepercayaan lain saja merupakan sesuatu yang terlarang dalam Islam sebagaimana ditekankan dalam Al-Qur’an.

Kedua, karena memang dalam Islam tak mengenal paksaan dalam beragama. “Tak ada paksaan dalam agama,” begitu firman Allah dalam QS. Al-Baqarah: 256. Jika dalam beragama saja tak boleh ada paksaan, apalagi sekadar menuliskannya sebagai identitas dirinya. Justru bermasalah jika seseorang tak diperbolehkan mengakui agama atau kepercayaannya karena itu semacam pemaksaan pada seseorang untuk menjadi munafik atas agama atau kepercayaannya sendiri.

Ketiga, bukalah sejarah “Perjanjian Hudaibiyah” antara umat Islam yang diwakili Nabi Muhammad dan kafir Quraisy yang diwakili Suhail bin Amr. Di mana dalam perjanjian itu awalnya nama Nabi disebut sebagai “Muhammad Utusan Allah”, namun diprotes oleh Suhail. “Kalau aku terima atau percaya bahwa ia adalah utusan Allah, tentu aku takkan memusuhinya,” kata Suhail. Sebuah pernyataan yang memancing keberatan, bahkan kemarahan sahabat Nabi yang juga hadir saat itu. Namun, dengan besar hati dan pengertian, Nabi meminta Ali bin Abi Thalib yang saat itu menjadi juru tulisnya untuk menghapus frasa “Utusan Allah” dan menggantinya menjadi “Bin Abdullah”: “Muhammad bin Abdullah”. Artinya, karena secara substansi memang tak ada paksaan dalam agama, maka pada level administratif ‘pun begitu.

Akhirnya, dakwah bukan diajarkan oleh Islam untuk ditegakkan dengan tak menghormati agama atau kepercayaan orang lain, melainkan sebaliknya: menunjukkan penghormatan yang sangat tinggi pada mereka sehingga mereka merasakan keluhuran dan kesempurnaan nilai-nilai Islam, yang dengan begitu akan menggugah hati mereka untuk mengetahui apa itu Islam dan itu berarti adalah dakwah: “menyampaikan kebenaran”. Adapun mereka akhirnya masuk dalam Islam atau tidak, itu sama sekali bukan urusan dan kuasa atau beban yang diberikan Allah atas kita. Karena bahkan pada Nabi sekalipun, yang diwajibkan hanya menyampaikan sebagaimana ditegaskan dalam QS. Al-Maidah: 92, yakni: “… sesungguhnya kewajiban Rasul Kami, hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.”

Print Friendly, PDF & Email
Continue Reading
You may also like...
Husein Ja'far Al Hadar

Sarjana, Peneliti, dan Penulis Keislaman.

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

More in Uncategorized

To Top